Peduli Nutrisi dan Sanitasi, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting
Kamis, 26 Agustus 2021 - 13:31 WIB
Ia menambahkan, pencegahan stunting bisa dilakukan dengan menjaga asupan nutrisi, tidak hanya untuk anak di dalam kandungan, bayi, maupun balita, tetapi juga remaja yang kelak akan menjadi calon orang tua.
Senada dengan pernyataan Eka, Nutrisionis Rindra Prameswari, atau akrab disapa Memes, mengatakan stunting sangat penting untuk dicegah karena tidak hanya menghambat pertumbuhan tetapi juga menyebabkan kematian anak.
“Dari penelitian yang ada, ternyata stunting itu 15-17 persennya menyebabkan kematian anak. Seandainya anak yang stunting ini selamat kelak akan kurang berprestasi di sekolah serta ketika beranjak dewasa ia akan kurang produktif sehingga tidak bisa bersaing dengan anak-anak yang tidak stunting di masa kecilnya,” ujar Memes.
Memes menambahkan, pencegahan stunting harus dimulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu dari masa konseptus atau masa pembuahan hingga usia 2 (dua) tahun. Ini merupakan periode awal di mana seorang anak harus diberikan gizi yang tepat.
“Asupan gizi yang diberikan harus memenuhi berupa zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro berupa protein, lemak, dan karbohidrat sedangkan zat gizi mikro berupa vitamin dan mineral,” kata Memes. Ia melanjutkan, zat gizi makro dan mikro bisa didapatkan dari makanan sehari-hari.
Sementara itu terkait pencegahan stunting Eka menyarankan harus dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan atau sanitasi. “Sanitasi ini sangat berpengaruh pada penyebab terjadinya stunting. Salah satu contohnya, perilaku buang air kecil dan buang air besar sembarangan menyebabkan bakteri di mana-mana dan menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya diare,” ucapnya.
Lebih lanjut, Eka menuturkan, diare yang berkepanjangan menyebabkan nutrisi tidak terserap dengan baik sehingga terjadilah kekurangan gizi.
Menjaga kebersihan, lanjut Eka, bisa dilakukan dari hal-hal sederhana seperti tidak buang air sembarangan, selalu mencuci tangan pakai sabun, menjaga makanan dan minuman dari sumber yang bersih, serta melaksanakan pengelolaan sampah dengan memilah sampah basah dan kering.
Dalam hal ini, sebisa mungkin sampah basah tidak didiamkan di dalam rumah karena dapat mencemari lingkungan. Selain itu, perlu dilakukan mengaturan pembuangan limbah agar lancar dan bersih.
Senada dengan pernyataan Eka, Nutrisionis Rindra Prameswari, atau akrab disapa Memes, mengatakan stunting sangat penting untuk dicegah karena tidak hanya menghambat pertumbuhan tetapi juga menyebabkan kematian anak.
“Dari penelitian yang ada, ternyata stunting itu 15-17 persennya menyebabkan kematian anak. Seandainya anak yang stunting ini selamat kelak akan kurang berprestasi di sekolah serta ketika beranjak dewasa ia akan kurang produktif sehingga tidak bisa bersaing dengan anak-anak yang tidak stunting di masa kecilnya,” ujar Memes.
Memes menambahkan, pencegahan stunting harus dimulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu dari masa konseptus atau masa pembuahan hingga usia 2 (dua) tahun. Ini merupakan periode awal di mana seorang anak harus diberikan gizi yang tepat.
“Asupan gizi yang diberikan harus memenuhi berupa zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro berupa protein, lemak, dan karbohidrat sedangkan zat gizi mikro berupa vitamin dan mineral,” kata Memes. Ia melanjutkan, zat gizi makro dan mikro bisa didapatkan dari makanan sehari-hari.
Sementara itu terkait pencegahan stunting Eka menyarankan harus dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan atau sanitasi. “Sanitasi ini sangat berpengaruh pada penyebab terjadinya stunting. Salah satu contohnya, perilaku buang air kecil dan buang air besar sembarangan menyebabkan bakteri di mana-mana dan menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya diare,” ucapnya.
Lebih lanjut, Eka menuturkan, diare yang berkepanjangan menyebabkan nutrisi tidak terserap dengan baik sehingga terjadilah kekurangan gizi.
Menjaga kebersihan, lanjut Eka, bisa dilakukan dari hal-hal sederhana seperti tidak buang air sembarangan, selalu mencuci tangan pakai sabun, menjaga makanan dan minuman dari sumber yang bersih, serta melaksanakan pengelolaan sampah dengan memilah sampah basah dan kering.
Dalam hal ini, sebisa mungkin sampah basah tidak didiamkan di dalam rumah karena dapat mencemari lingkungan. Selain itu, perlu dilakukan mengaturan pembuangan limbah agar lancar dan bersih.
Lihat Juga :