Covid-19 Bikin Sekarat Pabrik Rokok di Tulungagung
Jum'at, 29 Mei 2020 - 18:45 WIB
Ketiga PR yang mempekerjakan cukup banyak buruh linting asal Kota dan Kabupaten Kediri tersebut sama sama berlokasi di Desa Gesikan. Terutama PR Simustika yang berdekatan dengan PR Trubus, telah ditemukan 16 buruh asal Kota Kediri positif Covid-19. Tidak butuh waktu lama terjadi transmisi lokal. Sebanyak 13 orang yang merupakan keluarga dan tetangga buruh rokok, dinyatakan positif tertular.
Dalam waktu yang sama, 30 buruh asal Kabupaten Kediri juga dinyatakan positif Covid-19. Meski sempat berhenti sementara untuk keperluan rapid test massal, pabrik rokok Simustika kembali beroperasi.
Bahkan PR Trubus dan Margantara informasinya juga ditemukan kasus Covid-19 dan tidak berhenti beroperasi. Namun kendati demikian jumlah produksi rokok kretek linting tersebut kian merosot.
Diduga karena imbas banyaknya buruh pabrik rokok yang terinfeksi Covid-19, perusahaan rokok juga kesulitan menjual produk ke masyarakat. "Penurunan 30 persen. Dari 100 bal per hari menjadi 60 bal," terang Purwanto. Meski tetap beroperasi, Purwanto menegaskan perusahaan memberlakukan protokol kesehatan secara ketat di lingkungan pabrik.
Suhu badan setiap buruh yang hendak masuk pabrik dicek dengan thermal gun. Selain itu juga dilakukan penyemprotan desinfektan, menerapkan physical distancing termasuk mengenakan masker selama produksi. "Seribu persen kami belajar menerapkan itu (protokol kesehatan) agar pekerja bisa bekerja dengan tenang, kami sendiri (selaku pelaku usaha) juga tenang," papar Purwanto.
Dalam waktu yang sama, 30 buruh asal Kabupaten Kediri juga dinyatakan positif Covid-19. Meski sempat berhenti sementara untuk keperluan rapid test massal, pabrik rokok Simustika kembali beroperasi.
Bahkan PR Trubus dan Margantara informasinya juga ditemukan kasus Covid-19 dan tidak berhenti beroperasi. Namun kendati demikian jumlah produksi rokok kretek linting tersebut kian merosot.
Diduga karena imbas banyaknya buruh pabrik rokok yang terinfeksi Covid-19, perusahaan rokok juga kesulitan menjual produk ke masyarakat. "Penurunan 30 persen. Dari 100 bal per hari menjadi 60 bal," terang Purwanto. Meski tetap beroperasi, Purwanto menegaskan perusahaan memberlakukan protokol kesehatan secara ketat di lingkungan pabrik.
Suhu badan setiap buruh yang hendak masuk pabrik dicek dengan thermal gun. Selain itu juga dilakukan penyemprotan desinfektan, menerapkan physical distancing termasuk mengenakan masker selama produksi. "Seribu persen kami belajar menerapkan itu (protokol kesehatan) agar pekerja bisa bekerja dengan tenang, kami sendiri (selaku pelaku usaha) juga tenang," papar Purwanto.
Lihat Juga :