PPKM Darurat, Bus AKAP Banyak yang Dikandangkan
Senin, 26 Juli 2021 - 14:46 WIB
Menurut Tubagus, selama PPKM memang aturan pemberangkatan penumpang sangat ketat. "Penumpang harus mempunyai surat sudah divaksin jika belum maka harus menjalani tes antigen, sedangkan aturan Menteri Perhubungan kapasitas penumpang maksimal 50 persen," ujarnya.
Dia menyebutkan, pada masa PPKM ada salah satu perusahaan otobus (PO) jurusan Jakarta yang mengandangkan semua armadanya. Ini terpaksa dilakukan karena biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan.
Sementara, kata dia, kondisi operasional angkutan pedesaan (Angkudes) relatif masih baik dibandingkan bus AKAP. "Rata-rata armada angkudes yang beroperasi masih 75 persen dibanding sebelum PPKM. Meski diakui jumlah penumpang angkudes juga mengalami penurunan karena pembatasan dan PPKM," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua DPC Organda Kabupaten Semarang Hadi Mustofa mengatakan, sejak pandemi COVID-19, kondisi usaha transportasi umum baik penumpang maupun barang lesu. Untuk mencari pendapatan sesuai hitungan operasional sudah tidak bisa.
Sehingga banyak armada yang tidak dijalankan. "Sekarang kondisi usaha transportasi angkutan umum sangat memperihatinkan. Dari ratusahan unit angkutan umum di Kabupaten Semarang, yang masih beroperasional tinggal puluhan," katanya Baca juga: Semua Pihak Diharapkan Tak Manfaatkan Situasi di Tengah Pandemi
Dia menyebutkan, pada masa PPKM ada salah satu perusahaan otobus (PO) jurusan Jakarta yang mengandangkan semua armadanya. Ini terpaksa dilakukan karena biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatan.
Sementara, kata dia, kondisi operasional angkutan pedesaan (Angkudes) relatif masih baik dibandingkan bus AKAP. "Rata-rata armada angkudes yang beroperasi masih 75 persen dibanding sebelum PPKM. Meski diakui jumlah penumpang angkudes juga mengalami penurunan karena pembatasan dan PPKM," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua DPC Organda Kabupaten Semarang Hadi Mustofa mengatakan, sejak pandemi COVID-19, kondisi usaha transportasi umum baik penumpang maupun barang lesu. Untuk mencari pendapatan sesuai hitungan operasional sudah tidak bisa.
Sehingga banyak armada yang tidak dijalankan. "Sekarang kondisi usaha transportasi angkutan umum sangat memperihatinkan. Dari ratusahan unit angkutan umum di Kabupaten Semarang, yang masih beroperasional tinggal puluhan," katanya Baca juga: Semua Pihak Diharapkan Tak Manfaatkan Situasi di Tengah Pandemi
Lihat Juga :