Gelar Edukasi Online, Dokter Siloam Hospitals: Penting Kenali Nyeri di Kepala

Sabtu, 17 Juli 2021 - 20:40 WIB
Sementara untuk nyeri kepala tipe tegang, lanjutnya, ditandai rasa nyeri pada kedua sisi kepala dengan perasaan seperti ditindih beban berat. "Tingkat nyerinya sedang, namun tidak mengganggu aktifitas dengan durasi yang bervariasi," kata dokter ahli saraf ini. Baca juga: Disebut Raffi Sering Tidur Saat Hamil, Nagita Slavina: Kamu Tega Aku Sakit Kepala?

Adapun untuk nyeri kepala kuster, akan ditandai rasa nyeri pada satu sisi kepala yang umumnya di sekitar mata. Nyeri yang dirasakan terus-menerus, semakin berat hingga membuat pasien gelisah, durasi nyeri yang dirasakan sekitar 30 menit sampai 3 jam. "Gejala yang dialami adalah mata merah, hidung berair, berkeringat, kelopak mata bengkak," tuturnya.

Nah, bagaimana penanganan nyeri di kepala? Menurut dr. Riezky, terapi nyeri kepala dapat dibedakan menjadi terapi abortif, terapi preventif, dan terapi non obat. Terapi abortif, jelas dokter, bertujuan untuk mengobati episode nyeri kepala yang sedang dialami dengan menggunakan obat-obatan jenis analgesik atau antimuntah.

Selanjutnya, terapi preventif dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi dan lama serangan. "Terapi preventif diharapkan dapat meningkatkan respon pasien terhadap pengobatan sehingga pada akhirnya dapat mengurangi biaya pengobatan pasien," ujarnya.

Terapi non obat yang dapat dilakukan pasien nyeri kepala yaitu menghindari atau mengelola faktor pencetus nyeri kepala. Faktor pencetus antara lain perubahan pola tidur, makanan, stress, rutinitas, cuaca, lingkungan tempat tinggal. Terapi non obat bisa juga dengan melakukan teknik relaksasi, menghindari merokok, hindari konsumsi alkohol, serta mempertahankan kualitas tidur yang baik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!