Sejarah Bogor, Kota Tanpa Rasa Risau Tempat Istirahat Gubernur Jenderal Belanda hingga Soekarno

Minggu, 02 Mei 2021 - 06:04 WIB
Pemandangan dari balkon Hotel Bellevue (sekarang BTM) pada tahun 1860-an. Saat itu Gunung Salak tertutup kabut. Foto: @infobogor_news

Dikutip dari setneg.go.id, Minggu (2/5/2021), pada periode 1750-1754 Istana Kepresidenan Bogor mengalami rusak berat saat masa pemberontakan perang Banten di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang. Pasukan-pasukan Banten dengan gagah berani menyerang Kampong Baroe dan membakarnya. Kampong Baroe merupakan rumah peristirahatan Baron van Imhoff di Bogor yang dingin dan strategis. Tempat Baron van Imhoff yang sudah rusak berat diperbaiki kembali oleh penggantinya dengan tetap mempertahankan arsitektur asli.

Pada 1817, perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) di mana di tengah-tengah gedung induk didirikan menara dan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya Bogor.

Baca juga: Ini 4 Pendapat Soal Asal Usul Nama Bogor

Tahun 1856-1861, bangunan Istana Bogor selesai pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager. Kemudian, tahun 1870 Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para gubernur jenderal Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starckenborg Stachouwer, yang secara terpaksa harus menyerahkan istana kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang. Sebanyak 44 gubernur jenderal Belanda pernah menjadi penghuni Istana Kepresidenan Bogor.

Seperti juga gubernur jenderal Belanda, Presiden Soekarno menghabiskan akhir pekannya di Istana Bogor. Istana ini kemudian dirapikan Gubernur Jenderal Daendels. Dia juga membangun “Jalan Pos” di tengah-tengah medan tanjakan dengan menggunakan gerobak sapi untuk mengangkut bebatuan dan menghancurkan bukit-bukit.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!