Sukses Investasi Bitcoin, Sigit Tanoko Berbagi Tips dan Triknya
Rabu, 14 April 2021 - 09:53 WIB
Dia percaya kenaikan nilai tersebut bukan tanpa alasan, sebab Bitcoin memiliki nilai layaknya emas. "Dasar sifat inilah dan juga sifat Bitcoin yang terdesentralisasi yang menjadikan saya mulai mencoba mengelola dana pada aset digital ini," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews.
Diketahui, kepopuleran mata uang kripto ini berawal dengan melonjaknya harga Bitcoin (BTC) di tahun 2017 hingga mencapai Rp270.000.000 per BTC. Namun, siapa sangka nilainya turun menjadi sekitar Rp55.000.000 pada tahun berikutnya. Hari ini, harga bitcoin kembali melejit dan berada di kisaran 906 juta per BTC.
Sigit mengatakan, dirinya menggunakan metode Dollar Cost Averaging untuk menginvestasikan dananya pada Bitcoin. Dia berusaha mengalokasikan dananya dengan jumlah tertentu setiap bulannya untuk membeli Bitcoin. Lalu, ketika Indikator RSI dan Moving Average 200-Weekly menunjukkan nilai yang rendah dia justru membeli dengan jumlah yang banyak.
Dari cara tersebut, Sigit Tanoko berhasil menyiapkan dana sebesar Rp300.000.000 lebih. Namun, Sigit memilih untuk membagi dana tersebut dengan membeli sebuah mobil dan juga menyisihkan dana lain untuk kembali diinvestasikan. "Tentunya, investasi tersebut tidak hanya berpusat pada Bitcoin, tetapi juga pada altcoin lain seperti Ether," jelasnya.
Selain itu, Sigit Tanoko juga melakukan transaksi peer-to-peer (P2P) agar keuntungan yang didapatkan semakin besar. Dengan melakukan transaksi ini, ia berhasil mengambil keuntungan sebesar 15% darinya. Trik ini dilakukan dengan mengambil jeda harga Bitcoin di luar negeri dan di Indonesia. (Baca juga; Harga Bitcoin Naik Turun, Tetap Bisa "Cuan" Bila Dikelola Cermat )
Diketahui, kepopuleran mata uang kripto ini berawal dengan melonjaknya harga Bitcoin (BTC) di tahun 2017 hingga mencapai Rp270.000.000 per BTC. Namun, siapa sangka nilainya turun menjadi sekitar Rp55.000.000 pada tahun berikutnya. Hari ini, harga bitcoin kembali melejit dan berada di kisaran 906 juta per BTC.
Sigit mengatakan, dirinya menggunakan metode Dollar Cost Averaging untuk menginvestasikan dananya pada Bitcoin. Dia berusaha mengalokasikan dananya dengan jumlah tertentu setiap bulannya untuk membeli Bitcoin. Lalu, ketika Indikator RSI dan Moving Average 200-Weekly menunjukkan nilai yang rendah dia justru membeli dengan jumlah yang banyak.
Dari cara tersebut, Sigit Tanoko berhasil menyiapkan dana sebesar Rp300.000.000 lebih. Namun, Sigit memilih untuk membagi dana tersebut dengan membeli sebuah mobil dan juga menyisihkan dana lain untuk kembali diinvestasikan. "Tentunya, investasi tersebut tidak hanya berpusat pada Bitcoin, tetapi juga pada altcoin lain seperti Ether," jelasnya.
Selain itu, Sigit Tanoko juga melakukan transaksi peer-to-peer (P2P) agar keuntungan yang didapatkan semakin besar. Dengan melakukan transaksi ini, ia berhasil mengambil keuntungan sebesar 15% darinya. Trik ini dilakukan dengan mengambil jeda harga Bitcoin di luar negeri dan di Indonesia. (Baca juga; Harga Bitcoin Naik Turun, Tetap Bisa "Cuan" Bila Dikelola Cermat )
Lihat Juga :