Komisi B DPRD Jatim Tolak Rencana Impor Beras 1 Juta Ton
Sabtu, 20 Maret 2021 - 10:41 WIB
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Ahmad Athoillah. Foto SINDOnews
SURABAYA - Rencana pemerintah pusat mengimpor beras 1 juta ton mendapat kritikan dari sejumlah kalangan, termasuk dari anggota Komisi B DPRD Jawa Timur (Jatim) Ahmad Athoillah.
"Jika pemerintah sampai impor beras, sama halnya "membunuh" petani lokal. Akibatnya akan membuat harga beras petani lokal bakal jatuh, dan tidak terserap di pasaran," kata Ahmad, Sabtu (20/3/2021). Baca juga: Pemerintah Akan Impor Beras di Tengah Anjloknya Harga Gabah, Ini Sikap Gubernur Jateng
Dia menilai, kebijakan pemerintah pusat terkait impor beras bakal merugikan petani lokal. Dia menyarankan sebaiknya pemerintah menyerap beras berasal dari wilayah Indonesia. Misalnya Jatim yang selama ini menjadi lumbung pangan nasional.
"Produksi padi di Jatim selama ini menyumbang tertinggi nasional. Apa gunanya Jatim sebagai lumbung pangan nasional, jika pemerintah impor beras. Tentu petani lokal bakal dirugikan," jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Jatim pada kuartal ketiga 2020, ada peningkatan produksi padi di Jatim sebesar 0,44 juta ton, dari 9,58 juta ton pada tahun 2019 menjadi 10,02 juta ton pada 2020.
Surplus ini menempatkan Jatim sebagai produsen padi terbesar di Indonesia tahun 2020. "Bahkan, hasil produksi padi di Jatim memiliki peran penting terhadap stok pangan di 16 provinsi di Indonesia bagian timur," ujar Atho'.
"Jika pemerintah sampai impor beras, sama halnya "membunuh" petani lokal. Akibatnya akan membuat harga beras petani lokal bakal jatuh, dan tidak terserap di pasaran," kata Ahmad, Sabtu (20/3/2021). Baca juga: Pemerintah Akan Impor Beras di Tengah Anjloknya Harga Gabah, Ini Sikap Gubernur Jateng
Dia menilai, kebijakan pemerintah pusat terkait impor beras bakal merugikan petani lokal. Dia menyarankan sebaiknya pemerintah menyerap beras berasal dari wilayah Indonesia. Misalnya Jatim yang selama ini menjadi lumbung pangan nasional.
"Produksi padi di Jatim selama ini menyumbang tertinggi nasional. Apa gunanya Jatim sebagai lumbung pangan nasional, jika pemerintah impor beras. Tentu petani lokal bakal dirugikan," jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistika (BPS) Jatim pada kuartal ketiga 2020, ada peningkatan produksi padi di Jatim sebesar 0,44 juta ton, dari 9,58 juta ton pada tahun 2019 menjadi 10,02 juta ton pada 2020.
Surplus ini menempatkan Jatim sebagai produsen padi terbesar di Indonesia tahun 2020. "Bahkan, hasil produksi padi di Jatim memiliki peran penting terhadap stok pangan di 16 provinsi di Indonesia bagian timur," ujar Atho'.
Lihat Juga :