Jejak Peradaban Eropa Abad ke-19 di Delta Mahakam, dari Keramik hingga Botol
Sabtu, 09 Januari 2021 - 05:00 WIB
Padahal, Delta Mahakam merupakan habitat buaya. Di sekitar tempat ini, banyak ditemukan buaya sedang berjemur sambil membuka mulut. Belum diketahui asal keramik sebanyak ini. Penduduk desa percaya keramik ini dari bekas toko-toko warga Tianghoa di sekitar lokasi. Penduduk lain percaya, keramik tersebut dibawa oleh penjajah Belanda.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa Sepatin, Tindarman menceritakan, informasi yang banyak dipercaya penduduk adalah tempat ini merupakan perkampungan awal di Desa Sepatin yang sudah tidak ditinggali lagi. “Informasi dari orang tua dulu, disini adalah perkampungan besar, ketika dari orang luar mau masuk ke Samarinda harus lewat daerah sini. Di sini juga dulu dipercaya banyak pedagang Cina yang membangun toko,” ujar Tindarman.
Uniknya, kebanyakan keramik dan barang pecah belah berasal dari eropa. Timbul pertanyaan, kalau kawasan itu merupakan toko Tionghoa atau perkampungan awal Desa Sepatin, kenapa banyak sekali perkakas asal eropa. (Baca Juga: Gereja Katedral Santo Petrus, Dibangun 1921 Saksi Perjalanan Keuskupan di Bandung)
SINDONEWS.com mencoba mengambil salah satu pecahan keramik. Dari hasil penelusuran, keramik itu diketahui sebagai keramik Eropa yang lazim diproduksi pada abad ke-19 Masehi.Ada juga serpihan keramik sekilas mirip buatan China abad ke-16. Label yang masih jelas terbaca adalah Petrus Regout Maastricht. Label Petrus Regout Maastricht merujuk pada nama Petrus Regout (1801-1878), pedagang kaca dan gerabah di Kota Maastricht, Belanda. Ada juga label Société Céramique. Label ini merujuk pada sebuah perusahaan tembikar Belanda yang berdiri pada tahun 1863 dan Keramik buatan Jerman dengan tulisan “Made in Germany” buatan Bremen Germany tahun 1890.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa Sepatin, Tindarman menceritakan, informasi yang banyak dipercaya penduduk adalah tempat ini merupakan perkampungan awal di Desa Sepatin yang sudah tidak ditinggali lagi. “Informasi dari orang tua dulu, disini adalah perkampungan besar, ketika dari orang luar mau masuk ke Samarinda harus lewat daerah sini. Di sini juga dulu dipercaya banyak pedagang Cina yang membangun toko,” ujar Tindarman.
Uniknya, kebanyakan keramik dan barang pecah belah berasal dari eropa. Timbul pertanyaan, kalau kawasan itu merupakan toko Tionghoa atau perkampungan awal Desa Sepatin, kenapa banyak sekali perkakas asal eropa. (Baca Juga: Gereja Katedral Santo Petrus, Dibangun 1921 Saksi Perjalanan Keuskupan di Bandung)
SINDONEWS.com mencoba mengambil salah satu pecahan keramik. Dari hasil penelusuran, keramik itu diketahui sebagai keramik Eropa yang lazim diproduksi pada abad ke-19 Masehi.Ada juga serpihan keramik sekilas mirip buatan China abad ke-16. Label yang masih jelas terbaca adalah Petrus Regout Maastricht. Label Petrus Regout Maastricht merujuk pada nama Petrus Regout (1801-1878), pedagang kaca dan gerabah di Kota Maastricht, Belanda. Ada juga label Société Céramique. Label ini merujuk pada sebuah perusahaan tembikar Belanda yang berdiri pada tahun 1863 dan Keramik buatan Jerman dengan tulisan “Made in Germany” buatan Bremen Germany tahun 1890.
Lihat Juga :