Semburan Lumpur Gunung Anyar, Warisan Geologi di Kota Surabaya

Jum'at, 08 Januari 2021 - 17:30 WIB
Berdasarkan data dari Indonesian Petroleum Association IPA (2006) yang membuat buku atlas peta minyak dan gas bumi di wilayah Indonesia sejak zaman Belanda menyebut, dalam peta tersebut bahwa lokasi Gunungnanyar berada di kawasan lapangan minyak Kutianyar milik Belanda yang mulai ditambang sejak 1888 dan ditinggalkan pada tahun 1937. Lapangan Kuti-Anyar (Kutisari – Gununganyar) meliputi kawasan Kutisari dan Gununganyar.

Sedangkan data kementerian ESDM menunjukkan, ada ratusan jumlah sumur bor minyak yang ada di lapangan KutiAnyar ini. Kedalaman bor pada zaman Belanda tidak sampai 300 meter. Laporan ini juga menyebutkan adanya semburan lumpur di Lidah dan semburan minyak di Semolowaru.

(Baca juga: PSBB, Kapasitas Pengunjung Resto dan Warkop di Surabaya Dibatasi Maksimal 25% )

"Ini berarti semburan lumpur Gununganyar sudah ada sejak tahun 1888, atau bahkan mungkin sebelumnya. Sebab semburan lumpur termasuk salah satu fenomena atau manivestasi adanya sumber daya minyak dan gas di kawasan tersebut," katanya.

Belanda melakukan eksploitasi minyak di kawasan ini atas dasar munculnya semburan lumpur di beberapa tempa di kawasan Gununganyar dan Kutisari. Seperti disebutkan sebelumnya, teknologi pengeboran waktu itu hanya kedalaman 300an meter, padahal semburan lumpur lapindo terjadi pada kedalaman 3000an meter.

"Oleh karenanya semburan Gununganyar tidak ada hubungan dengan semburan lumpur lapindo," tegas dia. (Baca juga: Gunung Anyar, Gunung dengan Semburan Lumpur di Tengah Perkampungan Surabaya )
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!