Atasi Pandemi Covid-19, Hong Kong Racik Tiga Obat Mujarab
Senin, 11 Mei 2020 - 09:26 WIB
Dia mengatakan, pengalaman bertahun-tahun menggunakan obat HIV-AIDS ternyata dengan kombinasi obat lain bisa digunakan untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Hal senada diungkapkan Sarah Shalhoub, pakar penyakit menular dari Universitas Western di Kanada. “Kajian itu menunjukkan adanya langkah maju dalam menemukan terapi untuk penyakit virus corona,” katanya.
Para peneliti di Hong Kong kini juga sedang melaksanakan uji coba efektivitas remdesivir, obat yang awalnya dikembangkan untuk Ebola, tetapi kini digunakan untuk merawat pasien Covid-19. Beberapa waktu lalu Badan Obat dan Makanan AS (FDA) telah memerintahkan penggunaan obat remdesivir untuk merawat pasien Covid-9.
Rekomendasi tersebut dikeluarkan setelah uji klinis terbaru menunjukkan obat tersebut bisa memulihkan pasien yang terinfeksi virus corona. Namun, obat tersebut sebenarnya tidak terlalu meningkatkan faktor keselamatan pasien corona.
Para pakar pun memperingatkan agar obat Ebola yang diproduksi perusahaan farmasi Gilead di California agar tidak disebut sebagai “senjata magis” bagi pasien corona. Obat itu memiliki kemampuan mengintervensi gen virus dan merusak kemampuan virus untuk berkembang. CEO Gilead Daniel O'Day mengungkapkan, perintah FDA itu merupakan langkah penting dalam penanganan Covid-19. “Perusahaan akan mendonasikan 1,5 juta obat tersebut,” katanya, dilansir BBC.
Komisioner FDA Stephen Hahn mengungkapkan, pertama kalinya obat Covid-19 secara resmi diumumkan kepada publik. “Kita sangat bangga menjadi bagian hal tersebut,” ujarnya. Meski demikian, saran FDA bukan persetujuan formal karena harus membutuhkan kajian yang lebih tinggi.
Uji klinis remdesivir dilaksanakan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) AS yang menemukan obat tersebut mampu menurunkan durasi gejala Covid-19 dari 15 hari menjadi 11 hari. Uji coba itu dilakukan kepada 1.063 orang di rumah sakit di seluruh dunia, termasuk AS, Prancis, Italia, Inggris, China, dan Korea Selatan. “Remdesivir memiliki dampak signifikan dan positif untuk pemulihan pasien Covid-19,” kata Direktur NIAID Anthony Fauci.
Para peneliti di Hong Kong kini juga sedang melaksanakan uji coba efektivitas remdesivir, obat yang awalnya dikembangkan untuk Ebola, tetapi kini digunakan untuk merawat pasien Covid-19. Beberapa waktu lalu Badan Obat dan Makanan AS (FDA) telah memerintahkan penggunaan obat remdesivir untuk merawat pasien Covid-9.
Rekomendasi tersebut dikeluarkan setelah uji klinis terbaru menunjukkan obat tersebut bisa memulihkan pasien yang terinfeksi virus corona. Namun, obat tersebut sebenarnya tidak terlalu meningkatkan faktor keselamatan pasien corona.
Para pakar pun memperingatkan agar obat Ebola yang diproduksi perusahaan farmasi Gilead di California agar tidak disebut sebagai “senjata magis” bagi pasien corona. Obat itu memiliki kemampuan mengintervensi gen virus dan merusak kemampuan virus untuk berkembang. CEO Gilead Daniel O'Day mengungkapkan, perintah FDA itu merupakan langkah penting dalam penanganan Covid-19. “Perusahaan akan mendonasikan 1,5 juta obat tersebut,” katanya, dilansir BBC.
Komisioner FDA Stephen Hahn mengungkapkan, pertama kalinya obat Covid-19 secara resmi diumumkan kepada publik. “Kita sangat bangga menjadi bagian hal tersebut,” ujarnya. Meski demikian, saran FDA bukan persetujuan formal karena harus membutuhkan kajian yang lebih tinggi.
Uji klinis remdesivir dilaksanakan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) AS yang menemukan obat tersebut mampu menurunkan durasi gejala Covid-19 dari 15 hari menjadi 11 hari. Uji coba itu dilakukan kepada 1.063 orang di rumah sakit di seluruh dunia, termasuk AS, Prancis, Italia, Inggris, China, dan Korea Selatan. “Remdesivir memiliki dampak signifikan dan positif untuk pemulihan pasien Covid-19,” kata Direktur NIAID Anthony Fauci.
Lihat Juga :