Malam di Dolly dan Kerlip Rezeki yang Abadi

Selasa, 17 November 2020 - 08:09 WIB
Setiap hari, ia bisa meraup keuntungan Rp4 juta. Belum lagi ditambah dengan pesanan dari luar yang juga terus berdatangan. Di bekas kawasan “zona merah” itu, jalan rezeki masyarakat masih bisa terjaga setelah lokalisasi Dolly resmi ditutup.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, keputusan terbesar dan terberat selama dirinya menjadi wali kota adalah menutup lokalisasi Dolly. Semua keberanian dan keyakinan mengiringi proses penutupan lokalisasi Dolly. Baginya, penutupan lokalisasi itu merupakan langkah yang berat dan berisiko. Namun, seiring dengan keberanian dan dukungan dari berbagai pihak, ia berhasil melewati prahara tersebut. “Saya sampai mendapat ancaman pembunuhan setiap hari. Saya bersyukur bisa melewati semua itu,” jelasnya.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini kembali mengungkapkan alasan menutup kawasan yang dulunya menjadi tempat lokalisasi. Bagi Risma, tidak ada tujuan lain saat ia menutup kawasan ini hanya untuk menyelamatkan masa depan anak-anak.

“Banyak teror yang saya terima dulu ketika menutup Dolly. Terima kasih kepada warga Putat Jaya. Saya juga mohon maaf terpaksa dulu saya harus menutup kawasan ini. Karena saya melihat masa depan anak-anak akan terganggu kalau kondisinya seperti itu,” katanya. (Baca juga: Permintaan Pembiayaan dari Korporasi Meningkat)

Risma pun mengakui saat itu sangat berat mengambil keputusan. Namun, hal itu harus dilakukannya untuk menyelamatkan anak-anak Surabaya. Bahkan, ia mengaku mendapat berbagai ancaman saat akan menutup kawasan lokalisasi ini kala itu. “Meski saat itu berat sekali untuk saya menutup, yakinlah ini untuk masa depan anak-anak, tidak ada hal lain kecuali itu,” tandasnya.

Perjalanan waktu mengubah wajah Dolly. Eks lokalisasi Dolly kini telah menjelma menjadi salah satu sentra UMKM di Surabaya. Produk dari warga di eks lokalisasi Dolly ini pun telah memasuki berbagai pangsa pasar.

Warga eks lokalisasi Dolly yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya terus memproduksi sepatu dan sandal, termasuk sandal hotel yang sudah bekerja sama dengan mereka. UMKM ini menempati sebuah gedung besar dan tinggi yang dulunya merupakan salah satu wisma prostitusi terbesar di Gang Dolly. Ada juga DS Point terus membuat makanan ringan dan minuman khas UMKM Dolly.

Atik, Koordinator KUB Mampu Jaya, mengaku bersyukur dengan kondisi Dolly saat ini. Ia dan para warga lainnya bisa mandiri dan terus memproduksi sepatu maupun sandal. Mereka tak lagi menjadi pengangguran. “Banyak warga di sini yang kami libatkan dan kini setiap hari mereka bisa berpenghasilan,” kata Atik.

Kawasan eks lokalisasi Dolly dan Jarak menjadi sebuah kawasan yang produktif. Berbagai perubahan terjadi pasca ditutup enam tahun silam. Baik perubahan dari aspek sosial maupun ekonomi. Tempat yang dulunya ramai berjajar wisma prostitusi, kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah kampung yang produktif. Suara burung love bird pun terus bersahutan dari pasar burung yang kini sudah berdiri megah di Dolly.

Tercatat, saat ini terdapat 23 kelompok UMKM di kawasan Dolly. Rinciannya, untuk produk olahan batik berjumlah empat kelompok UKM, yaitu Jarak Arum, Alpujabar, Canting Surya, dan Warna Ayu. (Baca juga: Erdogan tawarkan Solusi Dua Negara Terpisah untuk Siprus)

Sementara itu, untuk olahan makanan dan minuman berjumlah 13 UMKM dengan rincian, yaitu TBM Kawain, Olahan Bandeng, Jarwo Tempe, Sami Jali, Pangsit Hijau, Cak Mimin Rujak, UKM Puja dengan produksi telur dan botok telur asin, UKM Squel dengan olahan keripik, UMKM Vigts dengan produksi jamu herbal, Gendis dengan produksi bumbu pecel, UKM Henrik dengan olahan semanggi dan es puter serta olahan minuman dari rumput laut.

Sementara untuk usaha industri kreatif di tempat ini berjumlah lima kelompok. Rinciannya, yaitu KUB Mampu Jaya produksi sandal, sepatu dan goody bag, sablon, minyak rambut, phomade dan semir, handycraft dan usaha dalam bentuk lukisan.

Para warga di Dolly juga menyiapkan pasokan barang untuk industri sabun rumahan. Mereka tidak hanya produk sandal dan goody bag, tapi juga menawarkan berbagai sandal serta kebutuhan lainnya di hotel.

Selain pemberdayaan bagi PSK dan mucikari, sektor keluarga juga dilibatkan secara aktif. Para suami dan istri diberdayakan agar keluarga mereka lebih produktif dan kesejahteraan keluarganya terus meningkat. Salah satunya optimalisasi Dolly Saiki Point, sebuah tempat yang khusus dijadikan sebagai pusat oleh-oleh penjualan berbagai produk UMKM dari seluruh warga sekitaran Dolly. (Lihat videonya: Arab Saudi Tutup Kembali Izin Umrah untuk Jamaah Indonesia)

Saat malam bergegas pergi, masih saja ada kehidupan di Dolly sampai pagi. Memang, tidak ada kunang-kunang malam ini di sepanjang Jalan Jarak dan Girilaya. Saur terdengar riang dari salah satu kedai kopi tembang lagu yang dibawakan Band Folk Jazz Surabaya, Silampukau yang suaranya mampu membunuh dinginnya malam.

Dolly...Yang menyala-nyala di puncak kota; Yang sembunyi di sudut jalang jiwa; Pria Surabaya; Dulu......Di temaram jambon gang sempit itu; Aku mursal masuk, keluar, dan utuh; Sebagai lelaki..... (Aan Haryono)
Halaman :
tulis komentar anda
Follow
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More