Wawali Whisnu Sakti: Pemimpin Surabaya Harus Memiliki Fasilitative Leadership

Minggu, 15 November 2020 - 20:48 WIB
Sebagai kota dengan kultur egaliter yang didominasi perkampungan, pemimpin Surabaya kedepan harus memiliki istilah telinga lebar. Yakni, mau mendengar dan mengajak masyarakat untuk melakukan problem solving bersama.

Sebab, peran serta masyarakat perkampungan sudah cukup mandiri. Itu dibuktikan dari program-program Pemkot sejak era Bambang DH hingga Risma. Program pavingisasi, pemberdayaan UKM Kampung Lontong, Kampung Dinamo, hingga penataan taman menjadi bukti bahwa Surabaya layak sebagai yang patut dicontoh.

WS menambahkan, bagaimana rencana program membumikan Tri Sakti Bung Karno yang digagasnya pada 10 November tahun lalu saat running dalam pencalonan sebagai Wali Kota Surabaya , bisa menjadi keberlanjutan.

Program tersebut diantaranya, Berdaulat secara politik yang melibatkan warga kampung untuk bisa mengembangkan potensi kampung sebagai identitas kultur Surabaya . (Baca juga: Tantang Polisi Mabuk dan Menangkapnya, Pembuat Konten Ini Tak Berkutik Saat Dibekuk )

Berdikari secara ekonomi, dengan penataan UKM dan PKL yang mampu membuat warga Surabaya mandiri. Serta Berkepribadian dalam Budaya, untuk melibatkan peran serta warga, pemuda, seniman dalam Festival Aspirasi. "Jika ini dilakukan oleh Pemimpin selanjutnya, siapapun yang terpilih. Bisa menjadikan Surabaya lebih berkembang," kata dia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!