Mas-mas TRIP Berjuang Hingga Akhir Zaman...
Minggu, 01 November 2020 - 05:46 WIB
Suara dentuman meriam, dan rentetan tembakan senapan mesin dari pasukan Belanda, dengan dukungan penuh pasukan sekutu. Masih jelas terngiang diingatan para mantan anggota Batalyon 5000 TRIP Jawa Timur.
Pembentukan TRIP sendiri, terjadi pada tahun 1946. Tepatnya, pasca terjadinya pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya. Awalnya, merupakan tentara pelajar. Saat setelah pertempuran di Surabaya, akhirnya dibentuklah TRIP, yang terdiri dari lima batlayon. Semuanya tergabung dalam Brigade 17 Jawa Timur.
Saat Belanda, terus berupaya bergerak menguasai Jawa Timur. Mereka masuk dari Surabaya, dan Panarukan, Banyuwangi. Bergerak masuk menuju ke Malang, dengan kekuatan pasukan besar, yang dilengkapi senjata berat, dan dukungan pesawat tempur.
Para pemuda ini ikut terpanggil mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dengan bergabung dalam pasukan TRIP , yang bertugas di garis depan. Saat itu, pemuda dari berbagai daerah yang masih bersatus sebagai pelajar berani berada di garis depan pertempuran.
Saat terjadi pertempuran heroik di Jalan Salak, yang bertugas di pusat pertahanan di dalam Kota Malang, lebih banyak diisi oleh anggota-anggota TRIP yang baru saja dimobilisasi. Mereka rata-rata adalah pelajar setingkat SMP. Tetapi, mereka tidak pernah gentar menghadapi tank-tank Belanda.
Bahkan, Susanto, salah satu komandan TRIP yang turut gugur dalam pertempuran di Jalan Salak. Secara gagah berani melawan tank Belanda, menaikinya, lalu menembaki musuh yang ada di dalam mesin perang tersebut, hanya bersenjatakan pistol. (Baca juga: Mengintip Petilasan Ken Dedes, Ibu Para Raja Nusantara )
Pasca perang mempertahankan kemerdekaan, para prajurit TRIP ini tidak putus untuk terus berjuang menjaga kedaulatan Indonesia. Mereka bukan hanya melanjutkan perjuangan melalui jalur militer, banyak juga yang menyebar menjadi guru, dan berbagai profesi untuk mengisi kemerdekaan.
Pembentukan TRIP sendiri, terjadi pada tahun 1946. Tepatnya, pasca terjadinya pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya. Awalnya, merupakan tentara pelajar. Saat setelah pertempuran di Surabaya, akhirnya dibentuklah TRIP, yang terdiri dari lima batlayon. Semuanya tergabung dalam Brigade 17 Jawa Timur.
Saat Belanda, terus berupaya bergerak menguasai Jawa Timur. Mereka masuk dari Surabaya, dan Panarukan, Banyuwangi. Bergerak masuk menuju ke Malang, dengan kekuatan pasukan besar, yang dilengkapi senjata berat, dan dukungan pesawat tempur.
Para pemuda ini ikut terpanggil mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dengan bergabung dalam pasukan TRIP , yang bertugas di garis depan. Saat itu, pemuda dari berbagai daerah yang masih bersatus sebagai pelajar berani berada di garis depan pertempuran.
Saat terjadi pertempuran heroik di Jalan Salak, yang bertugas di pusat pertahanan di dalam Kota Malang, lebih banyak diisi oleh anggota-anggota TRIP yang baru saja dimobilisasi. Mereka rata-rata adalah pelajar setingkat SMP. Tetapi, mereka tidak pernah gentar menghadapi tank-tank Belanda.
Bahkan, Susanto, salah satu komandan TRIP yang turut gugur dalam pertempuran di Jalan Salak. Secara gagah berani melawan tank Belanda, menaikinya, lalu menembaki musuh yang ada di dalam mesin perang tersebut, hanya bersenjatakan pistol. (Baca juga: Mengintip Petilasan Ken Dedes, Ibu Para Raja Nusantara )
Pasca perang mempertahankan kemerdekaan, para prajurit TRIP ini tidak putus untuk terus berjuang menjaga kedaulatan Indonesia. Mereka bukan hanya melanjutkan perjuangan melalui jalur militer, banyak juga yang menyebar menjadi guru, dan berbagai profesi untuk mengisi kemerdekaan.
Lihat Juga :