Kisah Penculikan Gubernur Bali Sutedja, Jejaknya hingga Kini Belum Terungkap
Minggu, 04 Oktober 2020 - 05:00 WIB
Penjemput yang berpangkat sersan satu menjawab "Bapak Gubernur diminta datang oleh Kapten Teddy di Jalan Perwira, Medan Merdeka". Tempat yang dimaksud adalah Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka, Jakarta.
Karena tamu yang datang bertutur kata sangat sopan, Sutedja yang ketika itu berusia 43 tahun sama sekali tidak menaruh curiga. Ia menyatakan bersedia dan segera mempersiapkan diri dengan berpakaian rapi. (Baca juga: Kapal Pengangkut Solar Ilegal Ditangkap di Selat Singapura)
Sebelum naik mobil, Sutedja tak lupa pamit dengan istrinya. Sebelum mobil jemputan meninggalkan rumah, Sunitri mencatat pelat nomor mobil yang membawa suaminya. Tapi dia lupa menanyakan surat tugas penjemput suaminya.
Di dalam mobil, Sutedja yang berkemeja lengan panjang biru muda dipadu celana panjang 'kheki' dan sepatu hitam duduk di kursi tengah. Sementara tiga pria dengan seragamtentara duduk di kursi paling belakang.
Sutedja Sutedja diangkat menjadi Gubernur Bali pada 1959. Dia ditugaskan di Jakarta sejak 1 Desember 1965 karena dipanggil oleh Presiden Sukarno berdasarkan SK Nomor 380/1965. Dia berkantor di Kementerian Dalam Negeri dan Dewan Pertimbangan Agung.
Malam harinya, Sutedja tak kunjung pulang dan tidak ada kabar. Pihak keluarga mulai curiga. Pukul 23.00 WIB, Sunitri ditemani staf kementerian pertanian MAE Sutedja membuat laporan ke polisi.
Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka justru mengaku tidak pernah menjadwalkan berkoordinasidengan Sutedja. Nama Kapten Teddy yang disebut tim penjemput Sutedja juga tidak dikenal di Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka. Nomor jeep militer yang dipakai menjemput juga tidak tercatat di Garnizun.
Karena tamu yang datang bertutur kata sangat sopan, Sutedja yang ketika itu berusia 43 tahun sama sekali tidak menaruh curiga. Ia menyatakan bersedia dan segera mempersiapkan diri dengan berpakaian rapi. (Baca juga: Kapal Pengangkut Solar Ilegal Ditangkap di Selat Singapura)
Sebelum naik mobil, Sutedja tak lupa pamit dengan istrinya. Sebelum mobil jemputan meninggalkan rumah, Sunitri mencatat pelat nomor mobil yang membawa suaminya. Tapi dia lupa menanyakan surat tugas penjemput suaminya.
Di dalam mobil, Sutedja yang berkemeja lengan panjang biru muda dipadu celana panjang 'kheki' dan sepatu hitam duduk di kursi tengah. Sementara tiga pria dengan seragamtentara duduk di kursi paling belakang.
Sutedja Sutedja diangkat menjadi Gubernur Bali pada 1959. Dia ditugaskan di Jakarta sejak 1 Desember 1965 karena dipanggil oleh Presiden Sukarno berdasarkan SK Nomor 380/1965. Dia berkantor di Kementerian Dalam Negeri dan Dewan Pertimbangan Agung.
Malam harinya, Sutedja tak kunjung pulang dan tidak ada kabar. Pihak keluarga mulai curiga. Pukul 23.00 WIB, Sunitri ditemani staf kementerian pertanian MAE Sutedja membuat laporan ke polisi.
Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka justru mengaku tidak pernah menjadwalkan berkoordinasidengan Sutedja. Nama Kapten Teddy yang disebut tim penjemput Sutedja juga tidak dikenal di Markas Staf Komando Garnizun Medan Merdeka. Nomor jeep militer yang dipakai menjemput juga tidak tercatat di Garnizun.
Lihat Juga :