UMB Bangun Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu di Pondok Kelor Tangerang
Rabu, 15 Juli 2026 - 06:48 WIB
Karang Taruna setempat memperoleh dukungan teknologi untuk mengelola sampah berbasis masyarakat dan menggerakkan penanaman kelor. Sedangkan kelompok usaha pangan lokal menerima peralatan produksi serta pendampingan manajemen usaha, literasi keuangan, dan peningkatan mutu produk.
Program ini dijalankan oleh tim multidisiplin Universitas Mercu Buana yang dipimpin Desiana Vidayanti bersama Dr Dewi Murtiningsih, Oties T Tsarwan, serta Sri Hesti dari Universitas Dian Nusantara (UNDIRA). Mahasiswa UMB juga dilibatkan sebagai fasilitator dalam pelatihan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi kegiatan.
Kepala Desa Pondok Kelor Junaedi mengatakan program tersebut menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini belum memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu. "Kami berharap pendampingan dari UMB menjadi awal terbentuknya sistem yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang," ungkapnya.
Program Pemberdayaan Desa Binaan ini dirancang berlangsung selama tiga tahun. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan sistem pengelolaan sampah, gerakan tanam kelor, dan penguatan kelompok usaha pangan lokal. Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan usaha dan penguatan kelembagaan agar program dapat berlanjut secara mandiri.
Melalui program ini, UMB berharap Desa Pondok Kelor tidak hanya memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, tetapi juga mampu menghidupkan kembali kelor sebagai identitas desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Model pemberdayaan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa peri-urban lain yang menghadapi persoalan serupa.
Program ini dijalankan oleh tim multidisiplin Universitas Mercu Buana yang dipimpin Desiana Vidayanti bersama Dr Dewi Murtiningsih, Oties T Tsarwan, serta Sri Hesti dari Universitas Dian Nusantara (UNDIRA). Mahasiswa UMB juga dilibatkan sebagai fasilitator dalam pelatihan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi kegiatan.
Kepala Desa Pondok Kelor Junaedi mengatakan program tersebut menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini belum memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu. "Kami berharap pendampingan dari UMB menjadi awal terbentuknya sistem yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang," ungkapnya.
Program Pemberdayaan Desa Binaan ini dirancang berlangsung selama tiga tahun. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan sistem pengelolaan sampah, gerakan tanam kelor, dan penguatan kelompok usaha pangan lokal. Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan usaha dan penguatan kelembagaan agar program dapat berlanjut secara mandiri.
Melalui program ini, UMB berharap Desa Pondok Kelor tidak hanya memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, tetapi juga mampu menghidupkan kembali kelor sebagai identitas desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Model pemberdayaan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa peri-urban lain yang menghadapi persoalan serupa.
(jon)
Lihat Juga :