UMB Bangun Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu di Pondok Kelor Tangerang
Rabu, 15 Juli 2026 - 06:48 WIB
loading...
Upaya mengatasi persoalan sampah dan mengembalikan identitas lokal Desa Pondok Kelor, Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, mulai diwujudkan melalui program pemberdayaan masyarakat yang digagas UMB. Foto: Ist
A
A
A
TANGERANG - Upaya mengatasi persoalan sampah dan mengembalikan identitas lokal Desa Pondok Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, mulai diwujudkan melalui program pemberdayaan masyarakat yang digagas Universitas Mercu Buana (UMB).
Program tersebut memadukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, penguatan usaha pangan lokal, serta gerakan penanaman kelor yang selama ini menjadi ciri khas desa.
Baca juga: Pemerintah Paksa Daerah Hentikan Open Dumping Sampah dengan Skema Stick and Carrot
Program ini memasuki tahap pelaksanaan setelah Universitas Mercu Buana menyerahkan sejumlah peralatan Teknologi Tepat Guna (TTG) kepada Karang Taruna Desa Pondok Kelor dan kelompok usaha pangan lokal yang berada di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada Jumat (10/7/2026). Penyerahan peralatan tersebut menjadi langkah awal penerapan sistem pemberdayaan yang telah dipersiapkan melalui proses pendampingan sejak April 2026.
Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Mercu Buana Desiana Vidayanti menjelaskan bahwa teknologi yang diberikan bukan sekadar bantuan peralatan melainkan bagian dari sistem yang dirancang agar dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
"Hari ini bukan sekadar penyerahan alat, tetapi awal implementasi sistem yang telah kami bangun bersama masyarakat. Kami berharap pengelolaan sampah semakin tertata, usaha pangan lokal berkembang, dan identitas Desa Pondok Kelor sebagai desa kelor dapat hidup kembali," ujarnya.
Karang Taruna setempat memperoleh dukungan teknologi untuk mengelola sampah berbasis masyarakat dan menggerakkan penanaman kelor. Sedangkan kelompok usaha pangan lokal menerima peralatan produksi serta pendampingan manajemen usaha, literasi keuangan, dan peningkatan mutu produk.
Program ini dijalankan oleh tim multidisiplin Universitas Mercu Buana yang dipimpin Desiana Vidayanti bersama Dr Dewi Murtiningsih, Oties T Tsarwan, serta Sri Hesti dari Universitas Dian Nusantara (UNDIRA). Mahasiswa UMB juga dilibatkan sebagai fasilitator dalam pelatihan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi kegiatan.
Kepala Desa Pondok Kelor Junaedi mengatakan program tersebut menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini belum memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu. "Kami berharap pendampingan dari UMB menjadi awal terbentuknya sistem yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang," ungkapnya.
Program Pemberdayaan Desa Binaan ini dirancang berlangsung selama tiga tahun. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan sistem pengelolaan sampah, gerakan tanam kelor, dan penguatan kelompok usaha pangan lokal. Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan usaha dan penguatan kelembagaan agar program dapat berlanjut secara mandiri.
Melalui program ini, UMB berharap Desa Pondok Kelor tidak hanya memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, tetapi juga mampu menghidupkan kembali kelor sebagai identitas desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Model pemberdayaan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa peri-urban lain yang menghadapi persoalan serupa.
Program tersebut memadukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, penguatan usaha pangan lokal, serta gerakan penanaman kelor yang selama ini menjadi ciri khas desa.
Baca juga: Pemerintah Paksa Daerah Hentikan Open Dumping Sampah dengan Skema Stick and Carrot
Program ini memasuki tahap pelaksanaan setelah Universitas Mercu Buana menyerahkan sejumlah peralatan Teknologi Tepat Guna (TTG) kepada Karang Taruna Desa Pondok Kelor dan kelompok usaha pangan lokal yang berada di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada Jumat (10/7/2026). Penyerahan peralatan tersebut menjadi langkah awal penerapan sistem pemberdayaan yang telah dipersiapkan melalui proses pendampingan sejak April 2026.
Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Mercu Buana Desiana Vidayanti menjelaskan bahwa teknologi yang diberikan bukan sekadar bantuan peralatan melainkan bagian dari sistem yang dirancang agar dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
"Hari ini bukan sekadar penyerahan alat, tetapi awal implementasi sistem yang telah kami bangun bersama masyarakat. Kami berharap pengelolaan sampah semakin tertata, usaha pangan lokal berkembang, dan identitas Desa Pondok Kelor sebagai desa kelor dapat hidup kembali," ujarnya.
Karang Taruna setempat memperoleh dukungan teknologi untuk mengelola sampah berbasis masyarakat dan menggerakkan penanaman kelor. Sedangkan kelompok usaha pangan lokal menerima peralatan produksi serta pendampingan manajemen usaha, literasi keuangan, dan peningkatan mutu produk.
Program ini dijalankan oleh tim multidisiplin Universitas Mercu Buana yang dipimpin Desiana Vidayanti bersama Dr Dewi Murtiningsih, Oties T Tsarwan, serta Sri Hesti dari Universitas Dian Nusantara (UNDIRA). Mahasiswa UMB juga dilibatkan sebagai fasilitator dalam pelatihan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi kegiatan.
Kepala Desa Pondok Kelor Junaedi mengatakan program tersebut menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini belum memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu. "Kami berharap pendampingan dari UMB menjadi awal terbentuknya sistem yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang," ungkapnya.
Program Pemberdayaan Desa Binaan ini dirancang berlangsung selama tiga tahun. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan sistem pengelolaan sampah, gerakan tanam kelor, dan penguatan kelompok usaha pangan lokal. Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan usaha dan penguatan kelembagaan agar program dapat berlanjut secara mandiri.
Melalui program ini, UMB berharap Desa Pondok Kelor tidak hanya memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, tetapi juga mampu menghidupkan kembali kelor sebagai identitas desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Model pemberdayaan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa peri-urban lain yang menghadapi persoalan serupa.
(jon)
Lihat Juga :