Dilarang Bawa Truk Sumbu 3 selama 17 Hari di Lebaran 2026, Sopir Hadapi Dilema Bertahan Hidup
Jum'at, 20 Februari 2026 - 14:36 WIB
Koordinator sekaligus Ketua Umum Aliansi Perjuangan Pengemudi Nusantara (APPN) Vallery Gabrielia Mahodim, salah seorang Srikandi di kalangan sopir truk yang hadir di pos itu berharap pemerintah juga memikirkan nasib para sopir truk sebelum mengeluarkan kebijakan pelarangan saat momen Lebaran 2026.
Jika peraturan tersebut dilakukan otomatis para sopir menganggur dan tidak memperoleh penghasilan sama sekali. “Jika kami yang membawa truk logistik sumbu tiga dilarang beroperasi saat Lebaran nanti, jelas kami akan jadi pengangguran. Keluarga kami kan juga butuh makan sama seperti masyarakat lainnya. Jadi, tolong pikirkan nasib kami juga,” kata Vallery.
Keluhan menyedihkan juga disuarakan sopir truk lainnya, Cahyadi Kurnia dari Sopir Komunitas Indonesia Bersatu (SKIB) yang sehari-harinya membawa truk sumbu 3 untuk menghidupi keluarganya.
”Hidup kami akan menjadi sangat berat. Di saat orang lain bisa menikmati momen Lebaran, hidup kami justru penuh dengan kepedihan. Ini jelas tidak adil bagi kami yang disebut-sebut sebagai pahlawan logistik yang katanya berjasa bagi perekonomian negeri ini,” ungkapnya.
Dengan wajah lesu, dia mengaku khawatir akan kelangsungan hidup keluarganya. Dia berharap pemerintah memberikan solusi terhadap keluhan para sopir truk. “Kami minta solusi bagaimana nasib keluarga kami saat dilarang narik truk sumbu 3 saat momen Lebaran. Sebab, hidup keluarga kami sangat tergantung pada pekerjaan ini,” ujarnya.
Kondisi kesedihan serupa juga tergambar dari raut wajah sopir lainnya, Iwan Kurniawan dari Forum Komunikasi Pengemudi Narogong Bersatu (FKPNB). Sambil tertunduk lesu, dia juga mengutarakan keberatannya terhadap pelarangan ini.
“Apalagi pemerintah tidak memberi kompensasi sama sekali kepada kami para sopir yang dilarang beroperasi saat Lebaran nanti. Kita mau makan dari mana kalau misalkan kita tidak bekerja,” ucapnya.
Jika peraturan tersebut dilakukan otomatis para sopir menganggur dan tidak memperoleh penghasilan sama sekali. “Jika kami yang membawa truk logistik sumbu tiga dilarang beroperasi saat Lebaran nanti, jelas kami akan jadi pengangguran. Keluarga kami kan juga butuh makan sama seperti masyarakat lainnya. Jadi, tolong pikirkan nasib kami juga,” kata Vallery.
Keluhan menyedihkan juga disuarakan sopir truk lainnya, Cahyadi Kurnia dari Sopir Komunitas Indonesia Bersatu (SKIB) yang sehari-harinya membawa truk sumbu 3 untuk menghidupi keluarganya.
”Hidup kami akan menjadi sangat berat. Di saat orang lain bisa menikmati momen Lebaran, hidup kami justru penuh dengan kepedihan. Ini jelas tidak adil bagi kami yang disebut-sebut sebagai pahlawan logistik yang katanya berjasa bagi perekonomian negeri ini,” ungkapnya.
Dengan wajah lesu, dia mengaku khawatir akan kelangsungan hidup keluarganya. Dia berharap pemerintah memberikan solusi terhadap keluhan para sopir truk. “Kami minta solusi bagaimana nasib keluarga kami saat dilarang narik truk sumbu 3 saat momen Lebaran. Sebab, hidup keluarga kami sangat tergantung pada pekerjaan ini,” ujarnya.
Kondisi kesedihan serupa juga tergambar dari raut wajah sopir lainnya, Iwan Kurniawan dari Forum Komunikasi Pengemudi Narogong Bersatu (FKPNB). Sambil tertunduk lesu, dia juga mengutarakan keberatannya terhadap pelarangan ini.
“Apalagi pemerintah tidak memberi kompensasi sama sekali kepada kami para sopir yang dilarang beroperasi saat Lebaran nanti. Kita mau makan dari mana kalau misalkan kita tidak bekerja,” ucapnya.
Lihat Juga :