Kisah Pertempuran Pasukan Kapten Tubagus Muslihat Pukul Mundur Penjajah Inggris dan Sekutu dari Kota Bogor

Senin, 05 Januari 2026 - 06:51 WIB
Dihimpun dari berbagai sumber dan data Pemkot Bogor, diketahui Kapten Muslihat pernah bekerja di Bosbouw Proefstation atau Balai Penelitian Kehutanan di Gunung Batu Bogor dan pernah bekerja di Rumah Sakit Kedung Halang Bogor menjadi juru rawat.

Selanjutnya pindah ke jawatan kehutanan. Kisah heroik Kapten Muslihat berawal saat Kota Bogor dikuasai tentara Jepang yang kemudian mendirikan pasukan PETA (Pembela Tanah Air). Muslihat ikut bergabung PETA dan terpilih sebagai hudanco (komandan peleton).

Baca juga: Kisah 30 Kopassus Nyamar Jadi Hantu Putih saat Taklukkan 3.000 Pemberontak di Kongo

Dia diangkat bersama dengan Ibrahim Ajie, M Ishak Juarsa, Rahmat Padma, Tarmat, Suwardi, Abu Usman, Rujak, dan Bustami. Akan tetapi saat itu Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom sekutu pada 14 Agustus 1945.

Tentara Jepang membubarkan PETA dan menyuruh anggota PETA yang ada di asrama untuk kembali ke kampungnya masing-masing. Saat itu tepat 17 Agustus 1945 Presiden Soekarno dan Wapres M Hatta memproklamirkan kemerdekaaan Indonesia.

Tentara Jepang banyak yang kembali ke negaranya, dan situasi ini membuat semangat rakyat mengusir penjajah semakin kuat. Kantor-kantor yang diduduki tentara Jepang berhasil direbut oleh pejuang dan beralih menjadi milik Republik Indonesia.

Kapten Muslihat yang berjuang di Bogor langsung diangkat menjadi Kapten dan ditugaskan sebagai Komandan Kompi IV Batalion II Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Meski sudah sudah dinyatakan merdeka, Indonesia belum sepenuhnya bebas dari para penjajah.

Setelah Jepang lengser, datang tentara Inggris untuk kembali menjajah Indonesia. Mereka berhasil menguasai tempat-tempat utama. Di Bogor tentara Inggris mencoba merebut Istana yang waktu itu dijaga ketat pemuda-pemuda Bogor.

Mereka berhasil memasuki Istana Bogor dan memukul mundur para penjuang. Tak tinggal diam dengan hal itu, tepat 6 Desember 1945 rakyat Bogor melakukan pemberontakan dengan mengenakan bambu runcing, golok, dan pedang untuk mengusir penjajah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!