Hasil Riset, Pengakuan dan Akses Perempuan dalam Sektor Perikanan Masih Rendah
Rabu, 08 Oktober 2025 - 14:15 WIB
Meskipun responden perempuan di Mempawah terlibat aktif secara ekonomi di sektor perikanan, akses terhadap bantuan pemerintah masih terbatas. Sekitar 86 persen responden Kabupaten Mempawah mengaku menghadapi kendala dalam aktivitas perikanan, dan 80 persen pernah mengalami kerugian. Sayangnya, hanya sekitar 29 persen responden yang pernah menerima bantuan perikanan dari pemerintah.
Rangkaian forum diseminasi di berbagai daerah berhasil menjadi wadah dialog yang konstruktif antara tim peneliti, pemerintah daerah, dan komunitas nelayan. Hasil penelitian yang dipresentasikan mendapat sambutan positif dari para peserta, karena dinilai membuka ruang diskusi baru tentang pentingnya data dan pendekatan berbasis bukti dalam merumuskan kebijakan pembangunan perikanan yang lebih responsif terhadap peran dan kebutuhan perempuan.
"Kami sangat berterima kasih atas adanya penelitian ini. Terlihat jelas bahwa ibu-ibu nelayan memiliki tanggung jawab besar di keluarga, namun masih banyak yang belum memahami pengelolaan keuangan rumah tangga secara baik. Padahal, ibu-ibu inilah yang menjadi ‘Menteri Keuangan’ di rumah masing-masing," katanya.
Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian riset pemberdayaan perempuan di sektor perikanan yang dilakukan oleh UNAIR bersama program INKLUSI dan mitra CSO. INKLUSI adalah kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan memperkuat pembangunan inklusif bagi kelompok rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.
"Temuan riset ini diharapkan mampu menghubungkan realitas kehidupan perempuan nelayan dengan arah kebijakan. Pembangunan ekonomi biru yang inklusif hanya dapat tercapai apabila aspirasi mereka turut didengar dan menjadi bagian dari proses perencanaan," kata tim peneliti BKMP Universitas Airlangga.
Rangkaian forum diseminasi di berbagai daerah berhasil menjadi wadah dialog yang konstruktif antara tim peneliti, pemerintah daerah, dan komunitas nelayan. Hasil penelitian yang dipresentasikan mendapat sambutan positif dari para peserta, karena dinilai membuka ruang diskusi baru tentang pentingnya data dan pendekatan berbasis bukti dalam merumuskan kebijakan pembangunan perikanan yang lebih responsif terhadap peran dan kebutuhan perempuan.
"Kami sangat berterima kasih atas adanya penelitian ini. Terlihat jelas bahwa ibu-ibu nelayan memiliki tanggung jawab besar di keluarga, namun masih banyak yang belum memahami pengelolaan keuangan rumah tangga secara baik. Padahal, ibu-ibu inilah yang menjadi ‘Menteri Keuangan’ di rumah masing-masing," katanya.
Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian riset pemberdayaan perempuan di sektor perikanan yang dilakukan oleh UNAIR bersama program INKLUSI dan mitra CSO. INKLUSI adalah kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan memperkuat pembangunan inklusif bagi kelompok rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.
"Temuan riset ini diharapkan mampu menghubungkan realitas kehidupan perempuan nelayan dengan arah kebijakan. Pembangunan ekonomi biru yang inklusif hanya dapat tercapai apabila aspirasi mereka turut didengar dan menjadi bagian dari proses perencanaan," kata tim peneliti BKMP Universitas Airlangga.
(zik)
Lihat Juga :