Ubah Sampah Jadi Solusi, Desa Tegalsari Purwakarta Jadi Role Model Berbasis Kawasan
Senin, 22 September 2025 - 13:12 WIB
Pelaksanaan dimulai dengan sangat sederhana. Ada dropbox untuk sampah daur ulang, ember untuk sampah residu, trashbag, stiker untuk rumah yang sudah memilah, dan gerobak sorong untuk mengambil sampah dari gang-gang kecil.
Setiap Senin dan Kamis, sampah terpilah dikumpulkan. Dua kali seminggu, sampah ditimbang dan dicatat. Edukasi dilakukan langsung ke rumah-rumah, bukan sekadar tempel poster. Sampah organik diolah jadi kompos, yang anorganik disalurkan ke Bank Sampah Sari Asih. Sementara sisa makanan juga dimanfaatkan, tidak langsung dibuang begitu saja.
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Namun berkat pendampingan yang intensif dan pendekatan yang humanis, hasilnya mulai terasa. Hingga Februari 2025, tercatat sebanyak 71 Kepala Keluarga (KK) di RW 05 Desa Tegalsari, Kecamatan Sukatani Kab. Purwakarta, telah aktif memilah sampah dari rumah. Mereka memisahkan sampah ke dalam tiga kategori: organik, anorganik, dan residu—sebuah langkah sederhana namun bermakna besar dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Pencapaian ini turut mendukung target nasional Program ISWMP melalui paket pekerjaan Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM) dalam meningkatkan persentase rumah tangga yang memilah sampah dari sumber. Ini bukan hanya keberhasilan teknis, tetapi juga kemenangan budaya, menggeser paradigma lama menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
“Indikator keberhasilan kinerja PPAM adalah apabila sampah yang masuk ke TPST sudah terpilah. Kegiatan pilot project ini merupakan upaya nyata dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah. Harapan kami tentu kegiatan pilot project ini dapat direplikasi ke wilayah lain,” ujar Ketua Central Project Management Unit (CPMU) ISWMP, Sandhi Eko Bramono.
Pilot project di Desa Tegalsari bukanlah sekadar eksperimen jangka pendek yang berakhir di tumpukan laporan akhir. Sejak awal, Pemerintah Desa bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta menegaskan bahwa inisiatif ini harus menjadi titik awal transformasi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Pilot project ini bukan hanya tentang sampah. Lebih dari itu, ini adalah upaya membentuk budaya baru: budaya memilah, budaya peduli, dan budaya menjaga lingkungan sebagai bagian dari identitas komunitas. Setiap ember pemilahan yang digunakan, setiap komposter yang dioperasikan, dan setiap sosialisasi yang dilakukan dari rumah ke rumah menjadi langkah nyata membangun kesadaran kolektif.
Setiap Senin dan Kamis, sampah terpilah dikumpulkan. Dua kali seminggu, sampah ditimbang dan dicatat. Edukasi dilakukan langsung ke rumah-rumah, bukan sekadar tempel poster. Sampah organik diolah jadi kompos, yang anorganik disalurkan ke Bank Sampah Sari Asih. Sementara sisa makanan juga dimanfaatkan, tidak langsung dibuang begitu saja.
71 Keluarga Sudah Mulai Pilah Sampah
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Namun berkat pendampingan yang intensif dan pendekatan yang humanis, hasilnya mulai terasa. Hingga Februari 2025, tercatat sebanyak 71 Kepala Keluarga (KK) di RW 05 Desa Tegalsari, Kecamatan Sukatani Kab. Purwakarta, telah aktif memilah sampah dari rumah. Mereka memisahkan sampah ke dalam tiga kategori: organik, anorganik, dan residu—sebuah langkah sederhana namun bermakna besar dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Pencapaian ini turut mendukung target nasional Program ISWMP melalui paket pekerjaan Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM) dalam meningkatkan persentase rumah tangga yang memilah sampah dari sumber. Ini bukan hanya keberhasilan teknis, tetapi juga kemenangan budaya, menggeser paradigma lama menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
“Indikator keberhasilan kinerja PPAM adalah apabila sampah yang masuk ke TPST sudah terpilah. Kegiatan pilot project ini merupakan upaya nyata dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah. Harapan kami tentu kegiatan pilot project ini dapat direplikasi ke wilayah lain,” ujar Ketua Central Project Management Unit (CPMU) ISWMP, Sandhi Eko Bramono.
Pilot project di Desa Tegalsari bukanlah sekadar eksperimen jangka pendek yang berakhir di tumpukan laporan akhir. Sejak awal, Pemerintah Desa bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta menegaskan bahwa inisiatif ini harus menjadi titik awal transformasi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Pilot project ini bukan hanya tentang sampah. Lebih dari itu, ini adalah upaya membentuk budaya baru: budaya memilah, budaya peduli, dan budaya menjaga lingkungan sebagai bagian dari identitas komunitas. Setiap ember pemilahan yang digunakan, setiap komposter yang dioperasikan, dan setiap sosialisasi yang dilakukan dari rumah ke rumah menjadi langkah nyata membangun kesadaran kolektif.
(shf)
Lihat Juga :