Ubah Sampah Jadi Solusi, Desa Tegalsari Purwakarta Jadi Role Model Berbasis Kawasan
Senin, 22 September 2025 - 13:12 WIB
loading...
Pengolahan sampah di Desa Tegalsari, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat melalui program ISWMP menjadi role model baru berbasis kawasan. Foto/Ist
A
A
A
PURWAKARTA - Pengolahan sampah di Desa Tegalsari, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat menjadi role model baru berbasis kawasan. Lewat program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) dilakukan pemilah sampah dari rumah sehingga menjadi kebiasaan, dan bukan kewajiban semata.
Purwakarta, seperti banyak daerah lain di Indonesia, masih terus bergelut dengan urusan sampah. Bukan hanya soal volume, tapi lebih pada sistem pengelolaan yang belum tuntas. Di lapangan, sampah masih sering dikumpulkan tanpa dipilah, dibawa ke tempat penampungan akhir tanpa proses pemrosesan yang memadai.
Baca juga: Menteri LH: Beban TPA Sangat Berat, Sampah Harus Dikurangi dari Hulu
Lima aspek utama yang menjadi fondasi sistem persampahan, mulai dari kelembagaan, pendanaan, teknis operasional, regulasi, hingga partisipasi masyarakat masih menyisakan pekerjaan rumah. Desa dan kelurahan belum punya peran kuat dalam pengelolaan, dana terbatas, dan belum ada sistem insentif yang efektif. Sementara itu, regulasi ada, tapi penerapannya lemah. Sedangkan masyarakat masih belum terbiasa memilah sampah dari rumah.
Melalui ISWMP, Kabupaten Purwakarta mendapat suntikan semangat dan strategi baru. Proyek ini tak hanya bicara soal infrastruktur atau pengadaan alat, tapi juga soal perubahan cara pikir bahwa semua aspek harus diurus termasuk soal tata kelola, pendanaan dan peran serta masyarakat. Lebih penting lagi pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Seperti telah dibahas sebelum ini, ISWMP tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik seperti pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), namun juga menyasar reformasi kelembagaan, regulasi, pembiayaan, dan perubahan perilaku masyarakat. Program ini hadir melalui kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kesehatan, dan Bank Dunia. Program ini mendorong reformasi sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan.
Baca juga: Terungkap, RDF Plant Rorotan untuk Atasi Darurat Sampah di Jakarta
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Dewi Chomistriana menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam pengelolaan sampah. “Program ISWMP bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi tentang perubahan cara pandang kita terhadap sistem pengelolaan sampah. Ketika TPST menjadi bagian dari sistem yang terhubung dari kebijakan hingga kebiasaan masyarakat, maka kita tidak sekadar mengelola sampah, tapi sedang merawat masa depan bersama,” ujarnya, Senin (22/9/2025).
Program ISWMP hadir di Kabupaten Purwakarta, tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membenahi sistem layanan dari hulu hingga hilir. Implementasi ISWMP fokus pada lima pilar utama.
Pertama, penyusunan dan penetapan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS) serta penguatan regulasi lewat Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. Kedua, peningkatan peran aktif masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah.
Ketiga, penguatan kelembagaan pengelolaan sampah agar lebih efektif. Keempat, pengembangan mekanisme pendanaan dan sistem penarikan retribusi pengelolaan sampah. Kelima, dukungan pendanaan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berteknologi tinggi.
ISWMP membantu Pemerintah Kabupaten Purwakarta menyusun RISPS sebagai peta jalan jangka panjang. Bersamaan dengan itu, didorong pula penyusunan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah untuk menguatkan aspek hukum dan retribusi persampahan.
Peran Kementerian Dalam Negeri sangat krusial dalam proses kelembagaan dan penguatan sistem retribusi daerah, sementara Kementerian Kesehatan turut aktif dalam kegiatan edukasi masyarakat tentang dampak sampah terhadap kesehatan lingkungan.
Pembangunan TPST di Purwakarta menjadi salah satu bukti nyata pendekatan ini. TPST ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah, tetapi juga sebagai contoh penerapan teknologi pengolahan modern yang mampu menghasilkan nilai tambah, baik secara ekonomi maupun lingkungan, dan dapat direplikasi di wilayah lain.
Dengan kombinasi lima pilar tersebut, Kabupaten Purwakarta mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Sistem pemilahan sampah dari sumber mulai terbentuk, rantai layanan pengangkutan sampah semakin tertata, kolaborasi dengan sektor swasta menguat, dan proses pengolahan kini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dari material daur ulang serta produksi energi alternatif seperti RDF (Refuse Derived Fuel).
Salah satu inovasi penting ISWMP di Purwakarta adalah pelaksanaan Pilot Project di Kampung Cijati RT 09 RW 05 di Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalwaru. Alasan pemilihannya bukan karena wilayah ini paling maju, tapi justru karena potensinya yang besar untuk tumbuh. Kawasan ini dekat dengan TPST Tegalsari, dan sudah memiliki Bank Sampah Unit (BSU) “Sari Asih” yang aktif sejak 2020.
Koordinasi dilakukan sejak awal November 2024, dimulai dengan dialog antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta dan pemerintah desa. Warga pun dilibatkan sejak awal mereka tidak hanya diajak ikut, tapi juga diberi ruang untuk terlibat langsung.
Pelaksanaan dimulai dengan sangat sederhana. Ada dropbox untuk sampah daur ulang, ember untuk sampah residu, trashbag, stiker untuk rumah yang sudah memilah, dan gerobak sorong untuk mengambil sampah dari gang-gang kecil.
Setiap Senin dan Kamis, sampah terpilah dikumpulkan. Dua kali seminggu, sampah ditimbang dan dicatat. Edukasi dilakukan langsung ke rumah-rumah, bukan sekadar tempel poster. Sampah organik diolah jadi kompos, yang anorganik disalurkan ke Bank Sampah Sari Asih. Sementara sisa makanan juga dimanfaatkan, tidak langsung dibuang begitu saja.
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Namun berkat pendampingan yang intensif dan pendekatan yang humanis, hasilnya mulai terasa. Hingga Februari 2025, tercatat sebanyak 71 Kepala Keluarga (KK) di RW 05 Desa Tegalsari, Kecamatan Sukatani Kab. Purwakarta, telah aktif memilah sampah dari rumah. Mereka memisahkan sampah ke dalam tiga kategori: organik, anorganik, dan residu—sebuah langkah sederhana namun bermakna besar dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Pencapaian ini turut mendukung target nasional Program ISWMP melalui paket pekerjaan Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM) dalam meningkatkan persentase rumah tangga yang memilah sampah dari sumber. Ini bukan hanya keberhasilan teknis, tetapi juga kemenangan budaya, menggeser paradigma lama menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
“Indikator keberhasilan kinerja PPAM adalah apabila sampah yang masuk ke TPST sudah terpilah. Kegiatan pilot project ini merupakan upaya nyata dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah. Harapan kami tentu kegiatan pilot project ini dapat direplikasi ke wilayah lain,” ujar Ketua Central Project Management Unit (CPMU) ISWMP, Sandhi Eko Bramono.
Pilot project di Desa Tegalsari bukanlah sekadar eksperimen jangka pendek yang berakhir di tumpukan laporan akhir. Sejak awal, Pemerintah Desa bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta menegaskan bahwa inisiatif ini harus menjadi titik awal transformasi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Pilot project ini bukan hanya tentang sampah. Lebih dari itu, ini adalah upaya membentuk budaya baru: budaya memilah, budaya peduli, dan budaya menjaga lingkungan sebagai bagian dari identitas komunitas. Setiap ember pemilahan yang digunakan, setiap komposter yang dioperasikan, dan setiap sosialisasi yang dilakukan dari rumah ke rumah menjadi langkah nyata membangun kesadaran kolektif.
Purwakarta, seperti banyak daerah lain di Indonesia, masih terus bergelut dengan urusan sampah. Bukan hanya soal volume, tapi lebih pada sistem pengelolaan yang belum tuntas. Di lapangan, sampah masih sering dikumpulkan tanpa dipilah, dibawa ke tempat penampungan akhir tanpa proses pemrosesan yang memadai.
Baca juga: Menteri LH: Beban TPA Sangat Berat, Sampah Harus Dikurangi dari Hulu
Lima aspek utama yang menjadi fondasi sistem persampahan, mulai dari kelembagaan, pendanaan, teknis operasional, regulasi, hingga partisipasi masyarakat masih menyisakan pekerjaan rumah. Desa dan kelurahan belum punya peran kuat dalam pengelolaan, dana terbatas, dan belum ada sistem insentif yang efektif. Sementara itu, regulasi ada, tapi penerapannya lemah. Sedangkan masyarakat masih belum terbiasa memilah sampah dari rumah.
Melalui ISWMP, Kabupaten Purwakarta mendapat suntikan semangat dan strategi baru. Proyek ini tak hanya bicara soal infrastruktur atau pengadaan alat, tapi juga soal perubahan cara pikir bahwa semua aspek harus diurus termasuk soal tata kelola, pendanaan dan peran serta masyarakat. Lebih penting lagi pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Seperti telah dibahas sebelum ini, ISWMP tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik seperti pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), namun juga menyasar reformasi kelembagaan, regulasi, pembiayaan, dan perubahan perilaku masyarakat. Program ini hadir melalui kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kesehatan, dan Bank Dunia. Program ini mendorong reformasi sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan.
Baca juga: Terungkap, RDF Plant Rorotan untuk Atasi Darurat Sampah di Jakarta
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Dewi Chomistriana menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam pengelolaan sampah. “Program ISWMP bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi tentang perubahan cara pandang kita terhadap sistem pengelolaan sampah. Ketika TPST menjadi bagian dari sistem yang terhubung dari kebijakan hingga kebiasaan masyarakat, maka kita tidak sekadar mengelola sampah, tapi sedang merawat masa depan bersama,” ujarnya, Senin (22/9/2025).
Program ISWMP hadir di Kabupaten Purwakarta, tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membenahi sistem layanan dari hulu hingga hilir. Implementasi ISWMP fokus pada lima pilar utama.
Pertama, penyusunan dan penetapan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS) serta penguatan regulasi lewat Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah. Kedua, peningkatan peran aktif masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah.
Ketiga, penguatan kelembagaan pengelolaan sampah agar lebih efektif. Keempat, pengembangan mekanisme pendanaan dan sistem penarikan retribusi pengelolaan sampah. Kelima, dukungan pendanaan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berteknologi tinggi.
ISWMP membantu Pemerintah Kabupaten Purwakarta menyusun RISPS sebagai peta jalan jangka panjang. Bersamaan dengan itu, didorong pula penyusunan Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah untuk menguatkan aspek hukum dan retribusi persampahan.
Peran Kementerian Dalam Negeri sangat krusial dalam proses kelembagaan dan penguatan sistem retribusi daerah, sementara Kementerian Kesehatan turut aktif dalam kegiatan edukasi masyarakat tentang dampak sampah terhadap kesehatan lingkungan.
Pembangunan TPST di Purwakarta menjadi salah satu bukti nyata pendekatan ini. TPST ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah, tetapi juga sebagai contoh penerapan teknologi pengolahan modern yang mampu menghasilkan nilai tambah, baik secara ekonomi maupun lingkungan, dan dapat direplikasi di wilayah lain.
Dengan kombinasi lima pilar tersebut, Kabupaten Purwakarta mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Sistem pemilahan sampah dari sumber mulai terbentuk, rantai layanan pengangkutan sampah semakin tertata, kolaborasi dengan sektor swasta menguat, dan proses pengolahan kini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dari material daur ulang serta produksi energi alternatif seperti RDF (Refuse Derived Fuel).
Salah satu inovasi penting ISWMP di Purwakarta adalah pelaksanaan Pilot Project di Kampung Cijati RT 09 RW 05 di Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalwaru. Alasan pemilihannya bukan karena wilayah ini paling maju, tapi justru karena potensinya yang besar untuk tumbuh. Kawasan ini dekat dengan TPST Tegalsari, dan sudah memiliki Bank Sampah Unit (BSU) “Sari Asih” yang aktif sejak 2020.
Koordinasi dilakukan sejak awal November 2024, dimulai dengan dialog antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta dan pemerintah desa. Warga pun dilibatkan sejak awal mereka tidak hanya diajak ikut, tapi juga diberi ruang untuk terlibat langsung.
Pelaksanaan dimulai dengan sangat sederhana. Ada dropbox untuk sampah daur ulang, ember untuk sampah residu, trashbag, stiker untuk rumah yang sudah memilah, dan gerobak sorong untuk mengambil sampah dari gang-gang kecil.
Setiap Senin dan Kamis, sampah terpilah dikumpulkan. Dua kali seminggu, sampah ditimbang dan dicatat. Edukasi dilakukan langsung ke rumah-rumah, bukan sekadar tempel poster. Sampah organik diolah jadi kompos, yang anorganik disalurkan ke Bank Sampah Sari Asih. Sementara sisa makanan juga dimanfaatkan, tidak langsung dibuang begitu saja.
71 Keluarga Sudah Mulai Pilah Sampah
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Namun berkat pendampingan yang intensif dan pendekatan yang humanis, hasilnya mulai terasa. Hingga Februari 2025, tercatat sebanyak 71 Kepala Keluarga (KK) di RW 05 Desa Tegalsari, Kecamatan Sukatani Kab. Purwakarta, telah aktif memilah sampah dari rumah. Mereka memisahkan sampah ke dalam tiga kategori: organik, anorganik, dan residu—sebuah langkah sederhana namun bermakna besar dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Pencapaian ini turut mendukung target nasional Program ISWMP melalui paket pekerjaan Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM) dalam meningkatkan persentase rumah tangga yang memilah sampah dari sumber. Ini bukan hanya keberhasilan teknis, tetapi juga kemenangan budaya, menggeser paradigma lama menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
“Indikator keberhasilan kinerja PPAM adalah apabila sampah yang masuk ke TPST sudah terpilah. Kegiatan pilot project ini merupakan upaya nyata dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah. Harapan kami tentu kegiatan pilot project ini dapat direplikasi ke wilayah lain,” ujar Ketua Central Project Management Unit (CPMU) ISWMP, Sandhi Eko Bramono.
Pilot project di Desa Tegalsari bukanlah sekadar eksperimen jangka pendek yang berakhir di tumpukan laporan akhir. Sejak awal, Pemerintah Desa bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta menegaskan bahwa inisiatif ini harus menjadi titik awal transformasi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Pilot project ini bukan hanya tentang sampah. Lebih dari itu, ini adalah upaya membentuk budaya baru: budaya memilah, budaya peduli, dan budaya menjaga lingkungan sebagai bagian dari identitas komunitas. Setiap ember pemilahan yang digunakan, setiap komposter yang dioperasikan, dan setiap sosialisasi yang dilakukan dari rumah ke rumah menjadi langkah nyata membangun kesadaran kolektif.
(shf)
Lihat Juga :