Kisah Jenderal Kopassus Sutiyoso Tumpas Kelompok Bersenjata Paraku di Hutan Kalimantan Tanpa Peluru
Rabu, 13 Agustus 2025 - 08:11 WIB
Pria kelahiran Semarang 6 Desember 1944 itu merupakan abituren AKABRI (sekarang menjadi Akademi Militer atau Akmil) pada 1968. Selanjutnya, Sutiyoso menerima tugas sebagai perwira di Batalyon Infanteri 323 Banjar Patronan.
Saat itu, dia langsung diterjunkan dalam operasi untuk menumpas Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) yang beroperasi di hutan pedalaman hutan Kalimantan. Sutiyoso mendapat tugas sebagai Komandan Pleton Intelijen Tempur.
Baca juga: Kisah Keberanian Letjen Sutiyoso Menyusup Jadi Kuli Bangunan di Wilayah Musuh Timor Timur
Kelompok PGRS/Paraku pada awalnya dibentuk dan dilatih oleh TNI selama konfrontasi Indonesia-Malaysia di era Presiden Soekarno. Namun, setelah hubungan kedua negara membaik, kelompok ini tetap melanjutkan perlawanan bersenjata, memaksa TNI untuk mengerahkan Kopassus guna menumpas mereka.
Dikisahkan dalam buku “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando”, Sutiyoso mengisahkan bagaimana dia dan pasukannya berangkat dengan kapal menuju Pontianak, Kalimantan Barat. Setelah tiba, mereka melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak, Malaysia, dengan menyusuri Sungai Kapuas dan berjalan kaki berkilometer-kilometer untuk mencapai daerah operasi.
Sutiyoso dan pasukannya sebelum tiba di titik sasaran memutuskan menginap di rumah adat Suku Dayak, yakni Rumah Betang. Dalam kondisi siaga, mereka memilih tidur di kandang hewan peliharaan yang terletak di bagian bawah rumah.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan ke titik operasi. Setelah perjalanan selama dua hari dua malam melewati hutan lebat, Sutiyoso dan pasukannya tiba di daerah operasi. Dengan cermat, Sutiyoso membaca situasi dan ancaman yang ada.
Sutiyoso pun memutuskan untuk menerapkan strategi antigerilya, mengingat musuh yang dihadapi sangat menguasai medan dan bergerak dengan taktik gerilya.
Saat itu, dia langsung diterjunkan dalam operasi untuk menumpas Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) yang beroperasi di hutan pedalaman hutan Kalimantan. Sutiyoso mendapat tugas sebagai Komandan Pleton Intelijen Tempur.
Baca juga: Kisah Keberanian Letjen Sutiyoso Menyusup Jadi Kuli Bangunan di Wilayah Musuh Timor Timur
Kelompok PGRS/Paraku pada awalnya dibentuk dan dilatih oleh TNI selama konfrontasi Indonesia-Malaysia di era Presiden Soekarno. Namun, setelah hubungan kedua negara membaik, kelompok ini tetap melanjutkan perlawanan bersenjata, memaksa TNI untuk mengerahkan Kopassus guna menumpas mereka.
Dikisahkan dalam buku “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando”, Sutiyoso mengisahkan bagaimana dia dan pasukannya berangkat dengan kapal menuju Pontianak, Kalimantan Barat. Setelah tiba, mereka melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak, Malaysia, dengan menyusuri Sungai Kapuas dan berjalan kaki berkilometer-kilometer untuk mencapai daerah operasi.
Sutiyoso dan pasukannya sebelum tiba di titik sasaran memutuskan menginap di rumah adat Suku Dayak, yakni Rumah Betang. Dalam kondisi siaga, mereka memilih tidur di kandang hewan peliharaan yang terletak di bagian bawah rumah.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan ke titik operasi. Setelah perjalanan selama dua hari dua malam melewati hutan lebat, Sutiyoso dan pasukannya tiba di daerah operasi. Dengan cermat, Sutiyoso membaca situasi dan ancaman yang ada.
Sutiyoso pun memutuskan untuk menerapkan strategi antigerilya, mengingat musuh yang dihadapi sangat menguasai medan dan bergerak dengan taktik gerilya.
Lihat Juga :