Komunitas Waria Kota Bandung Srikandi Pasundan Dampingi Korban Prank
Senin, 04 Mei 2020 - 07:45 WIB
"Kami dari Srikandi Pasundan yang mendampingi dan mendukung empat orang rekan kami yang jadi korban, menerima bingkisan berisi batu dan sampah," ujar dia.
Abel menuturkan, beredarnya video itu membuat sakit hati banyak orang termasuk transgender di KOta Bandung. Apalagi, perbuatan itu dilakukan di tengah keprihatinan warga saat pandemi virus Corona atau COVID-19 saat ini.
"Mereka sakit hati. Saya yang tidak di TKP merasa sangat sedih karena di saat pandemi virus Corona, sebungkus nasi sangat berarti. Tapi, setelah dibuka teman-teman saya, isinya sampah, batu. Harapan saya segera tertangkap pelakunya dan dia jera bikin konten mendiskriminasi transgender di Indonesia," tutur Abel.
Abel mengungkapkan, keempat korban antara Dini (56), Sani (39), Luna (25), dan Pipiw (30). Mereka awalnya tak menyangka pemberian bantuan tersebut berupa prank dan bakal viral seperti sekarang.
Mereka kemudian berbagi cerita dengan rekan-rekannya di komunitas Srikandi Pasundan. "Untung mereka kenal dengan komunitas. Sebelum mereka share ke yang lain, mereka share ke kami. Bukannya apa-apa, dengan gender kami ini, kemana kami harus ngadu, terkadang bikin aduan pun suka disalahin," ungkap dia.
Abel menuturkan, beredarnya video itu membuat sakit hati banyak orang termasuk transgender di KOta Bandung. Apalagi, perbuatan itu dilakukan di tengah keprihatinan warga saat pandemi virus Corona atau COVID-19 saat ini.
"Mereka sakit hati. Saya yang tidak di TKP merasa sangat sedih karena di saat pandemi virus Corona, sebungkus nasi sangat berarti. Tapi, setelah dibuka teman-teman saya, isinya sampah, batu. Harapan saya segera tertangkap pelakunya dan dia jera bikin konten mendiskriminasi transgender di Indonesia," tutur Abel.
Abel mengungkapkan, keempat korban antara Dini (56), Sani (39), Luna (25), dan Pipiw (30). Mereka awalnya tak menyangka pemberian bantuan tersebut berupa prank dan bakal viral seperti sekarang.
Mereka kemudian berbagi cerita dengan rekan-rekannya di komunitas Srikandi Pasundan. "Untung mereka kenal dengan komunitas. Sebelum mereka share ke yang lain, mereka share ke kami. Bukannya apa-apa, dengan gender kami ini, kemana kami harus ngadu, terkadang bikin aduan pun suka disalahin," ungkap dia.
(awd)
Lihat Juga :