Serangan Masif Pangeran Diponegoro Renggut Banyak Korban Jiwa Kalangan Bangsawan

Sabtu, 21 Desember 2024 - 07:08 WIB
Semua kemenangan ini membawa mereka dari Kali Progo sampai pinggiran barat Surakarta. Para perwira Belanda menyebut tentara Diponegoro yang berhasil merebut garis pertahanan Belanda layaknya mengamuk dengan kepala tertunduk sambil menyuarakan pekikan yang mengiris hati sebagaimana dikisahkan pada buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785 - 1855) tulisan Peter Carey.

Dengan rasa putus asa, Belanda mulai mengosongkan garinisun-garnisun mereka di luar Jawa sambil mengerahkan serdadu yang baru didatangkan dari Eropa.

Kedudukan Belanda tampaknya tidak memberikan harapan, tetapi hanya karena terbantu oleh perdebatan panjang soal taktik antara Kiai Mojo dan Pangeran Diponegoro. Kondisi ini memungkinkan Belanda dapat mengkonsentrasikan pasukan dalam jumlah cukup besar untuk merebut kemenangan atas pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok pada 15 Oktober 1826.

Pertempuran baru juga tercipta di Rembang dan Jipang - Rajekwesi (saat itu daerah Bojonegoro) pada akhir 1827, saudara ipar Pangeran Diponegoro, Sosrodilogo ikut dalam perang. Selama beberapa minggu, peperangan menegangkan terjadi awal Desember 1827 hingga pertengahan Januari 1828.

Imbas peperangan itu, jalur komunikasi pemerintah Belanda antara Semarang dan Surabaya terputus. De Kock, sang jenderal terpaksa menunda rencana keberangkatannya ke Belanda dan menyerahkan kepemimpinan komando tentara ke tangan Van Geen.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!