Kisah Raja Mataram Sultan Agung Ingin Kuasai Banten Dihalangi Penjajah Belanda
Jum'at, 22 November 2024 - 07:14 WIB
Baca juga: Kisah Makam Giriloyo, Makam Ghaib Sultan Agung
Alhasil sebagaimana dikutip dari buku "Tuah Bumi Mataram: Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II" tulisan Peri Mardiyono, membuat Sultan Agung akhirnya memutuskan untuk menyatakan perang terhadap VOC Belanda.
Strategi pun disusun oleh Kerajaan Mataram, prajurit Mataram mengirim prajuritnya secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari endusan VOC Belanda.
Pada Agustus 1628 dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa, Bupati Kendal sampai di Batavia. Armada Bahureksa hendak menyerang Batavia dengan membawa 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa, dan 12.000 karung beras.
Pihak Mataram menyampaikan ke VOC Belanda hendak berdagang di Batavia. Namun pihak VOC sempat curiga, meski pada hari berikutnya akhirnya menyetujui penurunan sapi-sapi asal Mataram dengan syarat kapal Mataram hanya menepi satu demi satu.
Sebanyak 100 prajurit bersenjata dari garnisun Kasteel atau benteng pun dikeluarkan untuk berjaga-jaga.
Hari ketiga, tujuh kapal Mataram muncul lagi di Batavia dengan alasan meminta surat jalan dari pihak Belanda agar dapat berlayar ke Malaka, yang saat itu juga di bawah kekuasaan VOC.
Kecurigaan VOC pun makin menguat, hingga akhirnya semakin memperkuat penjagaan di dua benteng kecil utara dan menyiapkan artilerinya.
Alhasil sebagaimana dikutip dari buku "Tuah Bumi Mataram: Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II" tulisan Peri Mardiyono, membuat Sultan Agung akhirnya memutuskan untuk menyatakan perang terhadap VOC Belanda.
Strategi pun disusun oleh Kerajaan Mataram, prajurit Mataram mengirim prajuritnya secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari endusan VOC Belanda.
Pada Agustus 1628 dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa, Bupati Kendal sampai di Batavia. Armada Bahureksa hendak menyerang Batavia dengan membawa 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa, dan 12.000 karung beras.
Pihak Mataram menyampaikan ke VOC Belanda hendak berdagang di Batavia. Namun pihak VOC sempat curiga, meski pada hari berikutnya akhirnya menyetujui penurunan sapi-sapi asal Mataram dengan syarat kapal Mataram hanya menepi satu demi satu.
Sebanyak 100 prajurit bersenjata dari garnisun Kasteel atau benteng pun dikeluarkan untuk berjaga-jaga.
Hari ketiga, tujuh kapal Mataram muncul lagi di Batavia dengan alasan meminta surat jalan dari pihak Belanda agar dapat berlayar ke Malaka, yang saat itu juga di bawah kekuasaan VOC.
Kecurigaan VOC pun makin menguat, hingga akhirnya semakin memperkuat penjagaan di dua benteng kecil utara dan menyiapkan artilerinya.
Lihat Juga :