Kisah Raja Mataram Sultan Agung Ingin Kuasai Banten Dihalangi Penjajah Belanda
Jum'at, 22 November 2024 - 07:14 WIB
Pada sore harinya, dua puluhan kapal Mataram menurunkan pasukannya di depan Kasteel. Melihat prajurit Mataram yang tiba mendadak begitu banyak, Belanda terkejut dan buru-buru masuk ke benteng kecil. Sejumlah kapal Mataram lain mendaratkan prajuritnya. Saat itu pasukan Mataram kemudian dihujani tembakan dari Kasteel.
Pada 25 Agustus, 27 kapal Mataram mulai berdatangan masuk ke Teluk Batavia, tetapi berlabuh agak jauh dari kastil. Di sebelah selatan Batavia, para tentara Mataram mulai tiba, dengan panji berkibar. Hal ini menunjukkan, Mataram telah menyatakan keinginannya memerangi Belanda.
Keesokan harinya, terhitung ada 1.000 prajurit Mataram mulai bersiaga di depan Batavia. Mereka sudah siap pertempuran di Batavia. Maka pada 27 Agustus 1628, satu kompi berkekuatan 120 prajurit di bawah pimpinan Letnan Jacob van der Plaetten, berhasil menghalangi laju tentara Mataram pasca terjadinya pertempuran dahsyat.
Sementara beberapa kapal Belanda datang dari Banten dan Pulau Onrust, serta mendaratkan 200 prajurit. Kini kastil Belanda itu hanya dipertahankan oleh 530 prajurit. Sementara bagi Mataram, tambahan prajurit terus berdatangan.
Pasukan Mataram berikutnya tiba bulan Oktober 1628 dipimpin oleh Pangeran Mandurareja cucu Ki Juru Martani. Total seluruh pasukan Mataram ada 10.000 prajurit, termasuk yang tiba sebelum-sebelumnya.
Perang besar pun terjadi di Benteng Belanda. Pasukan Mataram yang unggul jumlah justru mengalami kekalahan besar, karena kurangnya perbekalan.
Mengetahui kekalahan ini, konon akhirnya Sultan Agung marah dan langsung melakukan tindakan tegas dimana pada Desember 1628, Sultan Agung mengirim algojo untuk menghukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja, karena dianggap gagal menjalankan misi ke Batavia.
Pada 25 Agustus, 27 kapal Mataram mulai berdatangan masuk ke Teluk Batavia, tetapi berlabuh agak jauh dari kastil. Di sebelah selatan Batavia, para tentara Mataram mulai tiba, dengan panji berkibar. Hal ini menunjukkan, Mataram telah menyatakan keinginannya memerangi Belanda.
Keesokan harinya, terhitung ada 1.000 prajurit Mataram mulai bersiaga di depan Batavia. Mereka sudah siap pertempuran di Batavia. Maka pada 27 Agustus 1628, satu kompi berkekuatan 120 prajurit di bawah pimpinan Letnan Jacob van der Plaetten, berhasil menghalangi laju tentara Mataram pasca terjadinya pertempuran dahsyat.
Sementara beberapa kapal Belanda datang dari Banten dan Pulau Onrust, serta mendaratkan 200 prajurit. Kini kastil Belanda itu hanya dipertahankan oleh 530 prajurit. Sementara bagi Mataram, tambahan prajurit terus berdatangan.
Pasukan Mataram berikutnya tiba bulan Oktober 1628 dipimpin oleh Pangeran Mandurareja cucu Ki Juru Martani. Total seluruh pasukan Mataram ada 10.000 prajurit, termasuk yang tiba sebelum-sebelumnya.
Perang besar pun terjadi di Benteng Belanda. Pasukan Mataram yang unggul jumlah justru mengalami kekalahan besar, karena kurangnya perbekalan.
Mengetahui kekalahan ini, konon akhirnya Sultan Agung marah dan langsung melakukan tindakan tegas dimana pada Desember 1628, Sultan Agung mengirim algojo untuk menghukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja, karena dianggap gagal menjalankan misi ke Batavia.
(shf)
Lihat Juga :