Peran Eks Menhan Amir Sjarifuddin Letuskan Tragedi Pemberontakan PKI di Madiun 1948
Jum'at, 04 Oktober 2024 - 09:00 WIB
Dikutip dari buku “Negara Madiun? Kesaksian Soemarsono Pelaku Perjuangan”, penculikan mulai terjadi di Kediri. Pasukan yang tak diketahui itu menculik pemimpin Serikat Buruh Dalam Negeri (Sebda), yang waktu itu melakukan pemogokan.
Tiga pemimpin mereka diculik dan hilang tak tahu jejaknya.Di Kediri, Soemarsono berunding dengan Amir Sjarifuddin dan Musso. Usai bertemu Musso, Musso meneruskan perjalanan ke Bojonegoro.
Komunikasi masih sempat terjadi antara Musso dan Soemarsono, mengenai kondisi di Madiun dan sekitarnya. Tapi pada perjalanannya, konon Musso tak jadi lagi ke Bojonegoro. Suatu hal yang membuatnya memutar arah kembali ke Madiun, tapi tak diketahui penyebabnya.
Baca juga: Kisah Prabu Sanna, Raja Ketiga Kerajaan Galuh Terkenal Bijaksana Cikal Bakal Mataram Kuno
Usai kedatangan ke Madiun itu pertempuran muncul, pertempuran ini terjadi jam 2 dini hari, hingga selesai pukul 05.30. Pasukan gelap yang tak diketahui itu berhadapan dengan bekas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), yang sudah menjadi TNI.
Laskar Pesindo sebagaimana kisah cerita dari Soemarsono, tidak dilibatkan secara langsung. Tapi karena di Madiun ada Batalyon TNI Brigade 29, dengan komandannya Kolonel Dachlan, maka itulah yang digunakan menumpas pertempuran.
Tiga pemimpin mereka diculik dan hilang tak tahu jejaknya.Di Kediri, Soemarsono berunding dengan Amir Sjarifuddin dan Musso. Usai bertemu Musso, Musso meneruskan perjalanan ke Bojonegoro.
Komunikasi masih sempat terjadi antara Musso dan Soemarsono, mengenai kondisi di Madiun dan sekitarnya. Tapi pada perjalanannya, konon Musso tak jadi lagi ke Bojonegoro. Suatu hal yang membuatnya memutar arah kembali ke Madiun, tapi tak diketahui penyebabnya.
Baca juga: Kisah Prabu Sanna, Raja Ketiga Kerajaan Galuh Terkenal Bijaksana Cikal Bakal Mataram Kuno
Usai kedatangan ke Madiun itu pertempuran muncul, pertempuran ini terjadi jam 2 dini hari, hingga selesai pukul 05.30. Pasukan gelap yang tak diketahui itu berhadapan dengan bekas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), yang sudah menjadi TNI.
Laskar Pesindo sebagaimana kisah cerita dari Soemarsono, tidak dilibatkan secara langsung. Tapi karena di Madiun ada Batalyon TNI Brigade 29, dengan komandannya Kolonel Dachlan, maka itulah yang digunakan menumpas pertempuran.
Lihat Juga :