Kisah Keke Panagian: Legenda dari Minahasa Sulawesi Utara

Minggu, 02 Juni 2024 - 15:09 WIB
Panagian tumbuh menjadi gadis yang cantik, berbudi pekerti baik, dan sangat penyayang. Rasa sayangnya bukan hanya kepada sesama manusia tetapi juga kepada hewan. Suatu hari, Panagian menghilang dan membuat seluruh desa mencarinya. Ia ditemukan di pinggir danau karena mengikuti anak kucing yang kehujanan.

Di kesempatan lain, Panagian hampir hanyut di sungai saat berusaha menyelamatkan temannya yang tergelincir. Kejadian-kejadian ini membuat Pontohroring dan Mamalauan sangat melindungi Panagian dengan membuat banyak larangan.

Seiring bertambahnya usia Panagian, larangan orang tuanya semakin ketat. Panagian tidak diizinkan bepergian sendiri, terlebih di malam hari. Teman-temannya kerap bermain di luar rumah, tetapi Panagian hanya bisa bermain di rumah bersama mereka.

Rasa sedih semakin menumpuk ketika desa Wanua Uner menggelar pesta syukur selepas musim panen, yang sangat dinantikan oleh semua warga. Dalam pesta tersebut, tarian Maengket, yang menggambarkan rasa syukur atas panen yang berhasil, menjadi sorotan utama. Panagian sangat ingin ikut serta, tetapi orang tuanya tidak mengizinkan.

Baca Juga: Legenda Sumur Bandung dan Kisah None Belanda Temani Wisatawan

Pada hari pesta, suasana desa sangat meriah. Panagian hanya bisa mendengar keramaian dari balik jendela kamarnya. Ketika malam tiba, Panagian berdandan dengan baju terbaiknya dan memohon izin kepada orang tuanya sekali lagi. Namun, Pontohroring dan Mamalauan tetap tidak mengizinkannya. Panagian merasa sangat kecewa dan sedih.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!