Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda

Minggu, 16 Agustus 2020 - 05:00 WIB
Letnan kelas 1 A.P. Tadema, komandan MS Soembing, segera mengirim kapal pemerintah, Sampit, yang dikepalai oleh LJC. Cocheret de la Moriniere, dan sebuah sekoci bersenjata, di bawah komando Letnan kelas 2 C.

Beels. Mereka ditugaskan untuk merebut kembali kapal yang hilang secepat mungkin. Kapal uap Pontaniak, dipimpin oleh Letnan 1 kelas PMWT. Krayenhoff van de Leur, meninggalkan Palembang dengan misi yang sama.

Kapal-kapal itu memasuki sungai Dendang, dan dengan cepat ditembaki oleh penata yang tertangkap, namun berhasil menangkal api dengan meriam mereka.

Hal ini menyebabkan penangkapan kembali kapal penjelajah. Dalam perjalanan pulang, kapal-kapal itu kembali mendapat serangan dan seorang pelaut, De Jong, terbunuh. (Baca: Radio Tak Bersegel, Rengasdengklok dan Proklamasi Kemerdekaan RI).

Musuh terus melucuti kapal-kapal Belanda, yang berpuncak pada serangan pada tanggal 14 November saat kapal uap Ophir, dari Perusahaan Hindia Timur, mendapat tembakan berat di sebuah desa yang berjarak sekitar satu jam dari Jambi.

Pada malam tanggal 21 dan 22 November, MS Soembing juga mendapat banyak tembakan. Serangan hanya berhenti saat MS Pontaniak datang untuk membantu Soembing.

Keesokan paginya, pangkalan tempat serangan diluncurkan ditemukan dan dihancurkan, mengakhiri revolusi tersebut.

Sumber:

wikipedia

diolah dari berbagai sumber
(nag)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!