Kisah Samudera Pasai, Kerajaan Islam Pertama Nusantara yang Kuasai Perdagangan Internasional
Minggu, 25 Februari 2024 - 06:14 WIB
Di sisi lain, ada seorang pengembara muslim dari Maghribi bernama Ibnu Bathutah sebagaimana dikutip laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh, mengunjungi Pasai tahun 1346 M. ia juga menceritakan bahwa, ketika ia di Cina, dirinya melihat adanya kapal Sultan Pasai di negeri Cina.
Memang sumber-sumber Cina ada yang menyebutkan, utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi lain juga menyebutkan, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat pada tahun 1282 M. Ini membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan luar.
Pada masa jayanya, Kesultanan Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada.
Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.
Secara sistem politik di Kesultanan Samudera Pasai pasca Sultan Malik al-Saleh wafat, maka pemerintahannya digantikan oleh keturunannya yaitu Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malik al-Tahir I (1297 – 1326). Pengganti dari Sultan Muhammad adalah Sultan Ahmad yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir II (1326 – 1348).
Semasa Sultan Ahmad yang naik tahta bergelar Sultan Maling al-Tahir II pada tahun 1326 - 138, Samudera Pasai terus berkembang. Bahkan kerajaan ini menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan Islam di India dan Arab.
Bahkan melalui catatan kunjungan Ibnu Batutah seorang utusan dari Sultan Delhi tahun 1345 dapat diketahui Samudera Pasai merupakan pelabuhan yang penting dan istananya disusun dan diatur secara India dan patihnya bergelar Amir. Pada masa selanjutnya pemerintahan Samudera Pasai tidak banyak diketahui karena pemerintahan Sultan Zaenal Abidin yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir III kurang begitu jelas.
Kondisi pemerintahan dan politik internal kerajaan yang stabil, membuat kondisi ekonomi Kerajaan Samudera Pasai cukup stabil. Apalagi hal ini didukung dengan lokasi Kerajaan Samudera Pasai yang strategis di antara Selat Malaka dan Samudera Hindia.
Tak ayal banyak pedagang - pedagang dari luar negeri singgah, lambat laun Kerajaan Samudera Pasai mampu menggantikan peran Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat bandar dagang di kawasan Selat Malaka.
Memang sumber-sumber Cina ada yang menyebutkan, utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi lain juga menyebutkan, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat pada tahun 1282 M. Ini membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan luar.
Pada masa jayanya, Kesultanan Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada.
Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.
Secara sistem politik di Kesultanan Samudera Pasai pasca Sultan Malik al-Saleh wafat, maka pemerintahannya digantikan oleh keturunannya yaitu Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malik al-Tahir I (1297 – 1326). Pengganti dari Sultan Muhammad adalah Sultan Ahmad yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir II (1326 – 1348).
Semasa Sultan Ahmad yang naik tahta bergelar Sultan Maling al-Tahir II pada tahun 1326 - 138, Samudera Pasai terus berkembang. Bahkan kerajaan ini menjalin hubungan dengan berbagai kerajaan Islam di India dan Arab.
Bahkan melalui catatan kunjungan Ibnu Batutah seorang utusan dari Sultan Delhi tahun 1345 dapat diketahui Samudera Pasai merupakan pelabuhan yang penting dan istananya disusun dan diatur secara India dan patihnya bergelar Amir. Pada masa selanjutnya pemerintahan Samudera Pasai tidak banyak diketahui karena pemerintahan Sultan Zaenal Abidin yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir III kurang begitu jelas.
Kondisi pemerintahan dan politik internal kerajaan yang stabil, membuat kondisi ekonomi Kerajaan Samudera Pasai cukup stabil. Apalagi hal ini didukung dengan lokasi Kerajaan Samudera Pasai yang strategis di antara Selat Malaka dan Samudera Hindia.
Tak ayal banyak pedagang - pedagang dari luar negeri singgah, lambat laun Kerajaan Samudera Pasai mampu menggantikan peran Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat bandar dagang di kawasan Selat Malaka.
Lihat Juga :