Kisah Pilu Kehidupan Warga Bedeng di Bawah Jembatan Arteri Semarang

Minggu, 09 Agustus 2020 - 17:47 WIB
Juwariyah (45), salah seorang warga memiliki cerita sendiri selama menetap di rumah bedeng. Ia bersama suami dan kedua anaknya sudah 1,5 tahun tinggal di rumah bedeng. Meski sudah terbiasa, Juwariyah harus berjibaku memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pasalnya, sang suami sedang mengalami sakit sehingga tak bisa mencari nafkah. (Baca juga: Terduga Pengedar Narkoba Meninggal Usai Diperiksa di Polresta Barelang)



“Suami saya sakit kakinya patah sudah 1,5 tahun tak melaut. Sehingga saya harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan jualan di warung,” ungkap Juwariyah kepada SINDOnews, Minggu(9/8/2020). Soal tidur, mereka terbisa umpel-umpelan (berdesak-desakan). "Kalau tidur jam 10 malam. Awalnya sempat takut karena kepikiran tertimpa kendaraan dari atas jembatan," ungkapnya.

Sementara warga lainnya bernama Solikatun (40) mempunyai cerita yang kurang mengenakkan ketika harus antre untuk sekadar mandi dan buang air besar (BAB). "Saat mau mandi apalagi buang air besar harus antre hingga setengah jam lebih. Bagaimana kalau kebelet (tak bisa menahan). Waktu pas lagi di dalam kamar mandi pernah digedor-gedor karena mungkin terlalu lama," kata imbuh ibu dua anak ini.

Sisi lain, ia mengkhawatirkan kondisi kesehatan anak-anaknya selama tinggal di rumah bedeng yang minim sirkulasi udara. "Selama disini anak saya pernah ngalami sakit TBC, padahal sebelumnya enggak pernah. Tapi Alhamdulillah sudah sembuh. Dan sekarang sudah terbiasa hidup disini. Adanya kereta kelinci setidaknya bisa jadi hiburan anak, kalau nggak ada ya bisa stres," ungkapnya.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!