Mau Melahirkan, Ibu Hamil Ditolak RS-Bidan dan Harus Jalan Kaki 5 Km
Kamis, 30 April 2020 - 08:48 WIB
"Istri saya ditolak melahirkan di RS dengan alasan corona gitu, katanya ruangan penuh. Awalnya kan masuk IGD lalu ditangani petugas, lalu dibiarkan selama sekitar setengah jam, katanya belum mau melahirkan. Lalu tiba-tiba diusir alasannya corona dan ruangan penuh, saya disuruh bawa istri pulang. Saya jalan kaki pulang sekitar 5 kilometer enggak terpikir istri akan melahirkan di jalan karena pikiran saya sedang kacau. Sampai di rumah istri saya suruh tiduran karena perutnya sakit, lalu orang punya rumah mengajak kami bawa ke klinik bunda ini, untungnya disini diterima di suruh masuk ke kamar bersalin. sekitar jam 2 anak saya lahir," kata Danang.
Yenni Fitri, pengelola rumah bersalin Bunda, bidan praktek swasta di Jalan Kinantan, Bukik Ambacang menyebutkan bahwa pasiennya datang pukul 01.15 WIB. Saat itu Diana datang dengan wajah kuyu dan sedih serta memegang perut. Diana kesakitan dan dipastikan akan segera melahirkan.
"Saya hanya berpikir ini tanggungjawab saya sebagai bidan yang menghadapi pasien dalam dilema seperti ini. hanya itu. Tadi malam saat datang pembukaannya sudah lengkap dan sudah mau lahir. Kami sampai tidak sempat pasang alat pelindung diri, hanya pakai sarung tangan, sekitar 25 menit kemudian bayi lahir. Ibunya tidak pandai melahirkan padahal kepala janin sudah masuk rongga panggul, karena faktor baru pertama melahirkan anak dan stres," ungkap Yenni.
Sekitar pukul 01.50, lahir bayi laki-laki dengan berat 3 kg dan panjang 40 cm. Kepada Yenni, Danang dan Diana mengatakan akan memberi nama bayinya dengan akhiran Ramadhan, karena lahir di bulan Ramadhan.
Untuk mencegah penularan COVID-19 pada bayi, bidan melengkapi bayi dengan alat pelindung wajah atau face shield untuk dibawa dan digunakan di RS saat diperlukan.
Yenni Fitri, pengelola rumah bersalin Bunda, bidan praktek swasta di Jalan Kinantan, Bukik Ambacang menyebutkan bahwa pasiennya datang pukul 01.15 WIB. Saat itu Diana datang dengan wajah kuyu dan sedih serta memegang perut. Diana kesakitan dan dipastikan akan segera melahirkan.
"Saya hanya berpikir ini tanggungjawab saya sebagai bidan yang menghadapi pasien dalam dilema seperti ini. hanya itu. Tadi malam saat datang pembukaannya sudah lengkap dan sudah mau lahir. Kami sampai tidak sempat pasang alat pelindung diri, hanya pakai sarung tangan, sekitar 25 menit kemudian bayi lahir. Ibunya tidak pandai melahirkan padahal kepala janin sudah masuk rongga panggul, karena faktor baru pertama melahirkan anak dan stres," ungkap Yenni.
Sekitar pukul 01.50, lahir bayi laki-laki dengan berat 3 kg dan panjang 40 cm. Kepada Yenni, Danang dan Diana mengatakan akan memberi nama bayinya dengan akhiran Ramadhan, karena lahir di bulan Ramadhan.
Untuk mencegah penularan COVID-19 pada bayi, bidan melengkapi bayi dengan alat pelindung wajah atau face shield untuk dibawa dan digunakan di RS saat diperlukan.
(shf)
Lihat Juga :