Kisah Matah Ati, Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran yang Hancurkan Belanda
Minggu, 30 Juli 2023 - 08:32 WIB
Selama berada di Istana Mangkunegaran, prajurit wanita ini juga memiliki tugas menghibur tamu-tamu kerajaan, karena mereka bisa menjadi sinden, wiyogo, serta memainkan tarian bedhaya, srimpi, munggeng kelir, hingga taledhekan. Sebagai bagian dari prajurit tempur, para wanita tersebut memiliki jiwa korps yang kuat. Mereka sangat setia kawan, dan sangat disegani oleh lawan-lawannya.
Pasukan Estri Ladrang Mangungkung beranggotakan 60 prajurit wanita pilihan. Mereka selalu mengendarai kuda, dan memiliki senapan, dan wedung yang merupakan senjata khusus untuk para wanita. Para prajurit wanita pilihan ini, juga bertugas mengawal keselamatan istri KGPAA Mangkunegara I, serta para wanita keluarga Mangkunegaran.
Keberadaan pasukan estri tetap dipertahankan, setelah Pangeran Sambernayawa atau KGPAA Mangkunegara I mangkat. Pasukan khusus beranggotakan para wanita tersebut, bergabung dalam pasukan yang lebih besar, yakni Legiun Mangkunegaran.
Pasukan Legiun Mangkunegaran ini, dibentuk dan dikembangkan oleh Mangkunegara II, pada tahun 1808. Mangkunegara II memiliki visi yang sangat kuat dalam pembentukan pasukan elite tempur Legiun Mangkunegaran.
Tak hanya mengadopsi Grande Armee, pembentukan Legiun Mangkunegaran juga mengadopsi Legionnaire atau Legiun, sebuah organisasi militer Perancis, yang berarti pasukan bala tentara. Pasukan tempur dari Tanah Jawa ini, mengadopsi militer Perancis secara fisik, persenjataan, taktik, dan organisasi.
Untuk pembentukan pasukan Legiun Mangkunegaran, Mangkunegara II sampai harus mendatangkan pelatih profesional yang merupakan perwira-perwira militer Belanda, Perancis, dan Inggris. Para perwira tersebut, bertugas menggembleng para prajurit Legiun Mangkunegaran.
Para prajurit yang tergabung dalam Legiun Mangkunegaran, mendapatkan pelatihan untuk pergerekan pasukan dengan mobilitas tinggi menggunakan kuda, baik untuk pasukan infanteri, kavaleri, maupun artileri. Mereka memiliki kemampuan bertahan dalam pertempuran jangka panjang, dan keahlian anti gerilya.
Baca juga: Kisah Siasat Raja Mataram Utus Wanita Cantik untuk Taklukkan Madiun
Jurnalis senior Iwan Santosa dalam bukunya yang berjudul "Legiun Mangkunegaran (1808-1942)", menyebutkan pembentukan Legiun Mangkunegaran tak lepas dari peran serta Kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte, tepatnya saat Perancis menguasai Hindia Belanda.
Legiun Mangkunegaran menjelma menjadi kekuatan pasukan militer paling modern di Asia. Iwan Santosa dalam tulisannya menyebutkan, Legiun Mangkunegaran merupakan pembaruan radikal di bidang militer yang terjadi jauh sebelum adanya restorasi Meiji di Jepang, dan tumbangnya Dinasti Qing di China.
Legiun Mangkunegaran termasuk di dalamnya Pasukan Estri Ladrang Mangungkung, telah terlibat dalam banyak pertempuran. Mulai dari perang Jawa tahun 1825-1830, perang Aceh tahun 1873, menumpas bajak laut di Bangka, pada tahun 1919-1920.
Pasukan ini juga terlibat dalam pertempuran sengit untuk mempertahankan Jawa, dari serangan Jepang, saat pecah perang dunia kedua pada tahun 1942. Legiun Mangkunegaran, mampu bertahan sampai masa kekuasaan Mangkunegara VII.
Pasukan Estri Ladrang Mangungkung beranggotakan 60 prajurit wanita pilihan. Mereka selalu mengendarai kuda, dan memiliki senapan, dan wedung yang merupakan senjata khusus untuk para wanita. Para prajurit wanita pilihan ini, juga bertugas mengawal keselamatan istri KGPAA Mangkunegara I, serta para wanita keluarga Mangkunegaran.
Pasukan Estri Bergabung ke Legiun Mangkunegaran
Keberadaan pasukan estri tetap dipertahankan, setelah Pangeran Sambernayawa atau KGPAA Mangkunegara I mangkat. Pasukan khusus beranggotakan para wanita tersebut, bergabung dalam pasukan yang lebih besar, yakni Legiun Mangkunegaran.
Pasukan Legiun Mangkunegaran ini, dibentuk dan dikembangkan oleh Mangkunegara II, pada tahun 1808. Mangkunegara II memiliki visi yang sangat kuat dalam pembentukan pasukan elite tempur Legiun Mangkunegaran.
Tak hanya mengadopsi Grande Armee, pembentukan Legiun Mangkunegaran juga mengadopsi Legionnaire atau Legiun, sebuah organisasi militer Perancis, yang berarti pasukan bala tentara. Pasukan tempur dari Tanah Jawa ini, mengadopsi militer Perancis secara fisik, persenjataan, taktik, dan organisasi.
Untuk pembentukan pasukan Legiun Mangkunegaran, Mangkunegara II sampai harus mendatangkan pelatih profesional yang merupakan perwira-perwira militer Belanda, Perancis, dan Inggris. Para perwira tersebut, bertugas menggembleng para prajurit Legiun Mangkunegaran.
Para prajurit yang tergabung dalam Legiun Mangkunegaran, mendapatkan pelatihan untuk pergerekan pasukan dengan mobilitas tinggi menggunakan kuda, baik untuk pasukan infanteri, kavaleri, maupun artileri. Mereka memiliki kemampuan bertahan dalam pertempuran jangka panjang, dan keahlian anti gerilya.
Baca juga: Kisah Siasat Raja Mataram Utus Wanita Cantik untuk Taklukkan Madiun
Jurnalis senior Iwan Santosa dalam bukunya yang berjudul "Legiun Mangkunegaran (1808-1942)", menyebutkan pembentukan Legiun Mangkunegaran tak lepas dari peran serta Kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte, tepatnya saat Perancis menguasai Hindia Belanda.
Legiun Mangkunegaran menjelma menjadi kekuatan pasukan militer paling modern di Asia. Iwan Santosa dalam tulisannya menyebutkan, Legiun Mangkunegaran merupakan pembaruan radikal di bidang militer yang terjadi jauh sebelum adanya restorasi Meiji di Jepang, dan tumbangnya Dinasti Qing di China.
Legiun Mangkunegaran termasuk di dalamnya Pasukan Estri Ladrang Mangungkung, telah terlibat dalam banyak pertempuran. Mulai dari perang Jawa tahun 1825-1830, perang Aceh tahun 1873, menumpas bajak laut di Bangka, pada tahun 1919-1920.
Pasukan ini juga terlibat dalam pertempuran sengit untuk mempertahankan Jawa, dari serangan Jepang, saat pecah perang dunia kedua pada tahun 1942. Legiun Mangkunegaran, mampu bertahan sampai masa kekuasaan Mangkunegara VII.
(eyt)
Lihat Juga :