Penyiksaan Romusha Bikin Darah Shodanco Soeprijadi Mendidih dan Meletuskan Pemberontakan saat Valentine

Selasa, 14 Februari 2023 - 10:16 WIB
Senja merah di Pantai Serang, Kabupaten Blitar, menghadirkan keindahan dan kedamaian. Di pantai ini, 78 tahun silam Shodanco Soeprijadi mengobarkan pemberontakan terhadap Jepang. Foto/Dok.SINDOnews/Yuswantoro
Pemuda dan pemudi dengan penuh semangat, berdiri berjajar di pesisir Pantai Serang. Para pemuda dan pemudi dari Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar tersebut, dengan khusyuk memanjatkan doa, lalu dengan langkah tegap mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan desa.

Baca juga: Kisah Soedirman jadi Panglima TKR di Tengah Perang Dingin Perwira PETA dan KNIL



Mereka berjalan penuh semangat, menuju Kota Blitar, yang jaraknya sekitar 42 km. Jarak yang begitu membentang tak membuat nyali mereka surut. Dari pagi saat matahari baru saja terbit, mereka berjalan kaki hingga metahari itu terbenam di barat.

Hujan deras membasahi tubuh mereka, namun tak juga membuat langkah mereka surut dan semangatnya luntur. Di antara para pemuda dan pemudi Desa Serang tersebut, nampak Kepala Desa (Kades) Serang, Dwi Handoko berjalan di barisan depan.

Baca juga: Kisah Kedahsyatan Pasukan Estri Ladrang Mangungkung, Berisi Prajurit Wanita yang Luwes namun Mematikan

Berbagai foto dan video perjalanan para pemuda dan pemudi dari Pantai Serang, hingga ke Kota Blitar tersebut, banyak diunggah oleh Dwi Handoko di akun media sosialnya. Mereka berjalan kaki menyusuri perbukitan terjal, lembah, hingga sampai di tengah kota, Senin (13/2/2023).

Jalan kaki puluhan kilometer itu, sengaja digelar oleh para pemuda dan pemudi di Blitar, bukan untuk menyambut Hari Valentine atau hari kasih sayang pada Selasa (14/2/2023). Namun, sebagai sebuah penanda semangat memperingati sosok Shodanco Soeprijadi.

Semangat itu masih menyala, meskipun peristiwanya telah berlalu 78 tahun silam, dan sang shodanco hingga kini lenyap bak ditelan bumi. Ya, tepat di tanggal 14 Februari 1945, saat semua masih terlelap menantikan perayaan hari kasih sayang, Shodanco Soeprijadi dengan penuh keberanian, dan semangat, memimpin anggotanya meledakkan pemberontakan terhadap Jepang.

Pemberontakan itu dilakukan oleh Shodanco Soeprijadi, bersama pasukannya yang tergabung dalam Pembela Tanah Air (PETA). Sebelum memasuki Kota Blitar, tempat markas tentara Jepang berada, Sudhanco Soeprijadi memimpin pasukannya berjalan kaki dari markas PETA di Pantai Serang.

Shodanco merupakan komandan peleton yang membawahi 26-55 personel. Dalam militer Jepang, Shodanco termasuk golongan perwira yang struktur kepangkatannya di bawah Chudanco atau komandan kompi yang memiliki 80-225 personel.

Baca juga: Kisah Serunting Sakti, Si Pahit Lidah yang Bersenjatakan Sumpah dan Kutukan

Bersama anak buahnya, Shodanco Soeprijadi oleh Jepang ditempatkan di pantai selatan Serang. Keberadaan markas PETA pimpinan Shodanco Soeprijadi di Pantai Serang, juga diyakini oleh warga Desa Serang. Sayangnya, sisa-sisa markas tersebut telah musnah seiring berkembangnya permukiman warga.

Tiga bulan setelah menaklukkan Belanda, yakni Juni 1942, Jepang melakukan penguatan pasukan sekaligus menjaga seluruh kawasan Indonesia. Terutama perairan yang berpotensi menjadi pintu masuk musuh.

Organisasi sukarelawan Jawa Boei Giyugun (Giyugun) atau lebih dikenal dengan PETA langsung didirikan. Rekrutmen besar-besaran seketika digelar. PETA yang diisi putra-putra Indonesia, di awal pendiriannya memiliki 33 batalyon dengan masing-masing 522 prajurit dan perwira.

Perwira PETA atau setingkat Shodanco sebagian besar berasal dari golongan priyayi, yakni baik priyayi rendah maupun priyayi tinggi, termasuk bangsawan. Bahkan dalam seleksi sebanyak 2.088 calon perwira (1942-1943) PETA di Bogor, Jawa Barat, terdapat 11 pangeran muda Jawa, yang 10 di antaranya datang dari Solo dan satu orang dari Yogyakarta.

Selain alasan latar belakang pendidikan yang lebih maju, sehat jasmani dan rohani, kedudukan sosial tinggi di masyarakat menjadi pertimbangan pemilihan perwira PETA. Kedudukan sosial tinggi dianggap akan menguntungkan Jepang.

Baca juga: Legiun Mangkunegaran, Unit Pasukan Khusus yang Mampu Tandingi Militer Eropa
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!