Kisah Soedirman jadi Panglima TKR di Tengah Perang Dingin Perwira PETA dan KNIL
Senin, 13 Februari 2023 - 04:19 WIB
Oerip Soemohardjo lahir di Purworejo Jawa Tengah 23 Februari 1893. Ia menyandang predikat perwira teladan dalam pendidikan militer Hindia Belanda. Di KNIL Oerip berpangkat letnan dua.
Oerip sadar, jumlah bekas perwira PETA di dalam TKR lebih banyak. Namun ia juga tahu pengalaman militer yang dimiliki para bekas perwira PETA masih di bawah KNIL. Minimnya pengalaman itu, yang membuat Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin sempat meragukan kemampuan tempur para eks perwira PETA.
Bahkan sebagai menteri keamanan, posisi Amir lebih dekat dengan bekas perwira KNIL daripada PETA. Tugas Oerip sebagai pimpinan TKR adalah membenahi persoalan yang terjadi di dalam institusinya.
Baca juga: Asyik Saling Tindih di Kamar Hotel saat Hujan, 9 Pasangan Mesum Digerebek Petugas Gabungan
Dalam rapat di Yogyakarta, seluruh perwira berpangkat letnan kolonel ke atas atau komandan resimen, hadir. Suasana rapat sejak awal tidak memperlihatkan suasana kedisiplinan sebuah institusi militer.
Para peserta yang hadir bergaya ala koboi dengan pistol terselip di pinggang. Rapat berubah panas saat kolonel Holland Iskandar, mantan perwira PETA tiba-tiba melontarkan interupsi.
Holland meminta dilakukan pemilihan panglima atau pimpinan tertinggi TKR yang baru berumur seminggu. Oerip tak mampu mengendalikan situasi. Tujuan rapat yang awalnya untuk menyelesaikan persaingan antara bekas perwira PETA dan KNIL bergeser menjadi pemilihan pimpinan tertinggi TKR.
Mekanisme pemilihan votingpun digelar. Sejumlah nama kandidat bermunculan, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Nasir (mantan pelaut yang pernah bekerja di angkatan laut Jepang), Wijoyo Suryokusumo, dan GPH Purwonegoro.
Oerip sadar, jumlah bekas perwira PETA di dalam TKR lebih banyak. Namun ia juga tahu pengalaman militer yang dimiliki para bekas perwira PETA masih di bawah KNIL. Minimnya pengalaman itu, yang membuat Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin sempat meragukan kemampuan tempur para eks perwira PETA.
Bahkan sebagai menteri keamanan, posisi Amir lebih dekat dengan bekas perwira KNIL daripada PETA. Tugas Oerip sebagai pimpinan TKR adalah membenahi persoalan yang terjadi di dalam institusinya.
Baca juga: Asyik Saling Tindih di Kamar Hotel saat Hujan, 9 Pasangan Mesum Digerebek Petugas Gabungan
Dalam rapat di Yogyakarta, seluruh perwira berpangkat letnan kolonel ke atas atau komandan resimen, hadir. Suasana rapat sejak awal tidak memperlihatkan suasana kedisiplinan sebuah institusi militer.
Para peserta yang hadir bergaya ala koboi dengan pistol terselip di pinggang. Rapat berubah panas saat kolonel Holland Iskandar, mantan perwira PETA tiba-tiba melontarkan interupsi.
Holland meminta dilakukan pemilihan panglima atau pimpinan tertinggi TKR yang baru berumur seminggu. Oerip tak mampu mengendalikan situasi. Tujuan rapat yang awalnya untuk menyelesaikan persaingan antara bekas perwira PETA dan KNIL bergeser menjadi pemilihan pimpinan tertinggi TKR.
Mekanisme pemilihan votingpun digelar. Sejumlah nama kandidat bermunculan, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Nasir (mantan pelaut yang pernah bekerja di angkatan laut Jepang), Wijoyo Suryokusumo, dan GPH Purwonegoro.
Lihat Juga :