Kisah Soedirman jadi Panglima TKR di Tengah Perang Dingin Perwira PETA dan KNIL

Senin, 13 Februari 2023 - 04:19 WIB
Kemudian juga Laksamana M. Pardi (Kepala TKR Laut), Suryadi Suryadarma, Soedirman dan Oerip sendiri. Dari hasil pemilihan awal mengerucut menjadi dua nama, yakni Soedirman yang merupakan komandan resimen TKR Banyumas dan Oerip Soemohardjo.

Baca juga: Kecantikan Roro Hoyi yang Membuat Amangkurat I Gelap Mata, Gantung Adipati Surabaya di Alun-alun

Proses pemilihan dilanjut. Hasilnya, Oerip yang lebih senior dan dianggap lebih berpengalaman hanya mengantongi 21 suara. Sedangkan Soedirman memperoleh dukungan 23 suara.

Sebanyak enam suara dukungan kepada Soedirman di antaranya disumbang dari resimen TKR di Sumatera. Para perwira TKR Sumatera sebagian besar adalah bekas Gyugun, yakni tentara sukarela semacam PETA.

Pada 18 Desember 1945, Soedirman resmi diangkat atau ditetapkan sebagai Panglima Besar TKR. Sementara Oerip Soemohardjo tetap menjadi kepala staf, yakni jabatan setingkat lebih rendah dari panglima.

Meski demikian, Oerip tetap loyal. Dengan diplomatis ia mengatakan Soedirman lebih cocok sebagai panglima dibanding dirinya. Karena sebagian besar prajurit TKR merupakan bekas anggota PETA.

Jenderal Soedirman merupakan satu-satunya Panglima Besar TNI yang dipilih berdasarkan mekanisme voting. Sebab setelah itu penunjukkan Panglima TNI menjadi hak prerogatif Presiden.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!