Cuma Kena Surat Peringatan, Perusahaan Rambut Palsu Bebas Sanksi

Kamis, 12 Maret 2015 - 11:22 WIB
Cuma Kena Surat Peringatan,...
Cuma Kena Surat Peringatan, Perusahaan Rambut Palsu Bebas Sanksi
A A A
BANTUL - Keracunan massal yang menimpa ratusan karyawan perusahaan rambut palsu, PT Dong Young Tress sudah hampir dua bulan, tapi belum ada sanksi ataupun peringatan tertulis dari Pemkab Bantul.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul Susanto mengatakan, pihaknya sudah selesai menyusun surat peringatan (SP) yang rencananya akan diberikan kepada perusahaan yang ada di Kecamatan Piyungan tersebut. SP tersebut sudah di tangan bupati dan menunggu ditandatangani setelah sebelumnya dikaji Bagian Hukum Pemkab Bantul. “Katanya sudah ditandatangani.

Akan tetapi belum saya cek ke staf saya,” tutur Susanto, kemarin. Menurut Susanto, SP kali ini merupakan yang kedua yang dikeluarkan Pemkab Bantul. Yang pertama dikeluarkan oleh Disnakertrans tahun lalu setelah terjadi kasus keracunan massal yang pertama. Sementara, SP kali ini dikeluarkan Bupati sebagai bentuk konsekuensi atas terulangnya kembali kasus keracunan massal perusahaan yang sama.

Kali ini, perusahaan harus benar-benar melaksanakan apa yang tertera dalam klausul SP terbaru tersebut. Beberapa hal yang harus dipenuhi perusahaan di antaranya perihal pemilihan perusahaan penyedia jasa katering. Selain itu, perusahaan juga harus memperbaiki sistem lembur mereka terhadap para karyawan.

“Hal tersebut memang selama ini menjadi sorotan berbagai pihak,” paparnya. Selain itu, perusahaan juga harus segera membayar upah karyawan sesuai dengan ketentuan yaitu Upah Minimum Regional (UMR). Karena selama ini ditemukan perusahaan tersebut tidak membayar upah karyawan sesuai UMR. Perusahaan juga harus memberikan hak karyawan sesuai ketentuan yang berlaku.

Perusahaan juga harus mengubah sistem kontrak karyawan yang bekerja pada mereka. Perusahaan harus memberi kesempatan atau hak karyawan perempuan untuk cuti melahirkan. Selama ini ditemukan fakta jika karyawan yang akan melahirkan dipaksa berhenti dan keluar dari perusahaan, jika ingin menjadi karyawan harus mendaftar dari awal.

Hak mereka seperti gaji ataupun tunjangan lainnya dihitung sebagai karyawan baru. “Itu benar-benar melanggar hak buruh. SP ini harus dipatuhi,” katanya. Susanto mengungkapkan, pihaknya berencana akan memanggil pihak perusahaan dalam pekan ini. Mereka dipanggil untuk menerima SP tersebut sekaligus menandatangani kesanggupan melaksanakannya.

Namun, Susanto masih bungkam ketika ditanya mengapa tidak ada sanksi tegas terhadap PT Dong Young Tress. Akibat kasus keracunan tersebut, pihak perusahaan sampai saat ini masih belum boleh melaksanakan lembur. Mereka baru boleh melaksanakan lembur setelah mendapat izin dari Disnakertrans atas rekomendasi Dinas Kesehatan (Dinkes) yang mengatur tentang katering.

“Bagi kami, larangan lembur itu sudah sanksi. Karena mereka dilarang lembur ketika pesanan yang masuk ke tempat mereka tinggi,” katanya. Bupati Bantul Sri Suryawidati menandaskan, pihaknya sudah mengeluarkan SP terkait dengan keracunan massal yang kembali melanda PT Dong Young Tress.

Beberapa ketentuan harus segera dipenuhi oleh perusahaan mulai dari sistem perekrutan katering, sistem lembur, upah minimum, dan hak karyawan perempuan. “Sudah saya keluarkan, untuk penyerahan tergantung Disnakertrans,” ujarnya.

Erfanto linangkung
(bhr)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Kemenkes Tunggak 80%...
Kemenkes Tunggak 80% Pembayaran Penanganan COVID-19 ke RSUD Yogya
Berita Terkini
Peradi Profesional-Unisba...
Peradi Profesional-Unisba Perkuat Pendidikan Hukum dan Pengembangan Profesi Advokat
12 menit yang lalu
Perkuat Ekonomi Maluku...
Perkuat Ekonomi Maluku Utara, APHI Dorong Penerapan Multiusaha Kehutanan
21 menit yang lalu
Apresiasi Polda Sumut...
Apresiasi Polda Sumut Ungkap Ribuan Kasus Narkoba, Sahroni: Kejar Bandarnya, Selamatkan Masyarakat!
51 menit yang lalu
Prajurit TNI Kodam XVII...
Prajurit TNI Kodam XVII Cenderawasih Tewas Dikeroyok Sembilan Orang di Kabupaten Tangerang
1 jam yang lalu
Dukung Penguatan Ekonomi...
Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan, Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM di Mojokerto
1 jam yang lalu
Korban Terakhir Ledakan...
Korban Terakhir Ledakan Gas di Rumah Mewah di Medan Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Ditutup
4 jam yang lalu
Infografis
Jangan Pakir Sembarangan,...
Jangan Pakir Sembarangan, Ini Aturan Agar Tak Kena Sanksi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved