Belanda Hampir Bangkrut, Tanam Paksa Diberlakukan

Minggu, 08 Maret 2015 - 05:00 WIB
Belanda Hampir Bangkrut,...
Belanda Hampir Bangkrut, Tanam Paksa Diberlakukan
A A A
Setelah perang melawan Pangeran Diponegoro (1825-1830), Belanda mengalami defisit anggaran negara. Untuk mengatasi masalah tersebut, sistem tanam paksa (cultuur stelsel) diberlakukan.

Belanda hampir mengalami kebangkrutan, setelah perang terbesar di Tanah Jawa itu terjadi. Untuk menutupi uang kas negara, Gubernur Jenderal Van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa.

Sistem tanam paksa juga dilatar belakangi asumsi bahwa desa-desa di Jawa berutang sewa tanah kepada pemerintah, yang biasanya diperhitungkan senilai 40%, dari hasil panen utama desa yang bersangkutan.

Van den Bosch ingin setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanam komoditi ekspor ke Eropa (kopi, tebu, dan nila). Penduduk dipaksa untuk menggunakan sebagian tanah garapan (minimal seperlima luas, 20%) dan menyisihkan sebagian hari kerja untuk bekerja bagi pemerintah.

Dengan mengikuti tanam paksa, desa akan mampu melunasi utang pajak tanahnya. Bila pendapatan desa dari penjualan komoditi ekspor itu lebih banyak daripada pajak tanah yang mesti dibayar, desa itu akan menerima kelebihannya.

Namun, jika kurang, desa tersebut harus membayar kekurangannya dari sumber-sumber lain.

Sistem tanam paksa diperkenalkan secara perlahan sejak 1830 sampai 1835. Menjelang tahun 1840, sistem ini telah sepenuhnya berjalan di Pulau Jawa. Pemerintah kolonial memobilisasi lahan pertanian, kerbau, sapi, dan tenaga kerja yang serba gratis.

Komoditas kopi, teh, tembakau, tebu, yang permintaannya di pasar dunia sedang membumbung tinggi, dibudidayakan.

Bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda, sistem ini berhasil luar biasa. Karena antara 1831-1871, Batavia tidak hanya bisa membangun sendiri, melainkan punya hasil bersih 823 juta gulden untuk kas di Kerajaan Belanda.

Umumnya, lebih dari 30% anggaran belanja kerajaan berasal kiriman dari Batavia.

Pada 1860-an, 72% penerimaan Kerajaan Belanda disumbang dari Oost Indische atau Hindia Belanda. Langsung atau tidak langsung, Batavia menjadi sumber modal. Misalnya, membiayai kereta api nasional Belanda yang serba mewah.

Kas kerajaan Belanda pun mengalami surplus. Badan operasi sistem tanam paksa Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM) merupakan reinkarnasi VOC yang telah bangkrut. Akibat tanam paksa ini, produksi beras semakin berkurang, dan harganya pun melambung.

Pelaksanaan sistem tanam paksa banyak menyimpang dari ketentuan pokok dan cenderung mengadakan eksploitasi agraris. Sistem ini mengakibatkan penderitaan bagi rakyat pedesaan di Pulau Jawa.

Banyak sekali penyimpangan yang dilakukan dalam sistem ini. Penyimpangan pelaksanaan sistem tanam paksa sebagai berikut; pertama, dalam perjanjian, tanah yang digunakan untuk tanam paksa adalah 1/5 sawah, namun dalam praktiknya dijumpai lebih dari 1/5 tanah, yaitu 1/3 dan bahkan 1/2 dari sawah milik pribumi.

Kedua, tanah petani yang dipilih hanya tanah yang subur, sedangkan rakyat hanya mendapat tanah yang tidak subur. Ketiga, tanah yang digunakan untuk penanaman tetap saja dikenakan pajak sehingga tidak sesuai dengan perjanjian.

Keempat, kelebihan hasil tidak dikembalikan kepada rakyat atau pemilik tanah, tetapi dipaksa untuk dijual kepada pihak Belanda dengan harga yang sangat murah.

Kelima, waktu untuk bekerja untuk tanaman yang dikehendaki pemerintah Belanda, jauh melebihi waktu yang telah ditentukan. Waktu yang ditentukan adalah 65 hari dalam setahun, namun dalam pelaksanaannya adalah 200 sampai 225 hari dalam setahun.

Keenam, penduduk yang tidak memiliki tanah dipekerjakan di perkebunan Belanda, dengan waktu 3-6 bulan, bahkan lebih.

Ketujuh, tanaman pemerintah harus didahulukan baru kemudian menanam tanaman mereka sendiri. Kadang-kadang waktu untuk menanam, tanamannya sendiri itu tinggal sedikit sehingga hasilnya kurang maksimal. Kedelapan, kerusakan tanaman tetap ditanggung petani.

Dampak dari tanam paksa ini benar-benar memberatkan bangsa Indonesia. Kelaparan dan wabah penyakit dimana-mana, sehingga angka kematian meningkat drastis. Bahaya kelaparan yang menimbulkan korban jiwa terjadi di daerah Cirebon (1843), Demak (1849), dan Grobogan (1850).

Kejadian itu telah mengakibatkan penurunan jumlah penduduk secara drastis. Di Demak, jumlah penduduknya yang semula 336.000 jiwa turun sampai dengan 120.000 jiwa, di Grobogan dari 89.500 turun sampai dengan 9.000 jiwa.

Demikian pula yang terjadi di daerah-daerah lain, penyakit busung lapar merajalela.

Rakyat makin miskin karena sebagian tanah dan tenaganya harus disumbangkan secara cuma-cuma kepada Belanda. Sawah dan ladang menjadi terlantar karena kewajiban kerja paksa yang berkepanjangan mengakibatkan penghasilan menurun.

Beban rakyat makin berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panen, membayar pajak, mengikuti kerja rodi, serta menanggung risiko apabila panen gagal. Akibat bermacam-macam beban, menimbulkan tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan.

Pelaksanaan tanam paksa menyebabkan bangsa Indonesia menderita, sehingga muncul reaksi berupa perlawanan.

Di bagian lain, orang-orang Belanda sendiri juga banyak yang menentangnya. Sistem tanam paksa ditentang, baik secara perseorangan maupun melalui parlemen di Negeri Belanda.

Sejumlah penjajah Belanda yang menentang adalah, Eduard Douwes Dekker (1820–1887), Baron van Hoevell (1812–1870), dan Fransen van der Putte (1822-1902). Mereka ikut sedih melihat nasib petani korban tanam paksa dan berusaha menghapusnya.

Akibat reaksi dari orang-orang Belanda yang didukung oleh kaum liberal, mulai 1865, sistem tanam paksa dihapuskan.

Penghapusan sistem tanam paksa diawali dengan penghapusan kewajiban penanaman nila, teh, kayu manis (1865), tembakau (1866), tanaman tebu (1884), dan tanaman kopi (1916).

Hasil dari perdebatan di parlemen Belanda adalah dihapuskannya tanam paksa secara bertahap, mulai tanaman yang paling tidak laku sampai dengan tanaman yang laku keras di pasaran Eropa.



sistemtanampaksadiindonesia.blogspot.com

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin


Sumber : wartasejarah.blogspot.com (diolah dari berbagai sumber)

sistemtanampaksadiindonesia.blogspot.com

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin

sistemtanampaksadiindonesia.blogspot.com

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
(lis)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Pendekar 08 Kolaborasi...
Pendekar 08 Kolaborasi dengan Pemda Hadirkan Khitanan Massal Gratis
3 menit yang lalu
Polisi Tetapkan Pengirim...
Polisi Tetapkan Pengirim Teror Bom SDN Srengseng Sawah sebagai Tersangka
1 jam yang lalu
Rawat Toleransi, Rampeani...
Rawat Toleransi, Rampeani Rachman Perindo Realisasikan Aspirasi Jemaat Gereja di Mimika
2 jam yang lalu
Kronologi JPO Tendean...
Kronologi JPO Tendean Ditabrak Truk Pengangkut Alat Berat hingga Nyaris Ambruk
4 jam yang lalu
JPO Tendean yang Ditabrak...
JPO Tendean yang Ditabrak Truk Belum Dievakuasi, Polisi Tunggu Pengerahan Alat Berat
5 jam yang lalu
Universitas Yarsi Dorong...
Universitas Yarsi Dorong Budidaya Perikanan melalui Inovasi POC di Desa Mandalamekar
5 jam yang lalu
Infografis
Zion Suzuki, Tembok...
Zion Suzuki, Tembok Samurai Biru yang Bikin Belanda Frustrasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved