Petani Dukung Apel AS Dimusnahkan

Rabu, 28 Januari 2015 - 12:03 WIB
Petani Dukung Apel AS...
Petani Dukung Apel AS Dimusnahkan
A A A
BATU - Keputusan Kementerian Perdagangan (Kemendag) melarang peredaran apel jenis Granny Smith dan Gala dari Amerika Serikat disambut gembira oleh petani apel di Kota Batu.

Mereka meminta pelarangan ini disertai tindakan tegas dengan merazia peredaran dua jenis apel itu di seluruh Indonesia. “Kami mengapresiasi sikap tegas dari pemerintah yang melarang apel dari Amerika Serikat. Kami berharap tindakan ini menjadi peluang bagi apel lokal untuk kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Wito Argo, salah satu petani apel di Kota Batu, kemarin.

Diketahui, Kemendag mengumumkan pelarangan perdagangan buah apel jenis Granny Smith dan Gala yang diimpor dari Bidart Bros, Bakersfield, California, Amerika Serikat. Dua jenis apel yang biasa dijual dengan merek Granny’s Best dan Big B ini diduga terkena bakteri Listeria monocytogenes. Bahkan, Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan konsumen Kemendaga Widodo telah menginstruksikan para importir, distributor, dan pengecer menarik dua jenis dua apel dari pasaran.

Wito mengatakan, kebijakan Kemendag itu harus ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan merazia apel impor tersebut. Menurutnya, selain berbahaya dikonsumsi oleh konsumen, bakteri apel jenis ini bisa menular ke tanaman apel lokal. “Jadi kesempatan ini harus dimaksimalkan pemerintah pusat. Jangan sekadar mengeluarkan imbauan,” kata Wito.

Petani apel dari Bumiaji ini menyarankan razia apel Granny Smith dan Gala itu tidak cukup dilakukan di pasar dan supermarket, tetapi razia ini juga harus menyasar ke gudang-gudang milik importir. Jika telah diketahui keberadaannya apelapel itu harus segera dimusnahkan agar bakterinya tidak menular ke apel lokal. “Kami tidak alergi dengan apel impor. Karena pangsa pasarnya berbedabeda. Tapi kami khawatir bakteri dari luar negeri itu menulari apel kita,” katanya.

Wito juga berharap pelarangan impor apel Granny Smith dan Gala ini juga merupakan momentum bagi pemerintah memberdayakan apel dalam negeri. Jika pemerintah memberikan perhatian lebih kepada petani apel lokal, dia yakin apel dalam negeri akan kembali berjaya di pasaran. “Jadi saat ini yang perlu dilakukan pemerintah memperbaiki produksi apel lokal agar bisa mencukupi kebutuhan nasional,” kata dia.

Hal senada dikatakan Endik Gilang, petani apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Keberadaan apel impor merugikan petani lokal karena itu pemerintah harus tegas membatasi masuknya apel impor. “Kalau bisa pemerintah harus menghentikan apel impor. Selanjutnya mengembangkan produksi apel lokal,” kata Endik yang memiliki kebun apel seluas 3 hektare ini.

Untuk saat ini, katanya, harga apel lokal terpuruk. Untuk jenis room beauty, ana, dan manalagi harganya di kisaran Rp5.000-5.500 per kg dari ladang. “Pemerintah pusat harus memperhatikan kondisi petani apel di Kota Batu,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kota Batu Sugeng Pramono me-negaskan, virus pada apel impor belum menular ke apel lokal, tapi pemerintah dan petani apel sudah mewaspadainya. “Belum ada laporan dari penyuluh dan petani tentang serangan virus apel dari Amerika itu. Teman-teman di Balitjestro sedang melakukan pengujian apakah apel lokal sudah terserang virus dari luar negeri atau tidak,” ujar dia.

Sugeng kemudian menjabarkan data pohon apel di Kota Batu. Berdasarkan data tahun 2010, jumlah pohon apel di Kota Batu ada 2.574.852 pohon dan masih produktif hanya 1.974.366 pohon.

“Tingkat produktivitasnya mencapai 842.799,00 kuintal per tahun dengan produktivitas per pohon hanya 17.00 kg. Kami terus merevitalisasi lahan agar tetap subur serta membagikan bibit apel kepada petani untuk meremajakan tanaman apel sudah tua,” kata dia.

Maman Adi Saputro
(ftr)
Berita Terkait
DPW PKS Jawa Timur Siap...
DPW PKS Jawa Timur Siap Sinergi dan Kolaborasi Bangun Jawa Timur
Inflasi Jawa Timur September...
Inflasi Jawa Timur September Tertinggi di Pulau Jawa
China Mendominasi Impor...
China Mendominasi Impor Jawa Timur
Hari Pertama PPKM, 792...
Hari Pertama PPKM, 792 Warga Jatim Positif COVID-19
Gubernur Khofifah dan...
Gubernur Khofifah dan Dubes Finlandia Jajaki Potensi Kerjasama Pendidikan dan Teknologi
BPH Migas bersama Anggota...
BPH Migas bersama Anggota Komisi VII DPR RI Gelar Sosialisasi
Berita Terkini
11 Orang Tewas, Truk...
11 Orang Tewas, Truk Tronton Hantam Pikap Rombongan Pengantar Pengantin di Pantura Indramayu
7 jam yang lalu
Gerak Cepat! Pemkab...
Gerak Cepat! Pemkab Bogor Terjunkan Alat Berat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Baru
7 jam yang lalu
BNPB Sebut 3 Daerah...
BNPB Sebut 3 Daerah di Pulau Jawa Dilanda Karhutla, Ini Lokasinya
8 jam yang lalu
Usai Jadi Tersangka,...
Usai Jadi Tersangka, Rumah Dinas Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sepi Tanpa Aktivitas
13 jam yang lalu
Pekan Dekranasda Tangsel...
Pekan Dekranasda Tangsel 2026, Momentum Perkenalkan Produk Lokal UMKM
14 jam yang lalu
Komitmen Berkelanjutan,...
Komitmen Berkelanjutan, Tracon Industri Kolaborasi Tanam 500 Mangrove di Karawang
16 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved