Ola Nande Kalah Bersaing di Kotanya Sendiri
Minggu, 25 Januari 2015 - 12:36 WIB
Ola Nande Kalah Bersaing di Kotanya Sendiri
A
A
A
Tidak hanya oukup yang menjadi sauna tradisional khas Kota Medan. Di kota ini juga terdapat pijatan tradisional yang cukup khas atau tidak dimiliki daerah lain, yakni Ola Nande.
Sayang, pijatan khas suku Karo tersebut kurang dipromosikan. Ola Nande pun menjadi tidak begitu populer di kalangan pencinta spa di kotanya sendiri. Bahkan, kalah bersaing dengan Javanes dan Balines yang berasal dari Pulau Jawa dan Bali. Bahkan, Balines sendiri telah booming dan menjadi pijatan terbaik di dunia pada 2005. Padahal, dari segi pijatan, Ola Nande tidak kalah dengan kedua pijatan khas tersebut.
Apalagi pijatan tradisional ini merupakan warisan turun temurun suku Karo. “Kami telah menawarkan kepada tamu hotel maupun member kami. Tapi, hanya suku Batak dan Karo yang mau. Kalau dari luar Medan tidak ada yang mau. Mereka milih Javanes atau Balines,” ungkap Tyra, selaku manajer City Hall Club Spa Hotel Grand Aston Medan kepada KORAN SINDO MEDAN , belum lama ini.
Menurut Tyra, Ola Nande belum tersedia di fasilitas spaspa di Kota Medan. Pijatan khas tersebut hanya ada di City Hall Club Spa Hotel Grand Aston. Namun, belum diluncurkan atau dipatenkan menjadi ciri khas tempat spa tersebut. Sebab, mereka terkendala oleh pengadaan jamu yang dilumur sebelum dan setelah di badan orang yang dipijat. Menurut, Tyra jamu yang dibuat dengan bahan-bahan khusus atau rempah-rempah suku karo tersebut sulit didapat.
Mengingat, hanya orang-orang tua dan tertentu yang membuatnya. Mereka hanya mendapatkannya sekali. Setelah itu sulit didapat apalagi dipesan dalam jumlah banyak. Mereka sendiri tidak bisa memproduksinya dikarenakan bahan-bahan ramuan tidak diketahui.
“Hanya pijatannya saja kami ketahui. Sedangkan jamunya sulit kami dapat. Kami sendiri juga tidak tahu bahannya apa saja karena dibuat orang-orang tertentu dan kerahasian bahan ramuannya terjaga,” imbuhnya. Alasan itulah mereka belum mematenkannya karena rasanya kurang komplit menjadikan Ola Nande ciri khas pijatan tempat spa tersebut.
Sedangkan cara pijatannya sudah dipelajari. Bahkan, seluruh terapis tempat spa tersebut sudah diberikan pelatihan. Tidak hanya itu mereka juga telah menyeminarkannya. Tujuannya agar masyarakat luas tahu Medan juga punya pijatan khas atau tersendiri. Ini dilakukan apabila sewaktu-waktu ada yang meminta.
Cara pijatannya didapat dari seseorang bernama Cut dan Novita Saragih yang merupakan trainer di spa itu. Mereka sendiri telah mempelajarinya sejak lama. Berbedanya dari pijatan khas lain terlihat dari cara mengurutnya. Ola Nande terkenal urutannya yang berbeda dari yang lain. Hanya, dia sulit mengistilahkannya dan hanya bisa dikatakan, pijatan ini benar-benar pijatan tradisional atau kusuk kampung, bahkan ketika mengurut harus kuat.
“Ciri khasnya terlihat dari cara mengurutnya. Tidak sama dengan kusuk tradisional daerah lain. Benar-benar kusuk kampunglah. Orang masuk angin, capek sangat cocok,” tambahnya. Ide menjadikan Ola Nande merupakan khas spa tersebut berawal dari duduk beberapa trainer dan penguji yang duduk di asosiasi spa. Setelah itu, ide pun muncul, maka langsung diberikan pelatihan dan seminar. Namun, hal itu tidak berjalan lancar karena terkendala ramuan yang dibalurkan ke badan ataupun diminum.
“Kalau ramuannya sudah bisa dipesan, maka langsung kami patenkan dan kami promosikan secara besarbesaran. Dengan begitu pijatan khas Kota Medan bisa lebih terkenal sampai keluar,” pungkasnya.
Sayang, pijatan khas suku Karo tersebut kurang dipromosikan. Ola Nande pun menjadi tidak begitu populer di kalangan pencinta spa di kotanya sendiri. Bahkan, kalah bersaing dengan Javanes dan Balines yang berasal dari Pulau Jawa dan Bali. Bahkan, Balines sendiri telah booming dan menjadi pijatan terbaik di dunia pada 2005. Padahal, dari segi pijatan, Ola Nande tidak kalah dengan kedua pijatan khas tersebut.
Apalagi pijatan tradisional ini merupakan warisan turun temurun suku Karo. “Kami telah menawarkan kepada tamu hotel maupun member kami. Tapi, hanya suku Batak dan Karo yang mau. Kalau dari luar Medan tidak ada yang mau. Mereka milih Javanes atau Balines,” ungkap Tyra, selaku manajer City Hall Club Spa Hotel Grand Aston Medan kepada KORAN SINDO MEDAN , belum lama ini.
Menurut Tyra, Ola Nande belum tersedia di fasilitas spaspa di Kota Medan. Pijatan khas tersebut hanya ada di City Hall Club Spa Hotel Grand Aston. Namun, belum diluncurkan atau dipatenkan menjadi ciri khas tempat spa tersebut. Sebab, mereka terkendala oleh pengadaan jamu yang dilumur sebelum dan setelah di badan orang yang dipijat. Menurut, Tyra jamu yang dibuat dengan bahan-bahan khusus atau rempah-rempah suku karo tersebut sulit didapat.
Mengingat, hanya orang-orang tua dan tertentu yang membuatnya. Mereka hanya mendapatkannya sekali. Setelah itu sulit didapat apalagi dipesan dalam jumlah banyak. Mereka sendiri tidak bisa memproduksinya dikarenakan bahan-bahan ramuan tidak diketahui.
“Hanya pijatannya saja kami ketahui. Sedangkan jamunya sulit kami dapat. Kami sendiri juga tidak tahu bahannya apa saja karena dibuat orang-orang tertentu dan kerahasian bahan ramuannya terjaga,” imbuhnya. Alasan itulah mereka belum mematenkannya karena rasanya kurang komplit menjadikan Ola Nande ciri khas pijatan tempat spa tersebut.
Sedangkan cara pijatannya sudah dipelajari. Bahkan, seluruh terapis tempat spa tersebut sudah diberikan pelatihan. Tidak hanya itu mereka juga telah menyeminarkannya. Tujuannya agar masyarakat luas tahu Medan juga punya pijatan khas atau tersendiri. Ini dilakukan apabila sewaktu-waktu ada yang meminta.
Cara pijatannya didapat dari seseorang bernama Cut dan Novita Saragih yang merupakan trainer di spa itu. Mereka sendiri telah mempelajarinya sejak lama. Berbedanya dari pijatan khas lain terlihat dari cara mengurutnya. Ola Nande terkenal urutannya yang berbeda dari yang lain. Hanya, dia sulit mengistilahkannya dan hanya bisa dikatakan, pijatan ini benar-benar pijatan tradisional atau kusuk kampung, bahkan ketika mengurut harus kuat.
“Ciri khasnya terlihat dari cara mengurutnya. Tidak sama dengan kusuk tradisional daerah lain. Benar-benar kusuk kampunglah. Orang masuk angin, capek sangat cocok,” tambahnya. Ide menjadikan Ola Nande merupakan khas spa tersebut berawal dari duduk beberapa trainer dan penguji yang duduk di asosiasi spa. Setelah itu, ide pun muncul, maka langsung diberikan pelatihan dan seminar. Namun, hal itu tidak berjalan lancar karena terkendala ramuan yang dibalurkan ke badan ataupun diminum.
“Kalau ramuannya sudah bisa dipesan, maka langsung kami patenkan dan kami promosikan secara besarbesaran. Dengan begitu pijatan khas Kota Medan bisa lebih terkenal sampai keluar,” pungkasnya.
(ars)