Manfaatkan Bahan Tradisional Agar Terlihat Vintage

Sabtu, 17 Januari 2015 - 10:27 WIB
Manfaatkan Bahan Tradisional...
Manfaatkan Bahan Tradisional Agar Terlihat Vintage
A A A
SEMARANG - Hobi sering kali menjadi jalan untuk sukses. Tidak hanya mendatangkan penghasilan bagi diri sendiri, tapi juga bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Seperti Widya Andhika Aji, Creative Director Butik Online Dhievine. Dia tak menduga minat terhadap fashion menuntunnya sebagai wirausaha muda sekaligus desainer busana. Dia memulai bisnis fashion sejak 2008 dengan berjualan baju dan aksesori vintage. Barang-barang second kualitas bagus ternyata direspons bagus oleh temanteman kampus.

Modal ratusan ribu dari orang tua dimanfaatkan untuk memulai bisnis kecil-kecilan. Produknya laris dicari penggemar fashion vintage, tapi semakin lama kerepotan untuk mencari item tersebut. “Baju vintage terbatas secara kuantitas karena satu desain hanya ada satu produk. Jika produk laku berarti tidak ada stok lagi,” ujar Dhika, sapaan akrabnya.

Saat itu dia memiliki angan-angan membuat produk sendiri dengan kualitas sama dengan barang vintage. Baju jadul ini memiliki kualitas bagus, baik desain maupun warna meski sudah puluhan tahun diluncurkan. Impian tersebut dipendam sementara karena belum memiliki gambaran untuk menjalankan.

Hobi di bidang busana semakin kuat kala magang di sebuah majalah fashion remaja di Kota Semarang. Di tempat inilah dia belajar selukbeluk menyiapkan halaman fashion , mulai dari pemotretan, make up model hingga padu padan busana. Cita-cita memiliki label produk semakin menggebu hingga akhirnya merintis bisnis online pada 2011.

Saat itu dia memiliki satu penjahit dan membuat koleksi baju sesuai imajinasinya. Dhika menggandeng sahabatnya, Betty merintis wirausaha di Jalan Perumahan Srondol Bumi Indah Blok I/ 15- 16 Semarang. Koleksi fashion mengikuti tren diluncurkan setiap bulan menggunakan bahan dasar kain tradisional.

Tenun, batik, songket, jumputan dieksplorasi menjadi tampilan busana yang chic . “Trade mark Dhievine menggunakan unsur kain tradisional. Namun, busana tidak lantas kuno dan membosankan dengan memadukan material lain,” ucap wanita kelahiran Jakarta, 18 Februari 1988 ini.

Kain tradisional bisa pas untuk tampilan formal, kasual, maupun acara resmi. Tiga tahun perjalanan tak selamanya mulus. Pasang surut usaha membutuhkan kesabaran karena branding membutuhkan waktu. “Pelanggan sepi maupun ramai membutuhkan penyesuaian agar tidak patah semangat,” ujar Dhika.

Dia mantap menjalani bisnis ini meski sudah menempuh dua pendidikan sekaligus. Dia tercatat sebagai alumni FISIP UNDIP dan Fakultas Psikologi Universitas Soegijapranata dan tidak bersinggungan langsung dengan fashion . Bekal pengetahuan selama kuliah diterapkan untuk menggerakkan roda bisnis yang sedang digeluti.

Usaha ini membutuhkan strategi marketing, perencanaan, branding , hingga membangun bisnis agar lebih dikenal publik. Pengetahuan di bidang psikologi membuatnya memahami karakter orang lain dan mengatur karyawan. “Ada empat penjahit jadi harus pintar me-manage agar mereka betah dan nyaman dalam bekerja. Saya senang bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain,” kata Dhika.

Langkah mengasah kemampuan terus dilakukan, seperti menempuh kursus di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo, Semarang. Keinginan menimba ilmu untuk melengkapi kecakapan karena ingin mengembangkan produk fashion yang unik.

“Inti dari bisnis ini adalah fashion sehingga dasar ilmu seperti membuat pola dan menjahit harus dikuasai. Teknis dan produk lebih dikuasai sehingga semakin percaya diri menghadapi permintaan konsumen,” ucapnya.

Masih ada keinginan yang belum terwujud, yaitu membuka galeri dengan koleksi produk bridal dan couture. Kiprahnya membuahnya hasil, produk hasil kreativitas mulai dilirik website online (e-commerce) kenamaan Tanah Air, seperti Berrybenka dan Zalora. Pengalaman lucu turut mengiringi bisnis ini. Meski demikian, semua dijadikan pelajaran untuk semakin mantap terjun di ranah fashion .

“Ada kejadian lucu seperti konsumen pura-pura sudah transfer padahal setelah dicek belum ada uang masuk. Produk tidak akan dikirim sebelum uang transfer masuk tapi usahanya kekeuh juga,” ujarnya sambil tertawa.

Hendrati Hapsari
(ftr)
Berita Terkait
Kearifan Lokal, Wakil...
Kearifan Lokal, Wakil Kepala BPIP: Pancasila Falsafah Bangsa
Digitalisasi Konservasi...
Digitalisasi Konservasi Mangrove
Potret Festival Dolanan...
Potret Festival Dolanan Anak 2025 di Lapangan Laboratorium Prof Soegijono FIK Unnes
Ganjar Pranowo, Gubernur...
Ganjar Pranowo, Gubernur yang Merakyat
4 Kota dengan Janda...
4 Kota dengan Janda Terbanyak di Jawa Tengah, Nomor 3 Lebih dari 5.000
6 Penghargaan yang Diterima...
6 Penghargaan yang Diterima Ganjar Pranowo saat Menjadi Gubernur Jawa Tengah
Berita Terkini
Prajurit TNI Kodam XVII...
Prajurit TNI Kodam XVII Cenderawasih Tewas Dikeroyok Sembilan Orang di Kabupaten Tangerang
10 menit yang lalu
Dukung Penguatan Ekonomi...
Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan, Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM di Mojokerto
20 menit yang lalu
Korban Terakhir Ledakan...
Korban Terakhir Ledakan Gas di Rumah Mewah di Medan Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Ditutup
3 jam yang lalu
Punya KTP DKI dan Beli...
Punya KTP DKI dan Beli Rumah Pertama? Ini Syarat Dapat Diskon BPHTB 50 Persen
4 jam yang lalu
Polda Metro Jaya Bakal...
Polda Metro Jaya Bakal Panggil Hotman Paris Usai Dilaporkan PWI
5 jam yang lalu
APDSI dan PPPK Aksi...
APDSI dan PPPK Aksi Damai, Tuntut Pemenuhan Hak serta Gaji ke-13
6 jam yang lalu
Infografis
5 Tips Packing Mudik...
5 Tips Packing Mudik Agar Koper Tak Kelebihan Muatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved