China Kelebihan Stok, Ekspor Kayu Olahan Menurun

Senin, 12 Januari 2015 - 11:41 WIB
China Kelebihan Stok,...
China Kelebihan Stok, Ekspor Kayu Olahan Menurun
A A A
SEMARANG - Sejumlah negara tujuan ekspor untuk kayu olahan mengalami overstock atau kelebihan stok, sehingga berdampak pada menurunnya ekspor kayu olahan dari Jawa Tengah.

Salah satu negara tujuan ekspor yang mengalami overstock adalah China. Padahal, negara Tirai Bambu ini menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar, sehingga cukup memberikan dampak. Ketua Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia Jateng Wiradadi Soeprayogo mengatakan, penurunan ekspor ke negara China tersebut mencapai 20%. Kondisi ini sudah terjadi sejak beberapa bulan yang lalu menyusul perekonomian China yang mengalami kelesuan.

“China menjadi negara tujuan utama ekspor kayu olahan, karena sekitar 80% produk kayu olahan yang terdapat di China merupakan kiriman dari Indonesia. Sehingga dengan adanya stok melimpah, permintaan menjadi berkurang,” katanya. Wiradadi menjelaskan, selama ini per bulan ekspor kayu olahan dari Indonesia mencapai 3.000 kontainer, dan 50% merupakan dari Jawa Tengah.

Dengan jumlah yang cukup besar tersebut, dampak adanya penurunan volume ekspor sangat dirasakan. Terlebih saat ini juga harga juga mengalami penurunan hingga USD50 per meter kubik. “Kayu olehan Indonesia memang lebih dimintai oleh negara-negara asing, karena kualitasnya cukup baik, juga bobotnya ringan tapi tetap kuat,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya sangat mengharapkan pemerintah memberikan program penataan pengiriman kayu untuk mengantisipasi adanya overstock di negara tujuan ekspor. Pasalnya jika dibiarkan secara terus-menerus, akan sangat berdampak bagi perkembangan industri kayu olahan.

Terpisah, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Tangan Indonesia (Asmindo) Jawa Tengah Erie Sasmito berharap, pemerintah mem berikan keringanan pemberlakuan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Menurut Erie, sampai saat ini para pengusaha mebel masih mengalami kendala dalam mengurus SLVK. Hal itu karena prosedurnya tidak mudah, termasuk butuh biaya yang tidak murah.

Oleh sebab itu, Asmindo berharap pemerintah memberikan subsidi terhadap pengurusan SLVK. “Selain itu, pengurusan SLVK bisa dilakukan secara berkelompok untuk menekan biaya,” ujarnya.

Andik Sismanto
(ftr)
Berita Terkait
Kearifan Lokal, Wakil...
Kearifan Lokal, Wakil Kepala BPIP: Pancasila Falsafah Bangsa
Digitalisasi Konservasi...
Digitalisasi Konservasi Mangrove
Potret Festival Dolanan...
Potret Festival Dolanan Anak 2025 di Lapangan Laboratorium Prof Soegijono FIK Unnes
Ganjar Pranowo, Gubernur...
Ganjar Pranowo, Gubernur yang Merakyat
4 Kota dengan Janda...
4 Kota dengan Janda Terbanyak di Jawa Tengah, Nomor 3 Lebih dari 5.000
6 Penghargaan yang Diterima...
6 Penghargaan yang Diterima Ganjar Pranowo saat Menjadi Gubernur Jawa Tengah
Berita Terkini
Dua Proyek Sekolah Rakyat...
Dua Proyek Sekolah Rakyat Nindya Karya di Medan dan Kediri Capai 100 Persen
9 menit yang lalu
PINTU Kolaborasi dengan...
PINTU Kolaborasi dengan Universitas Paramadina Beri Edukasi Literasi Digital ke Warga Bekasi
22 menit yang lalu
Bakal Dihadiri 3.000...
Bakal Dihadiri 3.000 Peserta, Gus Ipul Ungkap Persiapan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas
2 jam yang lalu
Generasi Muda NTB Didorong...
Generasi Muda NTB Didorong Jadi Agen Perubahan melalui Inovasi
2 jam yang lalu
Jakarta Fair 2026 Ditutup,...
Jakarta Fair 2026 Ditutup, Pecahkan Rekor Transaksi Rp8,6 Triliun
3 jam yang lalu
Ini Motif Pelaku Kirim...
Ini Motif Pelaku Kirim Ancaman Bom ke SDN Srengseng Sawah 15 Jaksel
4 jam yang lalu
Infografis
4 Keunggulan Jet Tempur...
4 Keunggulan Jet Tempur Canggih J-35 Buatan China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved