Tak Bisa Ditelepon Sejak Sepekan Bekerja

Minggu, 07 Desember 2014 - 09:49 WIB
Tak Bisa Ditelepon Sejak...
Tak Bisa Ditelepon Sejak Sepekan Bekerja
A A A
Kabar Hermin Ruswidiawati, 54, pembantu rumah tangga (PRT) asal Ngaliyan, Semarang yang tewas disiksa majikannya di Medan turut menggemparkan warga RT 04/RW 02 Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal.

Suami Hermin, Marjono merupakan warga asli Kelurahan Dampyak. Di kampung yang berada di pesisir pantai utara itu, Hermin dan Marjono tinggal di sebuah rumah berukuran sekitar 3 x 6 meter. Rumah berdinding bambu dan beralaskan tanah itu hanya memiliki dua ruang yang disekat menggunakan papan kayu dan kain. Satu ruang di bagian paling belakang rumah digunakan untuk ruang tidur.

Sementara ruang sebelahnya dijadikan ruang tamu. Di ruang itu terdapat meja dan kursi panjang terbuat dari kayu serta sebuah sepeda tua. Kondisi ruangan terlihat sesak oleh berbagai perkakas dapur. Bagian dindingnya juga tampak semrawut oleh pakaian yang digantung di paku maupun seutas tali. Saat KORAN SINDO menyambangi rumah yang dikelilingi tambak itu, warga setempat mengatakan Marjono sudah berangkat ke Medan untuk mengurus jenazah istrinya.

“Rumahnya kosong. Tadi (kemarin) Marjono sudah pergi sekitar jam 10.00 WIB,” kata Casmito, 52, Ketua RT 04/RW 02 Kelurahan Dampyak. Keponakan Marjono, Rohaini, 31, yang ditemui menuturkan, pamannya menikah secara siri dengan Hermin pada 2005. Sejak menikah keduanya belum dikaruniai anak. “Ketemunya di Tegal, di sebuah warung. Mungkin ngobrol, kenalankenalan terus akhirnya menikah. Saat menikah mereka statusnya duda dan janda,” ucapnya.

Rohaini terakhir kali bertemu korban sekitar satu setengah bulan yang lalu. Saat itu perempuan yang sudah memiliki satu anak dari suami sebelumnya itu pamit hendak bekerja di Jakarta setelah selama beberapa tahun bekerja sebagai PRT di Bekasi. Korban berangkat ke Jakarta sendirian menggunakan kereta dari Stasiun Tegal. Marjono hanya mengantar hingga ke stasiun.

“Saat pamit, dia tidak bilang mau ke Medan. Hanya bilang mau pindah majikan. Sebelumnya di Bekasi dan pulang satu tahun sekali,” ujarnya. Satu pekan setelah keberangkatan itu, lanjut Rohaini, Marjono menelepon korban untuk menanyakan kabar dan kondisinya. Namun di ujung telepon terdengar suara laki-laki tak dikenal. Menurut laki-laki itu, korban sedang keluar.

Jawaban serupa kembali diterima saat Marjono menelepon untuk ketiga kalinya. “Setelah telepon hingga tiga kali, HP-nya sudah tidak aktif saat ditelepon lagi,” ungkap Rohaini. Kendati janggal, pamannya saat itu belum curiga jika sesuatu menimpa sang istri. Hingga akhirnya muncul berita pembunuhan PRT di Medan yang dilakukan oleh majikannya. Tak lama kemudian, keluarga korban di Semarang juga menelepon Marjono dan memintanya ke Semarang.

“Kami di sini juga langsung kaget. Sedihlah, kasihan. Berangkatnya dari rumah sehat, tapi di sana malah dibunuh. Seperti ngantar nyawa saja,” ujarnya. Kesedihan serupa juga terlihat di wajah Marjono saat hendak berangkat ke Semarang dan selanjutnya ke Medan. Pria yang juga sempat bekerja sebagai nelayan di Jakarta itu tampak bingung saat hendak berangkat.

“Ke Semarang pakai sepeda motor sambil bawa KK (kartu keluarga). Sempat bolak-balik. Sampai di jalan, balik lagi. Seperti awan gawangan ,” papar Rohaini. Rohaini yang rumahnya persis di samping rumah Marjono pun meminta aparat terkait mengusut kasus yang menimpa bibinya hingga tuntas dan menghukum para pelaku dengan hukuman yang setimpal. “Nyawa ya harus dibalas nyawa,” katanya.

Ketua RT 04 Kelurahan Dampyak Casmito mengatakan, sejak menikah dengan Marjono yang asli warga Dampyak, korban dikenal biasa-biasa saja seperti warga lainnya. Hanya, warga mengetahui korban sering sakit-sakitan saat pulang. “Hermin pendatang karena aslinya dari Semarang. Dari polisi atau pihak mana belum ada yang ke sini. Kami baru tahu kalau itu Hermin dari berita,” kata Casmito, yang juga memiliki hubungan kerabat dengan Marjono.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hermin yang semula sempat dikira bernama Cici tewas setelah dianiaya majikannya di Medan, Sumatera Utara. Jenazah korban ditemukan pada 31 Oktober di pinggir jalan di Barusjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.?

Farid Firdaus
Slawi
(ars)
Berita Terkait
Kearifan Lokal, Wakil...
Kearifan Lokal, Wakil Kepala BPIP: Pancasila Falsafah Bangsa
Digitalisasi Konservasi...
Digitalisasi Konservasi Mangrove
Potret Festival Dolanan...
Potret Festival Dolanan Anak 2025 di Lapangan Laboratorium Prof Soegijono FIK Unnes
Ganjar Pranowo, Gubernur...
Ganjar Pranowo, Gubernur yang Merakyat
4 Kota dengan Janda...
4 Kota dengan Janda Terbanyak di Jawa Tengah, Nomor 3 Lebih dari 5.000
6 Penghargaan yang Diterima...
6 Penghargaan yang Diterima Ganjar Pranowo saat Menjadi Gubernur Jawa Tengah
Berita Terkini
Pimpin Gerakan ASRI...
Pimpin Gerakan ASRI di Banyuwangi, Safrizal Ajak Masyarakat Bangun Budaya Kebersihan
33 menit yang lalu
Pimpin ASEAN Smart Cities,...
Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
54 menit yang lalu
Kemenhut Bongkar Jalur...
Kemenhut Bongkar Jalur Distribusi Tambang Ilegal di NTB, 8 Orang Ditangkap
2 jam yang lalu
Perkuat Layanan Kesehatan,...
Perkuat Layanan Kesehatan, Pemkot Tangsel Tingkatkan Kapasitas 1.389 Kader Posyandu
4 jam yang lalu
7 Pengeroyok Prajurit...
7 Pengeroyok Prajurit TNI Kodam Cenderawasih hingga Tewas Ditetapkan sebagai Tersangka
6 jam yang lalu
Peradi Profesional-Unisba...
Peradi Profesional-Unisba Perkuat Pendidikan Hukum dan Pengembangan Profesi Advokat
7 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved