E-Book Ilegal Ancam Bisnis Penerbitan

Jum'at, 05 Desember 2014 - 09:30 WIB
E-Book Ilegal Ancam...
E-Book Ilegal Ancam Bisnis Penerbitan
A A A
BANDUNG - Penerbitan buku elektronik (e-book) ilegal yang kini marak terjadi mengancam bisnis penerbitan.

Hal itu di perparah dengan masih minimnya regulasi yang melindungi penerbit dan penulis. Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jawa Barat Anwarudin mengatakan, meskipun resah dengan keberadaan ebook ilegal, pihaknya tetap mengapresiasi motivasi para penulis untuk melahirkan berbagai karyanya dalam bentuk buku. “Para penulis masih bersemangat untuk berkarya meskipun te tap saja keberadaan e-book ilegal mengancam bisnis penerbitan,” katanya kepada KORAN SINDO, baru-baru ini.

Di Indonesia, menurutnya, masyarakat masih lebih menyukai buku versi cetak di bandingkan digital. Berbeda deng an kondisi di luar negeri seperti Amerika dan Inggris. “Dengan kultur masyarakat Indonesia seperti itu, usia buku cetak diperkirakan masih akan sangat panjang. Ini sebuah angin segar dari satu sisi,” sambungnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya berharap pemerintah tidak setengah hati dalam mengeluarkan kebijakan peng gunaan e-book (legal) mengingat perkembangan zaman yang kini serba menggunakan informasi teknologi (IT). “Pemerintah masih mengarahkan pembuatan buku literatur pendidikan kepada buku fisik. Hal ini jadi keuntungan tersendiri bagi industri penerbitan dan percetakan,” katanya.

Selama ini, lanjut dia, pembuatan buku fisik, terutama literatur pendidikan menjadi denyut industri percetakan dan pen erbitan di Indonesia. Meskipun tidak menyebutkan angka pasti, nilai transaksi buku versi cetak mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Hal itu juga di dorong oleh kebijakan pemerintah yang sering gonta-ganti kurikulum. “Sejauh ini buku pendidikan masih menjadi kue terbesar dan diperebutkan para penerbit,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur Utama PT Publika Edu Media (spesialis buku komunikasi, kreatif, dan teknologi informasi) Muhamad Syahrial mengatakan, penjualan buku fisik masih lebih kuat dibandingkan e-book. Namun, buku literatur seper ti Kurikulum 2014 bagi siswa SD, masih banyak yang mengunduh materinya secara gratis. Hal yang sama pun terjadi pada mahasiswa yang lebih banyak mencari bahan referensi di internet dibandingkan membeli buku.

“Sebagian mengunduh e-book legal yang gratis. Tetapi yang ilegal pun diunduh karena banyak beredar di internet,” sebutnya. Dia mengakui, khusus buku populer, umumnya pembaca lebih loyal untuk membeli buku cetakan asli. Apalagi e-booknya belum tentu mudah diperoleh di internet.

fauzan
(ftr)
Berita Terkait
Ridwan Kamil, Gubernur...
Ridwan Kamil, Gubernur yang Inspiratif
Upaya Pelestarian Batik...
Upaya Pelestarian Batik Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat...
Gubernur Jawa Barat Tandatangani Kerja Sama Banjir dan Longsor
PR Besar, Ribuan Kilometer...
PR Besar, Ribuan Kilometer Jalan di Jabar Minim Fasilitas Lalu Lintas
Gubernur Jabar Serahkan...
Gubernur Jabar Serahkan Bantuan kepada Mahasiswa Papua
Investasi di Jabar Tertinggi,...
Investasi di Jabar Tertinggi, Kang Emil Kalahkan Anies, Khofifah, dan Ganjar
Berita Terkini
Libur Sekolah Lebih...
Libur Sekolah Lebih Pengaruhi Order Online daripada Komisi 8 Persen
7 jam yang lalu
UB Gandeng CNGR-Kementerian...
UB Gandeng CNGR-Kementerian ESDM, Perkuat Hilirisasi Industri dan Siapkan SDM Unggul
9 jam yang lalu
Polda Riau Bongkar Sawmill...
Polda Riau Bongkar Sawmill Illegal di Kampar, Sita Ratusan Batang Kayu Hasil Illegal Logging
9 jam yang lalu
Kepala BSKDN Kemendagri...
Kepala BSKDN Kemendagri Ajak Mahasiswa KKN Hadirkan Inovasi untuk Kemajuan Kepulauan Yapen
11 jam yang lalu
FKGI Dukung Arah Kebijakan...
FKGI Dukung Arah Kebijakan Kemenhut, Infrastruktur Diminta Lindungi Koridor Gajah
11 jam yang lalu
Pria Tewas di Kamar...
Pria Tewas di Kamar Hotel Mewah Kuningan Jaksel, Ada Luka Tembak
12 jam yang lalu
Infografis
Memanas, Pakistan Ancam...
Memanas, Pakistan Ancam Serang India dengan Senjata Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved