Nelayan Enggan Melaut

Sabtu, 01 November 2014 - 14:43 WIB
Nelayan Enggan Melaut
Nelayan Enggan Melaut
A A A
INDRAMAYU - Gelombang tinggi melanda perairan Indramayu dan sekitarnya membuat ribuan nelayan tradisional sulit melaut dalam dua pekan terakhir.

“Dalam dua pekan terakhir, ketinggian gelombang men capai sekitar tiga meter,nelayan khawatir saat melaut,” ujar Ketua Serikat Nelayan Tradisional (SNT) Kajidin.

Kajidin mengatakan, keting gian gelombang tersebut dapat mengancam keselamatan para nelayan. Pasalnya, kapal kecil milik mereka bisa terbalik karena tak kuat menahan gelombang setinggi itu.

Menurut Kajidin, para nelayan akhirnya lebih memilih untuk tidak melaut. Jika pun ada yang nekat melaut karena terdesak kebutuhan ekonomi, mereka hanya dapat melaut di pinggir perairan dengan hasil tangkapan yang sedikit.

“Itupun curi-curi waktu, saat lihat cuaca cerah, mereka berangkat. Tapi saat baru sebentar di perairan, gelombang tinggi tiba-tiba datang hingga mereka terpaksa balik lagi,” tutur Kajidin.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para nelayan tradisional terpaksa berhutang kepada juragan kapal maupun pemilik warung. Menurutnya, hutang itu akan mereka bayar setelah kembali melaut.

Namun, ada juga nelayan yang banting setir jadi tukang odong-odong atau tukang becak. Tak hanya itu, mereka juga meng gantungkan hidup dari peng hasilan istrinya yang berjualan.

Seorang nelayan asal Desa Singaraja, Kecamatan Indramayu, Khaerudin, mengaku, lebih memilih mengisi waktunya untuk memerbaiki jaring daripada melaut. Pasalnya, gelombang setinggi tiga meter di perairan dapat membuat perahunya terbalik. “Dari pada bahaya, lebih baik tidak melaut dulu,” kata Khaerudin.

Sementara itu, Ketua Kelompok Keselamatan Pelayaran Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Indramayu Koko Sudeswara mengungkapkan, angin musim barat saat ini memang mulai memengaruhi perairan Laut Jawa. Para nelayan, terutama yang mengguna kan perahu kecil, diminta mewaspadai gelombang tinggi akibat tiupan angin tersebut. ‘’Angin musim barat biasanya bertiup mulai Oktober sampai Maret,’’ ujar Koko.

Namun, saat ini masih dalam tahap musim peralihan, dari musim kemarau ke musim hujan. Karenanya, kondisi cuaca di laut terkadang menjadi tidak menentu.

Koko menyebutkan, kecepat an angin saat ini berada di kisaran 15-25 knot/jam di siang hari. Adapun pada malam hari, kecepatan angin bisa meningkat antara 20-35 knot/jam. “Kecepatan angin biasanya meningkat saat menjelang sore sampai malam hari,’’ kata Koko.

Tomi indra
(ars)
Berita Terkait
Ridwan Kamil, Gubernur...
Ridwan Kamil, Gubernur yang Inspiratif
Upaya Pelestarian Batik...
Upaya Pelestarian Batik Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat...
Gubernur Jawa Barat Tandatangani Kerja Sama Banjir dan Longsor
PR Besar, Ribuan Kilometer...
PR Besar, Ribuan Kilometer Jalan di Jabar Minim Fasilitas Lalu Lintas
Gubernur Jabar Serahkan...
Gubernur Jabar Serahkan Bantuan kepada Mahasiswa Papua
Investasi di Jabar Tertinggi,...
Investasi di Jabar Tertinggi, Kang Emil Kalahkan Anies, Khofifah, dan Ganjar
Berita Terkini
Dukung Perubahan Nama...
Dukung Perubahan Nama Provinsi Jawa Barat, PAN: Aspirasi Masyarakat Harus Dihormati
16 menit yang lalu
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 2 Kilometer Mengarah ke Hulu Kali Boyong
29 menit yang lalu
Prabowo dan Narendra...
Prabowo dan Narendra Modi Tiba di Prambanan Disambut Tari Klasik Rama Shinta
1 jam yang lalu
Oknum Polisi yang Siksa...
Oknum Polisi yang Siksa Istri Siri Pernah Disidang Etik
2 jam yang lalu
Bocah Perempuan di Bekasi...
Bocah Perempuan di Bekasi Tertembak Peluru Nyasar, Polisi Sita Proyektil
3 jam yang lalu
Aiptu N yang Siksa Istri...
Aiptu N yang Siksa Istri Siri Ternyata Positif Konsumsi Sabu
4 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved