Bermodal Rp3 Juta, Kini Omzet Rp20 Juta
Kamis, 30 Oktober 2014 - 13:32 WIB
Bermodal Rp3 Juta, Kini Omzet Rp20 Juta
A
A
A
YOGYAKARTA - Berawal dari keluarga yang sering menghabiskan waktu berkumpul bersama dan berkeinginan memulai bisnis sejak 2012 lalu, Panuwun Wahyu Nugroho bersama istri membulatkan tekad memulai bisnis sepatu batik.
Panuwun memilih bisnis sepatu batik karena sebelumnya pernah mencoba beberapa bisnis batik lainnya. Mulai dari bisnis baju hingga kain batik. Namun pangsa pasar bisnis tersebut tidak terlalu berkembang karena banyak pebisnis yang lebih dulu terjun ke usaha tersebut.
Akhirnya muncullah ide membuat sepatu batik, meski bukan bisnis baru, pangsa pasar sepatu batik terbilang masih luas. Panuwun berlasan karena belum banyak produsen yang membuat sepatu batik.
“Awal-awal menggeluti bisnis ini semua dijalankan saya dan istri. Karena masih belum punya pegawai. Pertama kali produksi sepatu kami masih memesan pada perajin sepatu.
“Untuk membuka pasar, diproduksi 20–30 pasang sepatu. Tidak disangka ternyata respons pasar cukup bagus. Mulai dari sini saya bertekad lebih serius dan mencari bahan baku sepatu berkualitas baik,” papar pemilik Sikaki Handmade Sepatu Batik, Panuwun, kemarin.
Setelah bisnis sepatu batik berjalan satu tahun, lanjut dia, barulah Panuwun menggunakan perajin sepatu sendiri. Saat ini ada 10 pegawai yang mengerjakan proses pembuatan sepatu batik handmade ini. Sedangkan showroom pembuatan sepatu batik ada di Perum Pemda DIY.
Untuk menyuplai kebutuhan pasar di Jakarta, pria satu putra ini mendirikan showroom di Tasikmalaya. Pilihan mendirikan di Tasikmalaya dibandingkan Jakarta agar lebih efisien dan dapat menekan biaya produksi.
Proses pembuatan sepatu batik dimulai dari membuat pola sepatu. Lalu dilanjutkan menempelkan bahan batik di sepatu yang telah dipola sebelumnya. Proses berikutnya, pengeleman kain pada sepatu batik karena semua proses pengerjaan dikerjakan handmade atau buatan tangan kecuali proses menempelkan sol pada sepatu yang dilakukan menggunakan mesin. Proses paling rumit yakni pengeleman.
Memberikan lem pada sepatu dibutuhkan ketelitian dan kesabaran. Selain itu, tangan perajin juga tidak boleh kotor, berminyak atau berkeringat karena akan menyebabkan proses pengeleman tidak maksimal. “Untuk harga sepatu batik terbilang variatif, harga Rp100.000- 400.000,” tuturnya.
Batik yang digunakan untuk membuat sepatu adalah batik tulis dan printing. Sol didatangkan khusus dari Medan, Sumut. Untuk sepatu heels tumpuan besi diambil dari Taiwan. Sepatu wedges hak yang digunakan menggunakan kayu yang dikeringkan seminggu agar ketika digunakan lebih ringan.
Dalam waktu satu bulan bisa produksi sepatu 200–300 pasang. Sedangkan heels dan wedges di bawah 100 pasang. Modal awal ketika memulai bisnis ini hanya Rp3–5 juta dan kini omzetnya Rp20 juta per bulan.
Suci, salah satu penggemar sepatu batik handmade memilih sepatu batik jenis wedges karena selain dapat digunakan untuk beberapa acara formal maupun nonformal, bahan sepatu wedges batik ini nyaman digunakan.
Windy Anggraina
Panuwun memilih bisnis sepatu batik karena sebelumnya pernah mencoba beberapa bisnis batik lainnya. Mulai dari bisnis baju hingga kain batik. Namun pangsa pasar bisnis tersebut tidak terlalu berkembang karena banyak pebisnis yang lebih dulu terjun ke usaha tersebut.
Akhirnya muncullah ide membuat sepatu batik, meski bukan bisnis baru, pangsa pasar sepatu batik terbilang masih luas. Panuwun berlasan karena belum banyak produsen yang membuat sepatu batik.
“Awal-awal menggeluti bisnis ini semua dijalankan saya dan istri. Karena masih belum punya pegawai. Pertama kali produksi sepatu kami masih memesan pada perajin sepatu.
“Untuk membuka pasar, diproduksi 20–30 pasang sepatu. Tidak disangka ternyata respons pasar cukup bagus. Mulai dari sini saya bertekad lebih serius dan mencari bahan baku sepatu berkualitas baik,” papar pemilik Sikaki Handmade Sepatu Batik, Panuwun, kemarin.
Setelah bisnis sepatu batik berjalan satu tahun, lanjut dia, barulah Panuwun menggunakan perajin sepatu sendiri. Saat ini ada 10 pegawai yang mengerjakan proses pembuatan sepatu batik handmade ini. Sedangkan showroom pembuatan sepatu batik ada di Perum Pemda DIY.
Untuk menyuplai kebutuhan pasar di Jakarta, pria satu putra ini mendirikan showroom di Tasikmalaya. Pilihan mendirikan di Tasikmalaya dibandingkan Jakarta agar lebih efisien dan dapat menekan biaya produksi.
Proses pembuatan sepatu batik dimulai dari membuat pola sepatu. Lalu dilanjutkan menempelkan bahan batik di sepatu yang telah dipola sebelumnya. Proses berikutnya, pengeleman kain pada sepatu batik karena semua proses pengerjaan dikerjakan handmade atau buatan tangan kecuali proses menempelkan sol pada sepatu yang dilakukan menggunakan mesin. Proses paling rumit yakni pengeleman.
Memberikan lem pada sepatu dibutuhkan ketelitian dan kesabaran. Selain itu, tangan perajin juga tidak boleh kotor, berminyak atau berkeringat karena akan menyebabkan proses pengeleman tidak maksimal. “Untuk harga sepatu batik terbilang variatif, harga Rp100.000- 400.000,” tuturnya.
Batik yang digunakan untuk membuat sepatu adalah batik tulis dan printing. Sol didatangkan khusus dari Medan, Sumut. Untuk sepatu heels tumpuan besi diambil dari Taiwan. Sepatu wedges hak yang digunakan menggunakan kayu yang dikeringkan seminggu agar ketika digunakan lebih ringan.
Dalam waktu satu bulan bisa produksi sepatu 200–300 pasang. Sedangkan heels dan wedges di bawah 100 pasang. Modal awal ketika memulai bisnis ini hanya Rp3–5 juta dan kini omzetnya Rp20 juta per bulan.
Suci, salah satu penggemar sepatu batik handmade memilih sepatu batik jenis wedges karena selain dapat digunakan untuk beberapa acara formal maupun nonformal, bahan sepatu wedges batik ini nyaman digunakan.
Windy Anggraina
(ftr)