Wujudkan Regenerasi Pembatik, Motif Lebih Modern

Senin, 27 Oktober 2014 - 18:11 WIB
Wujudkan Regenerasi...
Wujudkan Regenerasi Pembatik, Motif Lebih Modern
A A A
KULONPROGO - Penobatan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia, oleh Dewan Kerajinan Dunia (world Craft Council) harus menjadi cambuk bagi perkembangan industri batik di DIY. Agar batik tetap lestari dan tidak ketinggalan zaman, perlu adanya regenerasi pembatik. Motif batik juga harus mengikuti perkembangan zaman dan lebih modern.

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Aruman mengatakan, batik saat ini telah berkembang cukup pesat. Hal ini tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menjadikan batik kian dikenal di kancah internasional. Dalam perkembangannya, batik tidak hanya menggunakan motif tradisional semata. Namun telah maju dengan motif kontemporer baik dalam media kain maupun kayu.

Permasalahan yang ada, regenerasi pembatik muda masih cukup stagnan. Mereka ini masih sulit bersaing dengan pembatik yang sudah lama bergelut dengan industri batik. Sehingga perlu ada terobosan teknik dan tren batik yang lebih menyasar anak muda. "Perlu adanya regenerasi pembatik, agar ke depan batik tetap eksis dan terus berkembang," ucapnya di sela-sela work shop Desain Batik Postmodernisme dengan media Kayu dan Kain di Sembung Batik, Lendah, Kulonprogo, kemarin.

Workshop ini diikuti sekitar 30 peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar yang ada di DIY. Acara ini merupakan kerja sa ma antara Rumah kreatif Jogja (RKJ) dengan Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Dirjend Kebudayaan Kemendikbub RI.

Peserta diajak untuk mengenal bagaimana teknik membuat motif menggunakan komputer. Mereka juga melakukan praktik langsung di Sembung Batik untuk berkreasi dalam media kain. Sedangkan untuk media kayu dilaksanakan di Bantul."Kami kenalkan postmodern batik. Yaitu gaya batik dengan tradisional canting atau cap yang di-kombinasikan dengan kuas. Hasilnya juga cukup bagus," ujarnya.

Salah seorang peserta, Ika Yeni Saraswati mengaku senang bisa ikut terlibat langsung dalam proses pembuatan batik. Minimal dia paham dengan tahapan dan proses membatik. Ilmu ini dirasakan cukup penting dan akan ditularkan kepada teman-temannya.

Menurutnya, pengakuan batik sebagai warisan budaya oleh UNESCO harus diikuti dengan kiprah nyata generasi muda. Toh membatik tidak kaku dengan canting dan motif yang sudah ada. Namun bisa menggunakan kuas dengan motif sesuai kreasi. "Batik bisa menjadi media untuk berekspresi, motif sesuka kita," ujarnya.

Kuntadi
(bbg)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Kemenkes Tunggak 80%...
Kemenkes Tunggak 80% Pembayaran Penanganan COVID-19 ke RSUD Yogya
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
3 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
3 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
3 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
4 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
5 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
7 jam yang lalu
Infografis
5 Madrasah Tertua di...
5 Madrasah Tertua di Indonesia, Pelopor Pendidikan Islam Modern
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved