Perang Kusamba Memakan Korban Jenderal Belanda

Sabtu, 18 Oktober 2014 - 05:03 WIB
Perang Kusamba Memakan...
Perang Kusamba Memakan Korban Jenderal Belanda
A A A
PERANG Kusamba yang terjadi 24-25 Mei 1849, menjadi salah satu peristiwa heroik pada masa Kerajaan Klungkung. Seperti apa ceritanya?

Kerajaan Klungkung adalah kerajaan besar di Bali. Beberapa kali terjadi perang yang melibatkan kerajaan itu, salah satunya Perang Kusamba. Selain Perang Kusamba, ada pula peristiwa perlawanan terhadap intervensi Belanda yang dikenal dengan Puputan Klungkung, pada 28 April 1908.

Kali ini, Cerita Pagi khusus membahas Perang Kusamba. Kusamba adalah sebuah desa di timur Semarapura, yang hingga abad ke-18 lebih dikenal sebagai sebuah pelabuhan penting Kerajaan Klungkung.

Desa yang penuh ilalang (kusa=ilalang) itu baru tampil ke panggung sejarah perpolitikan Bali ketika Raja I Dewa Agung Putra membangun sebuah istana di desa yang terletak di pesisir pantai itu. Tak cuma itu, I Dewa Agung Putra bahkan menjalankan pemerintahan dari istana yang kemudian diberi nama Kusanegara itu.

Praktis, Kusamba menjadi pusat pemerintahan kedua Kerajaan Klungkung. Pemindahan pusat pemerintahan ini turut mendorong kemajuan Kusamba sebagai pelabuhan yang kala itu setara dengan pelabuhan kerajaan lainnya di Bali seperti Kuta.

Kepada Tim Cerita Pagi, Kepala Seksi Edukasi dan Reparasi Museum Bali Dewa Putu Ardana bercerita, eksistensi Kusamba makin melambung manakala ketegangan politik makin menghebat antara Dewa Agung Istri Kanya selaku penguasa Klungkung yang berseteru dengan Belanda di pertengahan abad ke-19.

Dikutip dari Wikipedia, Perang Kusamba berawal dari terdamparnya dua skoner (perahu) milik G.P. King, seorang agen Belanda yang berkedudukan di Ampenan, Lombok, di Pelabuhan Batulahak, di sekitar daerah Pesinggahan. Kapal tersebut dirampas oleh penduduk Pesinggahan dan Dawan.

Raja Klungkung pun menganggap kehadiran kapal yang awaknya sebagian besar orang-orang Sasak itu sebagai pengacau, sehingga langsung memerintahkan untuk membunuhnya.

Oleh Mads Lange, seorang pengusaha asal Denmark yang tinggal di Kuta yang juga menjadi agen Belanda, kejadian itu dilaporkan kepada wakil Belanda di Besuki. Kontan saja Residen Belanda di Besuki memprotes keras tindakan Klungkung dan menganggapnya sebagai pelanggaran atas perjanjian 24 Mei 1843 tentang penghapusan hukum Tawan Karang.

Kegeraman Belanda bertambah dengan sikap Klungkung membantu Buleleng dalam Perang Jagaraga, April 1849. Karenanya, timbullah keinginan Belanda untuk menyerang Klungkung.

Maka, ekspedisi Belanda yang baru saja menghadapi Buleleng dalam Perang Jagaraga, langsung dikerahkan ke Padang Cove (sekarang Padang Bai) untuk menyerang Klungkung. 24 Mei 1849 dipilih sebagai hari penyerangan.

Pasukan Belanda didukung sekitar 790 serdadu darat dan laut. Ditambah pasukan pembantu atau kuli-kuli pengangkut dari Madura, jumlah seluruh pasukan hampir 1.200 orang.

Ternyata, rencana Belanda menyerang Klungkung diketahui Kerajaan Klungkung. Untuk mengantisipasinya, pertahanan di Pura Goa Lawah diperkuat, di bawah pimpinan Dewa Agung Istri Kanya, Anak Agung Ketut Agung, dan Anak Agung Made Sangging. Mereka memutuskan mempertahankan Klungkung di Pura Goa Lawah dan Puri Kusanegara di Kusamba.

Perang pun pecah di Pura Goa Lawah. Karena jumlah pasukan dan persenjatan yang tidak berimbang, Laskar Klungkung dipukul mundur ke Kusamba. Di desa pelabuhan ini, Laskar Klungkung tak berkutik. Sore hari itu juga, Kusamba jatuh ke tangan Belanda.

Laskar Klungkung mundur ke arah barat. Mereka membakar desa-desa yang berbatasan dengan Kusamba untuk mencegah serbuan tentara Belanda ke Puri Klungkung.

Dewa Agung Istri Kanya marah besar atas jatuhnya Kusamba ke tangan Belanda. Tanpa buang waktu, malam itu juga dia menyusun strategi untuk merebut kembali Kusamba. Akhirnya, diambillah keputusan untuk menyerang Kusamba pada 25 Mei 1849 dini hari.

Kala itu, tentara Belanda membangun perkemahan di Puri Kusamba. Mereka tampak kelelahan setelah berhasil memukul mundur Laskar Klungkung. Kondisi itu dimanfaatkan oleh Dewa Agung Istri Kanya.

Sekitar pukul 03.00 WITA, dipimpin Anak Agung Ketut Agung, sikep dan pemating Klungkung menyergap tentara Belanda yang tengah beristirahat di Kusamba. Diserang secara tiba-tiba dan dalam kondisi lelah, tentara Belanda kalang kabut. Apalagi, kondisi saat itu gelap. Parahnya lagi, mereka tidak mengetahui keadaan di Puri Kusamba. Bisa ditebak, tentara Belanda kelabakan.

Di tengah kondisi kacau tersebut, Jenderal AV Michiels berdiri di depan puri. Untuk mengetahui keadaan, tentara Belanda menembakkan peluru cahaya ke udara. Seketika, kondisi gelap di sana berubah menjadi terang benderang. Keadaan tersebut dimanfaatkan laskar pemating Klungkung untuk mendekati Jenderal Michiels.

Sebuah meriam canon yang dalam mitos Klungkung dianggap sebagai senjata pusaka dengan nama I Selisik, ditembakkan. Senjata yang disebut-sebut bisa mencari sasarannya sendiri,itu langsung mengenai kaki kanan Michiels. Saat itu juga, sang jenderal terjungkal. Sebagian tubuhnya berlumuran darah.

Mengetahui sang jenderal terjungkal, tentara Belanda mundur ke Padang Bai. Jenderal Michiels yang sempat hendak diamputasi kakinya, akhirnya meninggal sekitar pukul 23.00 WITA.

Dua hari berikutnya, jasadnya dikirim ke Batavia. Selain Michiels, Kapten H Everste dan tujuh orang tentara Belanda juga dilaporkan tewas. Sebanyak 29 tentara Belanda mengalami luka-luka.

Sementara, Kerajaan Klungkung kehilangan sekitar 800 Laskar Klungkung, ditambah 1.000 orang luka-luka. Meski demikian, Perang Kusamba menjadi kemenangan gemilang karena berhasil membunuh seorang jenderal Belanda. Sangat jarang terjadi Belanda kehilangan panglima perangnya. Apalagi, Michiels tercatat sudah memenangkan perang di tujuh daerah.

Meski akhirnya pada 10 Juni 1849 Kusamba jatuh kembali ke tangan Belanda dalam serangan kedua yang dipimpin Lektol Van Swieten, Perang Kusamba merupakan prestasi yang tak bisa diabaikan. Tak hanya kematian Jenderal Michiels, Perang Kusamba juga menunjukkan kematangan strategi serta sikap hidup pejuang Klungkung.

*Sumber: Wikipedia, www.balisaja.com, dan sumber lainnya.
(zik)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
Kapolda Riau Namai Anak...
Kapolda Riau Namai Anak Gajah Tesso Nilo Nona Seroja, Simbol Harapan Baru Konservasi
1 jam yang lalu
Pramono Buka Peluang...
Pramono Buka Peluang Tambah Golongan Penerima Tarif Gratis Transportasi Umum
1 jam yang lalu
Polres Jakpus Ungkap...
Polres Jakpus Ungkap Kasus Dugaan Pemerasan Pengusaha Muda
1 jam yang lalu
Enggan Bebani Daerah...
Enggan Bebani Daerah Penyangga soal Subsidi Transjabodetabek, Pramono: Minimal Renovasi Halte
1 jam yang lalu
Bogor Kian Gemilang!...
Bogor Kian Gemilang! Pemkab Bogor Sukses Pertahankan Opini WTP dari BPK RI
2 jam yang lalu
Gempa M5,4 Guncang Sangihe...
Gempa M5,4 Guncang Sangihe Sulut Pagi Ini, Tidak Berpotensi Tsunami
5 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved