Kekeringan di Bantul, Ribuan Orang Kesulitan Air Bersih
Jum'at, 29 Agustus 2014 - 08:44 WIB
Kekeringan di Bantul, Ribuan Orang Kesulitan Air Bersih
A
A
A
BANTUL - Ribuan orang dari beberapa wilayah di Kabupaten Bantul terus merasakan dampak kekeringan. Akibatnya, ribuan orang dari belasan RT harus bergantung dari dropping (pengedropan) air dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Dampak kekeringan itu dialami warga di daerah Dusun Kaligatuk, Sambiroto dan Ngalas Gede, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan. Mereka mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Pasokan dari mata air di Dusun Pandean, Desa Srimulyo, kini kondisinya banyak menyusut sehingga tak mampu memenuhi seluruh kebutuhan air bersih mereka.
Parsiyah, Kepala Sekolah SD Kaligatuk mengungkapkan, pasokan air dari mata air Dusun Pandean melalui pipa-pipa plastik kini hampir tidak ada lagi. Sementara, untuk mengambil air bersih dari sumber lain jaraknya cukup jauh, bisa mencapai tiga kilometer.
Akibatnya, warga kesulitan mendapatkan air bersih. "Kami sangat menggantungkan kebutuhan air bersih dari dropping air," ujarnya.
Bagi kalangan yang mampu, untuk mencukupi kebutuhan air bersihnya dengan membeli air dari pihak swasta. Selama dua bulan terakhir, warga yang mampu sudah membeli air dengan harga rata-rata satu tangki air sekitar Rp100 ribu, sedikit lebih murah dari tempat lain karena jarak lokasi mereka dari tempat mengambil air hanya 7 km.
Karena sekolah merupakan instansi pemerintah, kebutuhan air bersihnya memang dipenuhi dari dropping air. Jika tidak mencukupi, tak jarang ada siswa yang membawa air dari rumah dengan cara dimasukkan ke dalam botol. "Ya untuk sekadar membersihkan ketika buang air," jelasnya.
Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengakui masih terus melakukan dropping air untuk mengatasi dampak kekeringan. Tiga wilayah yang terus mendapatkan pasokan air bersih di antaranya di Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan; Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri; dan Desa Gunting, Kecamatan Pandak.
Karena keterbatasan armada, pihaknya hanya mampu mengirim per hari lima tangki air bersih. "Kalau meluas ndak, tapi dropping air terus kami lakukan," ujarnya.
Meski tidak tahu pasti jumlah Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan kebutuhan air bersihnya dari dropping pemerintah, di Srimulyo misalnya ada lima RT yang terus mendapatkan pasokan air bersih. Sementara di Imogiri ada sekitar enam RT. Di dua wilayah tersebut, dia memperkirakan jumlahnya mencapai ribuan jiwa.
Dampak kekeringan itu dialami warga di daerah Dusun Kaligatuk, Sambiroto dan Ngalas Gede, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan. Mereka mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Pasokan dari mata air di Dusun Pandean, Desa Srimulyo, kini kondisinya banyak menyusut sehingga tak mampu memenuhi seluruh kebutuhan air bersih mereka.
Parsiyah, Kepala Sekolah SD Kaligatuk mengungkapkan, pasokan air dari mata air Dusun Pandean melalui pipa-pipa plastik kini hampir tidak ada lagi. Sementara, untuk mengambil air bersih dari sumber lain jaraknya cukup jauh, bisa mencapai tiga kilometer.
Akibatnya, warga kesulitan mendapatkan air bersih. "Kami sangat menggantungkan kebutuhan air bersih dari dropping air," ujarnya.
Bagi kalangan yang mampu, untuk mencukupi kebutuhan air bersihnya dengan membeli air dari pihak swasta. Selama dua bulan terakhir, warga yang mampu sudah membeli air dengan harga rata-rata satu tangki air sekitar Rp100 ribu, sedikit lebih murah dari tempat lain karena jarak lokasi mereka dari tempat mengambil air hanya 7 km.
Karena sekolah merupakan instansi pemerintah, kebutuhan air bersihnya memang dipenuhi dari dropping air. Jika tidak mencukupi, tak jarang ada siswa yang membawa air dari rumah dengan cara dimasukkan ke dalam botol. "Ya untuk sekadar membersihkan ketika buang air," jelasnya.
Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto mengakui masih terus melakukan dropping air untuk mengatasi dampak kekeringan. Tiga wilayah yang terus mendapatkan pasokan air bersih di antaranya di Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan; Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri; dan Desa Gunting, Kecamatan Pandak.
Karena keterbatasan armada, pihaknya hanya mampu mengirim per hari lima tangki air bersih. "Kalau meluas ndak, tapi dropping air terus kami lakukan," ujarnya.
Meski tidak tahu pasti jumlah Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan kebutuhan air bersihnya dari dropping pemerintah, di Srimulyo misalnya ada lima RT yang terus mendapatkan pasokan air bersih. Sementara di Imogiri ada sekitar enam RT. Di dua wilayah tersebut, dia memperkirakan jumlahnya mencapai ribuan jiwa.
(zik)