Hasil Autopsi, Orangutan TSTJ Mati karena Sakit

Rabu, 27 Agustus 2014 - 16:42 WIB
Hasil Autopsi, Orangutan...
Hasil Autopsi, Orangutan TSTJ Mati karena Sakit
A A A
SOLO - Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) merilis hasil autopsi orangutan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang mati beberapa waktu lalu. Dari hasil autopsi, orangutan TSTJ itu mati karena sakit.

Direktur TSTJ Lilik Kristianto mengatakan, hasil autopsi itu diberikan kepada TSTJ beberapa hari lalu oleh tim yang menangani pemeriksaan kematian Kirno dan juga Peby, dua orangutan yang mati beberapa bulan lalu.

Dari hasil autopsi itu, kematian Peby karena radang usus yang disebabkan oleh bakteri. Radang tersebut memicu pembusukan yang terjadi pada tubuh Peby, sehingga akhirnya Peby tewas akibat bakteri itu terus menggerogoti tubuhnya. Ia menyebutkan, bakteri itu kemungkinan didapatkan oleh Peby, sebelum ditempatkan di TSTJ. Apalagi, sebelum dipindahkan di TSTJ, Peby tersebut dipelihara di rumah penduduk.

"Hasil autopsinya hampir sama dengan diagnosa yang dikeluarkan oleh dokter hewan kami sesaat setelah kematian Peby," ucapnya, Rabu (27/8/2014).

Sementara, orangutan bernama Kirno mati secara mendadak mati karena menderita penyakit jantung. Menurutnya, hal itu diketahui setelah pemeriksaan secara menyeluruh yang dilakukan oleh tim UGM. Meskipun menderita penyakit jantung, tidak diketahui kapan jantung Kirno itu mulai sakit. Dirinya tidak bisa melakukan pemeriksaan saat hewan itu masih dipelihara di TSTJ.

"Kita tidak bisa melakukan pemeriksaan, kami juga tidak tahu apakah sakitnya selama kami rawat atau sebelumnya saat masih dirawat oleh warga. Karena Kirno dahulunya sitaan dari warga," imbuh Lilik.

Selain memberikan dua hasil autopsi itu, pihak UGM juga memberikan rekomendasi agar TSTJ memperhatikan kebersihan air yang ada di danau TSTJ. Menurutnya, kualitas air danau itu lebih ditingkatkan demi kesehatan satwa yang menghuni. Apalagi, sumber air TSTJ tersebut sangat dekat dengan tempat pembuangan sampah.

Sementara itu, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo meminta kepada pengelola untuk lebih memperhatikan hewan yang masih tersisa. Phaknya meminta jangan sampai kasus matinya hewan secara mendadak di taman satwa terbesar di Kota Solo itu kembali terulang.
(zik)
Berita Terkait
3 Penjual Satwa Dilindungi...
3 Penjual Satwa Dilindungi Dibekuk, Polisi Amankan Trenggiling dan Burung Langka
Banyak Spesies Indonesia...
Banyak Spesies Indonesia Terancam Punah: Bagaimana Cara Menyelamatkannya?
Hewan Dilindungi Elang...
Hewan Dilindungi Elang Bido Diselamatkan Komunitas Pecinta Rimba dan Satwa Liar
Duyung Viral di Pangkalpinang...
Duyung Viral di Pangkalpinang Ditemukan Mati, Dievakuasi ke Alobi
Polisi Tangkap 2 Penjual...
Polisi Tangkap 2 Penjual Satwa Dilindungi di Medan, 4 Lutung Sumatera dan 2 Kukang Disita
1.000 Satwa yang Diawetkan...
1.000 Satwa yang Diawetkan Disita Polisi Spanyol, Koleksi Spesies Langka Ini Bernilai Rp460 Miliar
Berita Terkini
Kaesang Ungkap Dewan...
Kaesang Ungkap Dewan Pembina PSI Mulai Turun ke Daerah Akhir Juni
41 menit yang lalu
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
8 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
8 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
8 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
9 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
10 jam yang lalu
Infografis
15 Perang yang Melibatkan...
15 Perang yang Melibatkan Tentara AS, Pernah Kalah karena 60.000 Pasukan Tewas Sia-sia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved